Bung Ade, Di bawah ini saya paste tanggapan saya di tahun 2004 di milis Indonesians di kota saya sekarang, atas tulisan Anda menyangkut perusakan gereja di Ciledug.
Bukan hendak membahas ulang tulisan Anda, namun email saya tersebut masih relevan menanggapi poin Anda soal keragaman Kristen di Indonesia dan kristenisasi. Salam, Ida Khouw Re: [leideners2003] Re: religion vs. state ida khouw <[EMAIL PROTECTED]> wrote: ini wilayah paling panas dari hubungan islam-kristen: banyak2an penganut buat saya pribadi, dakwah (kristen? atau gak usah pake label kristen pak suryadi??) yang ideal itu seperti yang dilakukan ibu theresa di india, romo mangun di kali code, romo sandyawan dengan proyek anak jalanannya... kalau ada dari mereka2 yang dilayaninya ingin mengikuti agama para tokoh itu, itu urusan laen dan diskusi laen lagi, dan saya yakin bukan itu maksud mereka. (mas farid yang kenal dengan romo mangun pasti lebih tahu ceritanya) saya rasa dakwah dalam kristen (juga mungkin di agama lain) terus mengalami reinterpretasi sesuai konteksnya (kita kan gak hidup di masa kitab2 islam-kristen ditulis: konteks masyarakat padang gurun timur tengah). jadi memang ada masa dimana dakwah = memperbanyak penganut (?), dan untuk kelompok orang tertentu paham ini terus dianut sampai sekarang. padahal banyak yang berpendapat bahwa dakwah sekarang itu adalah upaya memanusiakan manusia. jadi saya setuju yang dikatakan ade armando: ada praktek2 tidak etis. tapi ade baru memperlihatkan satu sisi dari banyak sisi masalah hubungan 2 agama ini (kelakar seorang teman: soal sibling's rivalry) dengan pengetahuan terbatas, saya coba urun rembuk memperlihatkan sisi lainnya. semoga dipahami dulu: - bahwa dakwah kristen tidak berarti kristenisasi (setidaknya menurut mainstream). menurut kalangan ini, seseorang menjadi kristen/tidak bukanlah hasil kerja manusia. di kalangan ini sudah berkembang praktek kerja kemanusiaan tanpa bawa simbol agama (tapi tetap saja dicurigai sebagai upaya kristenisasi, beberapa bahkan konsekuensinya menghadapi kekerasan fisik) - aliran kristen demikian banyaknya, dengan demikian pemahaman dakwah pun beragam. ade armando berkata dia tak percaya mayoritas umat islam indonesia tidak menganut cara pandang agama yang sempit, yang butuh pencerahan penafsiran agama. menurut saya seharusnya dia juga terbuka (seperti kejujuran mas farid bahwa memang [di masing2 agama- tambahan dari saya] "diajarkan" untuk saling benci) pada kenyataan bahwa (mungkin) sebenarnya kebencian adalah salah satu masalahnya. saya sudah mendengar banyak kasus dimana kecurigaan adanya kristenisasi sedemikian sehingga segala bentuk kegiatan kemanusiaan yang tanpa bawa simbol agama pun jadi korbannya, kadang yang menolak itu bukan orang2 yang membutuhkan bantuan, tapi aparat atau tokoh2 agama setempat yang tingkat curiganya tinggi (lagi2 yang korban benerannya kan orang miskin!). saya agak bingung mengenai sebab musabab perusakan gereja ciledug, uday mashudi (yang terlibat dalam proses mediasi) merujuk pada kurangnya komunikasi pihak gereja dengan masyarakat, tapi ade armando menulis alasan para penyerang: YST telah melakukan upaya Kristenisasi yang meresahkan penduduk setempat. jadi yst itu "tidak melakukan komunikasi" atau "terlalu berkomunikasi" sampai harus dirusak? entah mana yang benar. tapi gereja (yang mencoba berdakwah dengan paham yang "benar") sering berada di posisi serba salah. satu sisi dituntut utk lebih berperan/berkomunikasi dengan masyarakat, sisi lain ketika menjalankannya, kecurigaan melakukan praktek kristenisasi sangat kental, pun ketika simbol agama ditiadakan. (jadi musti pigimane dong??). btw, baru terbit buku: "sejarah perjumpaan islam-kristen" (demikian kira2 judulnya) penulisnya seorang pendeta: jan aritonang, dikomentari oleh azyumardi azra. saya sudah lihat di rak buku kitlv. I. Robohnya Gereja Ciledug Oleh : Ade Armando Salah satu tantangan yang harus dihadapi pemerintahan baru adalah hubungan antarumat beragama. Saya mendengar kabar pekan lalu sebuah gereja yang sudah berusia sembilan tahun di Ciledug, Tangerang, dihancurkan massa. Mereka yang menyerang menamakan diri Laskar Pembela Islam. Gereja milik Yayasan Sang Timur (YST) itu dirobohkan dan dibakar di depan para suster dan jemaat yang akan mengikuti misa pagi. Pihak gereja dan yayasan dipaksa menandatangani pernyataan bahwa di tempat itu tak akan ada lagi aktivitas peribadatan. Alasan para penyerang: YST telah melakukan upaya Kristenisasi yang meresahkan penduduk setempat. Kristenisasi, sebagaimana Islamisasi, adalah masalah serius. Baik umat Kristen maupun Islam merasa memiliki kewajiban untuk menyebarkan jalan kebenaran. Dalam konteks ini, penghalangan atas penyebaran agama justru dipandang sebagai kejahatan. Dalam sejarah Islam yang panjang, ada banyak cerita bahwa umat Islam terpaksa menghunus pedang bukan untuk memaksa orang berpindah agama melainkan karena dihalang- halangi tatkala hendak menyebarkan kebenaran Islam. Konsekuensi logis dari sikap itu adalah bahwa umat Islam juga seharusnya menghormati pihak lain yang hendak menyebarkan kebenaran dalam versi mereka. Lagi-lagi sejarah Islam menunjukkan betapa banyak penguasa Islam yang mengizinkan atau bahkan melindungi rumah peribadatan agama lain berdiri megah. Kalaupun di Arab Saudi misalnya tak ada gereja, itu karena sikap khas negara itu dan bukan merupakan cerminan umum sikap umat Islam di seluruh dunia, di sepanjang waktu. Jadi, apakah sebaiknya kita marah dengan kasus Ciledug? Petama-tama, tentu saja aksi-aksi semacam itu harus ditolak. Namun, mengingat ini merupakan kasus yang berulang, akan lebih baik bila kita berusaha memahami mengapa ada kemarahan yang begitu besar. Bukan untuk memberi pembenaran, melainkan untuk menemukan cara untuk menekan serendah mungkin hasrat menghancurkan itu. Di satu sisi, sumber kemarahan itu bisa saja adalah corak pemahaman agama yang sempit. Sebagian umat Islam memang percaya bahwa berpindah agama adalah bentuk kemurtadan yang bisa diganjar dengan hukuman mati. Karena itu, setiap upaya untuk mempengaruhi orang Islam meninggalkan agamanya dianggap sebagai sebuah kejahatan. Konsekuensi logisnya: Kristenisasi sama sekali tidak bisa ditoleransi. Bila ini sumbernya, penghancuran demi penghancuran tak akan bisa dicegah. Kalau ini yang jadi masalah, solusi utamanya cuma satu: pencerahan penafsiran agama. Tapi saya percaya, bukan itu yang terutama merupakan sumber kemarahan. Saya percaya, mayoritas umat Islam di negara ini tak menganut cara pandang semacam itu. Yang jadi soal, metode penyebaran agama yang dilakukan sebagian organisasi Kristen pun tampak sangat berpotensi menyulut kegeraman. Bahkan, kalangan Islam moderat pun kerap marah. Salah satu cara yang paling terasa tidak etis adalah dengan memanfaatkan kemiskinan penduduk. Kalau gereja membantu ekonomi masyarakat setempat tanpa ada tambahan bujuk-rayu atau bahkan persyaratan tertentu, mungkin masalahnya akan jauh lebih sederhana. Begitu pula dengan pendidikan. Sikap banyak kelompok dan tokoh Kristen dalam menyikapi RUU Pendidikan tahun lalu misalnya memperkuat kecurigaan orang bahwa dalam tujuan pendidikan yang diselenggarakan lembaga-lembaga Kristen/Katolik yang seharusnya mulia tersebut terdapat muatan kental Kristenisasi. Bayangkan, para penentang itu terutama menyerang habis ketentuan dalam RUU yang sekadar mewajibkan anak didik memperoleh pendidikan agama yang sesuai dengan agamanya masing-masing. Jadi, marilah kita berharap tak akan ada lagi gereja dibakar atau dirobohkan. Untuk itu, kita harus mendorong presiden baru dan pemerintah baru menempatkan isu tersebut sebagai salah satu prioritas utama. Dan kita bersama-sama terlibat di dalamnya.
