MOD: Jeung Martha, ini sumbernya dari mana?
MARTHA Inilah wajah negeri tercinta kita Indonesia. Penuh bopeng yang sekarang bisa dilihat jelas orang luar seluruh dunia. MENGERIKAN SEKALIGUS MEMALUKAN. duh pengen banget ngemplangi kepala pejabat indo semuanya. Kecelakaan AdamAir Keluarga Jackson di AS Masih Berharap Ada Keajaiban Dari 96 nama penumpang pesawat Adam Air yang hilang dalam penerbangan dari Surabaya menuju Manado pada Senin (1/1), ada tiga warga Oregon, Amerika Serikat (AS). Mereka adalah Scott Jackson (54) dan dua putrinya yakni Stephanie Jackson (21) dan Lindsey Jackson (18). Scott Jackson adalah Presiden Direktur PT Fendi Mungil, sebuah perusahaan manufaktur di Indonesia yang membuat furniture dari rotan. Scott Jackson tinggal paruh waktu di Indonesia dan Brasil. Harian The Oregonian melaporkan, Jumat (5/1), Scott Jackson memiliki empat anak dari hasil perkawinannya dengan Felice Jackson DuBois. Scott Jackson dan DuBois sudah bercerai. Kedua putri Jackson yang ikut dalam pesawat Adam Air sedang belajar di Universitas Oregon, Amerika Serikat. Sedangkan dua lainnya yakni Greg Jackson (20) dan Brian Jackson (18), kembaran dari Lindsey, tinggal bersama ibunya di Oregon. Kedua putranya juga ikut dalam rombongan itu, tapi memilih cepat kembali ke AS sepekan sebelumnya. Berita kecelakaan Adam Air baru diketahui setelah mendapat informasi dari Kedutaan Besar AS di Jakarta. DuBois tidak percaya dan memutuskan untuk datang sendiri ke Surabaya. Tapi Kedutaan Besar AS di Jakarta meminta dia untuk tidak datang karena berbagai alasan. Ia pun pasrah dan membatalkan rencana terbang ke Surabaya untuk ikut mencari keluarganya yang hilang. Walau tidak diizinkan pergi, Dubois berharap ada kabar baik dari akhir cerita pencarian pesawat nahas itu. Ia mengakui mengalami kesulitan mendapatkan informasi dari Indonesia tentang perkembangan pencarian Adam Air, karena perbedaan waktu yang terlalu besar. Tapi seluruh anggota keluarga tetap berusaha mencari tahu informasi tentang perkembangan pesawat tersebut dengan berbagai cara, termasuk terus berkontak dengan Kedubes AS di Jakarta. Kejar Setoran Berita hilangnya pesawat Adam Air telah mendunia, termasuk borok- borok seluruh sistem penerbangan di Indonesia terkuak jelas. CNN, Jumat, misalnya, menurunkan tulisan yang mengatakan, sistem penerbangan di Indonesia berkembang sangat cepat, termasuk menawarkan harga yang murah, tapi menimbulkan kecemasan dalam hal keselamatan, karena sistem pemeliharaan pesawat yang sangat buruk. Ini baru satu sisi dari kecemasan akan sistem penerbangan di Indonesia. Radio Nederland, Selasa (2/1), menurunkan tulisan yang mengupas "Mental Kejar Setoran" dari semua angkutan umum di Indonesia. Dalam lima hari, Indonesia dirundung tiga musibah besar angkutan umum. Tanggal 28 Desember 2006, sebuah kapal penyeberangan di Pulau Sumatera terbalik. Kemudian Sabtu, 30 Desember 2006, giliran kapal penyeberangan Semarang-Kumai tenggelam di Laut Jawa. Terakhir pesawat Adam Air dinyatakan hilang di wilayah udara Sulawesi. "Itu semua musibah yang terwarta harian besar nasional. Bagaimana yang tidak. Pada pekan yang sama juga terjadi peristiwa anjloknya kereta api, tabrakan bus umum dan lain sebagainya. Kejadian kecil angkutan umum di Indonesia tak dilirik lagi, karena peristiwa itu dipandang biasa sekalipun juga memakan korban," lapor radio tersebut. Membaca laporan media asing seperti itu, membuat hati miris. Mengapa negara sebesar Indonesia ini tidak mampu mengelola sebuah sistem transportasi yang baik dan aman? Apa yang salah dari negara ini? Suatu kali, tulis Radio Nederland, salah seorang wartawannya sedang menjalankan tugas jurnalistik di Palu, Sulawesi Tengah. Pesawat yang ditumpanginya tiba-tiba menukik tajam ke atas karena gagal mendarat. Cuaca sangat buruk. Upaya pendaratan kemudian dilakukan lagi, dengan terbang sangat rendah dan syukurlah berhasil mendarat dengan aman. Ketika sudah mendarat, wartawan itu bertanya kepada awak pesawat, mengapa tidak memilih kembali ke Makassar saja dari pada harus bertaruh nyawa mendaratkan pesawat. Si awak pesawat menjawab , "Wah tak mungkin pak, itu sudah kebijakan atasan bahwa kita harus mendarat." Kejar target mendarat alias kejar setoran ini, memang lumrah di Indonesia. Nekat Peristiwa lainnya, tulis media asing itu, di Pontianak. Waktu itu pesawat yang akan ditumpangi tak kunjung datang. Alasannya adalah asap tebal yang menggenangi Bandara Supadio. Tapi anehnya ada pesawat lain yang mendarat dan lepas landas dengan enaknya. Wartawan itu pun bertanya mengapa pesawat yang akan ditumpangi tak berani mendarat. Awak darat maskapai penerbangan nasional itu lalu berujar bahwa mereka tidak mau ambil resiko seperti maskapai lain. "Pilot-pilot pesawat lain nekat-nekat pak, mereka berani mendarat walaupun nggak bisa ngelihat," ujarnya pendek. Dua kisah di atas hanya sepenggal dari begitu banyaknya cerita carut- marut sistem angkutan umum di Indonesia. Belum lagi masalah identitas penumpang. Hampir semua penerbangan domestik tidak meminta penumpang menulis nama lengkap atau menunjukkan identitas lengkap saat berangkat. Akibatnya, ketika terjadi kecelakaan, orang kesulitan mengidentifikasi korban. Pertanyaan kita saat ini, dimana posisi pemerintah? Pemerintah mau tidak mau harus jadi pihak yang paling bertanggung jawab dalam peristiwa tragis seperti hilangnya Adam Air. Karena di tangan pemerintah-lah tugas mengajar warganya untuk menjadi pengguna angkutan umum yang baik. Di tangan pemerintah-lah penegakan hukum untuk keamanan angkutan umum. Di tangan pemerintah- lah peraturan persaingan antar perusahaan angkutan umum perlu diperhatikan. Sayangnya, Pemerintah Indonesia terkesan membiarkan hal ini berlangsung, dan bereaksi ketika ada korban. [L-8]
