Kolom IBRAHIM ISA
----------------------------
Stockholm, 08 Januari 2007

'PERPISAHAN'  dan  PERTEMUAN   di STOCKHOLM

<Sekitar UPACARA ' PERPISAHAN'  Dng Zus ENDANG >

Dua pengertian yang saling bertentangan dari kata-kata, seperti pada 
kata  'siang' dan 'malam' ,  'pagi' dan 'sore', 'panas' 
dan 'dingin' , 'kaya' dan 'miskin', dsb  - - -  adalah dua 
pengertian, dua kata, yang saling bertentangan tetapi juga saling 
berkaitan. Jarang orang berfikir tentang 'siang' hari, tanpa di 
dalam ingatannya tersimpan pengertian dan memori mengenai 'malam' 
hari yang akan menyusul  pada hari itu juga. 

Idem dito dengan pengertian mengenai  kata 'Perpisahan' 
dan 'Pertemuan'  seperti yang digunakan untuk judul tulisan ini. Dua 
kata yang saling bertentangan namun sekaligus saling berkaitan. 

*    *    *

Stockholm, 05 Januari 2007, adalah  suatu ketika  dikala rasa  sedih 
dan duka memenuhi  rongga dada.  Saat-saat  itu  dinyatakan  rasa 
turut berbelasungkawa  dengan keluarga  yang ditinggalkan,   serta  
harapan untuk tabah menghadapi musibah ini kepada  putranda  Danar,  
Nani, dan Thomas; --  putranda  Danur, Vlami dan  Nunung; --   
beserta anggota keluarga lainnya. 

Namun, saat-saat itu juga   merupakan hari-hari  yang penuh kenangan 
tentang  Zus Endang,  bagi banyak orang yang mengenal  Zus Endang, 
sapaan akrab mendiang Setiati Surasto. Beliau  meninggal dunia  di 
Stockholm pada tanggal 30 November 2006,  pada usia 86th.  Kemudian  
diperabukan pada tanggal 05  Januari 2007 di Stockholm. 

Pada hari Jum'at itu keluarga  Setia Surasto  beserta kami yang 
mengenal Zus Endang mengadakan  'pertemuan'  di Stockholm untuk  
menyelenggarakan upacara perpisahan dengan Zus Endang.

Seorang  kenalan berbangsa Swedia,  yang  juga hadir diantara kurang 
lebih 80 orang terdiri dari keluarga,  handai dan tolan, - - - -  
menyatakan bahwa, ia  menjadi tau dan mengenal  lebih baik  s i a p 
a    S e t i a t i    S u r a s t o , baru sekarang ini, sesudah 
beliau meninggal dunia. 

Jelas,  orang Swedia ini  telah dengan cermat mengikuti uraian 
Sugiri, salah seorang pimpinan SOBSI, serikatburuh  terbesar di 
Indonesia ada zaman  Presiden Sukarno; beserta kata perpisahan oleh  
Sucipto  Munandar, --  sahabat  dekat Setiati Surasto. Mereka berdua 
yang bicara hari itu, menelusuri  jalan hidup serta kegiatan  
Setiati yang  telah mengabdikan seluruh hidupnya demi kemerdekaan 
nasional  Indonesia dan perjuangan demi  perbaikan nasib kaum buruh 
Indonesia. 

Sejak masa mudanya,  ketika masih di bangku sekolah menengah  
Setiati Surasto sudah aktif sebagai anggota dari  IM (Indonesia  
Muda) dan Jong  Islamieten Bond (Persatuan Islam  Muda),  anggota 
Pekerja Perempuan Indonesia, kemudian sebagai asisten  Bapak Taman 
Siswa Ki Hadjar Dewantoro yang mengepalai kantor pendidikan dan 
pengajaran.    

Kemudian   pada awal periode Revolusi Kemerdekaan, Setiati Surasto 
ambil bagian  aktif  dalam  pembentukan Barisan Buruh  Indonesia  di 
daerah pendudukan Belanda. Setelah Kongres SOBSI di  Malang, 1946, 
Setiati Surasto menjadi Komisaris SOBSI di  Jakarta, daerah 
pendudukan Belanda.  Dalam  Kongres Nasional Ke-IV  SOBSI, Setiati 
Surasto ditetapkan menjadi Wakil Ketua II  Dewan Nasional SOBSI.  
Dalam tahun 1964  Komite Eksekutif  GSS, Gabungan Serikatburuh 
Sedunia   memutuskan  Setiati Surasto  menjadi  salah seorang 
Sekretaris GSS.  Kemudian  pimpinan SOBSI  mengirim  Setiati Surasto 
ke Praha  untuk mewakili kaum buruh  Indonesia di GSS. 

Pada periode pemerintahan  Presiden Sukarno, Setiati Surasto  yang 
mendalami bidang sosial dan ekonomi duduk  sebagai anggota   Dewan 
Konstituante RI,  Majlis  Permusyawaratan Rakyat Sementara (MPRS) 
dan DPRGR  (Dewan  Perwakilan Rakyat Gotong Royong). Dengan demikian 
Setiati Surasto telah menjadi salah seorang tokoh nasional terkenal 
yang dengan gigih memperjuangkan kemerdekaan dan kebebasan bangsa,  
khususnya bagi kaum buruh dan perempuan. Beliau juga melakukan 
perjuangan  di pelbagai  forum internasional..  

Bernarlah,  generasi muda  Indonesia, baik penggiat dalam perjuangan 
politik nasional maupun dalam gerakan buruh,  bersama kita  semua 
dapat menarik pelajaran  berharga dari  kegigihan dan ketekunan 
Setiati Surasto  memperjuangkan cita-cita mulya untuk kebenaran dan 
keadilan.

*   *   *

'PERTEMUAN'   STOCKHOLM
Sudah menjadi kebiasaan dan tradisi orang  Indonesia, pada saat-saat 
menyatakan belasungkawa  pada salah seorang anggota keluarga, 
sahabat ataupun kenalan ketika mereka ditinggalkan,  pada waktu 
itulah  mereka itu berkumpul dan saling bertemu.  Pertemuan serupa 
itu juga terjadi pada kesempatan lain yang santai dan senggang, 
misalnya pada kesempatan pertunangan atau perkawinan, atau lahirnya 
seorang insan  bayi yang baru.

Ini terjadi  juga ketika para anggota keluarga, sahabat dan handai 
taulan mendengar berita sedih meninggalnya Setiati 
Surasto.  'Pertemuan'   untuk  'perpisahan'   dengan Setiati Surasto 
diselenggarakan oleh  putra-putra dan keluarga beliau beserta  
Paguyuban  Indonesia di Stockholm, yang  berjalan dengan   teratur , 
rapi dan  amat berkesan.

Adalah pada kesempatan seperti ini, para kenalan dan sahabat dan 
anggota keluarga di sekitar Zus Endang,  mengambil waktu saling 
bertemu lagi, melepas rindu,  melanjutkan , memperdalam serta 
memperluas komunikasi dan konsultasi  demi keharmonisan dan 
kepedulian dengan tanah air tercinta.  Kesempatan seperti ini 
digunakan sebaik dan seefektif mungkin  untuk memperkuat  jiwa 
gotong-royong yang sudah turun temurun pada kita, serta memperdalam 
kepedulian dengan nasib bangsa. Bertukar informasi mengenai 
perkembangan usaha  pembangunan bangsa dan tanah air.

Yang tadinya sudah lama tidak jumpa, di situ berjumpa lagi, melepas 
rindu dan saling tukar cerita mengenai  apa yang dialami  dan 
dilakukan selama hidup di luarnegeri, bukan saja untuk 
mempertahankan, tetapi  bahkan memperkokoh semangat  patriotisme dan 
solidaritas dengan Tanah Air tercinta.

Situasi  PERTEMUAN PERPISAHAN  dengan Setiati Surasto di Stockhom  
itu, dengan demikian telah menjadi suatu pertemuan yang  penuh 
kenangan  yang tak terlupakan. 

Masih terdengar di telingaku, kata-kata perpisahan Danar atas nama 
keluarga,   yang antara lain menyatakan terima  kasih sebesar-
besarnya  atas  perhatian dan pernyataan belasungkawa terhadap 
mereka. Danar juga minta maaf atas segala  kesalahan yang pernah 
almarhumah perbuat dalam tindakan dan kata-katanya selama hidupnya.  
Danar menegaskan bahwa permintaan  Ibunya hanya satu, yaitu, agar 
menjadikan keluarga rukun, saling bantu, saling menghormati dan 
saling menyayangi dan mencintai, mengasuh dan membesarkan anak agar 
menjadi PENERUS YANG BERGUNA BAGI MASYARAKAT.

Bagi kami, kata Danar, hanya ada satu jalan untuk menyatakan  
terimakasih kami atas segala yang diberikan oleh almarhumah, yaitu 
dengan tidak menyia-nyiakan segala harapan almarhumah pada kami. 

Akan menjadi  lengkaplah  kiranya  tulisan singkat ini, dengan 
memuat sajak yang ditulis dan dibacakan oleh Fajar Sitepu,  salah 
seorang ipar Danar dan Danur:

*    *    *

Fadjar Sitepu:
----------------

IN MEMORIAM IBU SETIATI SURASTO
< Stockholm, 01 Desember 2006>

Ibu, mendung hari ini
mengantar kepergianmu kemarin yang tak kembali
cita citamu masih tertinggal
merdeka
bahagia dan makmur bagi seluruh bangsa  Indonesia.

Ibu, sejak mudamu tak pernah engkau jemu
atau ragu
walau perjuangan memakan waktu
kalah bagai terhempas dikerasnya batu
berlalang buana disegala penjuru
selagi kawan kawan seperjuangmu diburu buru
atau ditebas musuh mati dengan dendam.

Ibu, kini dikau telah tiada
tekad juangmu adalah api membara
generasi demi generasi pasti meneruskannya.

*   *   *  



 




Kirim email ke