godam terkekeh,

dan waktu denger, si Munand Wulan,

udah 3 KALI DIPECAT? hehehe,gile diah berpuligamihan

dalem etos kerjanyah? tiga kali dipecat man??

ituh menandaken wartawan inih,memang uler ijohkah?

kerana daku belom tauk, mengapah senior kita dipecat?

tatapi benerlah bung Gunarwan bilang,

you kok enggak kapok2nyah sih? urusan kantor privat,

kok eluh blow up jadi urusan NASIONAL SIH?

apah..KOMPAS MEMANG KUDU DINASIONALISASIKEN?

ADAKAH DIKAU MUNAND PUNYAK HIDDEN AGENDAH?

apah lagih pesenan uler2 ijoh yang menggajihmu??

WAKE UP CALL FOR YOU SENOR...

berjoanglah dengen objektip,bener proporsional,

sakbagae wartawan yang propesional!!!


--- In [email protected], "goenardjoadi" <[EMAIL PROTECTED]> 
wrote:
>
> Mas Satrio,
> 
> Membahas point anda no. 3 anda menganggap bahwa wajar bagi 
seseorang 
> untuk berbeda pendapat dengan Pimpinan, namun mesti diingat bahwa 
> perusahaan itu bukan tempat demokrasi, keputusan diambil bukan 
> menurut voting, tapi diambil Pimpinan yang lebih mengerti 
informasi, 
> visi, dan tujuan perusahaan, apalagi kalau lingkungannya 
> seperti "Kompas saya akui relatif jauh lebih baik dalam hal gaji 
dan 
> fasilitas dibandingkan media lain."
> 
> Lalu apa yang anda perjuangkan?  Demokrasi?  mana ada demokrasi 
> dalam perusahaan?  Ketidak adilan?  faktanya hampir semua karyawan 
> Kompas happy, tata tentrem karta raharjo..
> 
> Kalau AJI mengurusi anggotanya supaya tahan pecat, itu sungguh 
> disayangkan, mengecilkan arti perjuangan anda dulu yang diincar 
> intel, kopasus, dll.
> 
> Musuhnya Bambang Wisudo itu adalah dirinya sendiri, kemauan 
dirinya 
> sendiri, dan kurang bisa bersikap santun kepada Pimpinan..  Masih 
> wajar Pimpinan Redaksi Kompas tidak memanggil yang lain, hanya 
> memanggil Satpam.   
> 
> Itu khan wajar mas, namanya di Kantor ada aturannya.
> 
> Anda sudah 3 kali dipecat karena kegiatan Serikat Pekerja, 
> pengalaman anda apa masih belum jelas, bahwa perusahaan bukan 
tempat 
> demokrasi.
> 
> Daripada sibuk demo..  Lebih baik Bambang Wisudo mulai ketemu Pak 
> Chaerul, atau Pak Harry Tanoe untuk melamar kerja, masih banyak 
> pekerjaan bagi yang ahli.. 
>  
> salam damai,
> Goenardjoadi Goenawan
> 
> --- In [email protected], Satrio Arismunandar 
> <satrioarismunandar@> wrote:
> >
> > Komentar saya:
> > 1. Rezim penguasa yang seram seperti Soeharto memang sudah tidak 
> ada. Tapi tindakan kekerasan terhadap wartawan masih ada di 
lapangan 
> (oleh "oknum" polisi, pejabat, preman, dll) tetap ada, serta 
ancaman 
> terhadap kebebasan pers tidak lantas lenyap 100%. 
> > 
> > AJI membela Wisudo karena pengurus AJI Jakarta menilai Wisudo 
> memang patut dibela. Tidak asal dibela (saya bukan pengurus AJI, 
> tapi itulah yang saya tahu tentang policy pengurus AJI sekarang). 
> Pengurus AJI saya pikir cukup kritis. Mereka wartawan dari 
berbagai 
> media yang bukan baru setahun-dua tahun di dunia jurnalistik.
> > 
> > 2. Tekanan terhadap wartawan dari internal perusahaannya sendiri 
> masih ada di berbagai media. Misalnya, dipaksa menerima gaji yang 
> tidak layak, kondisi kerja yang minim, dsb. Kompas saya akui 
relatif 
> jauh lebih baik dalam hal gaji dan fasilitas dibandingkan media 
> lain. 
> > 
> > 3. Soal penilaian terhadap Wisudo di internal Kompas 
> sebagai "pembangkang" dsb, itu bisa "obyektif" tapi juga bisa 
bias, 
> karena tergantung dari posisi/kepentingan wartawan bersangkutan di 
> perusahaannya. Makin senior seorang wartawan, makin besar 
> kepentingannya, karena dia biasanya sudah mendapat jabatan (dan 
> gaji) yang mapan. Karena Anda tidak menyebut nama wartawannya, 
maka 
> saya juga tak bisa  menilai secara akurat. Saya bicara secara 
common 
> sense saja. 
> > 
> > Namun, sekadar catatan saya: budaya "cari aman" dengan ikut 
apapun 
> maunya boss, bukan cuma ada di Kompas, tapi juga di banyak media 
> lain. Menjadi "oposisi" terhadap kebijakan pimpinan, memang tidak 
> populer dalam arti sulit mencari pendukung terang-terangan. Paling 
> banter, mereka akan bilang dengan bisik-bisik ke Anda: "Bung, saya 
> dukung perjuangan Anda secara moral dan doa!" Maklum, risikonya 
> besar dan kita tahu sekarang sulit cari kerja. Lebih aman menjadi 
> pendukung kebijakan pimpinan.
> > 
> > Saya tahu betul budaya cari aman ini, karena saya sendiri sudah 
> mengalami sekitar 3 kali "dipecat" atau "dipaksa mundur" di 
berbagai 
> media, terutama karena aktivitas Serikat Pekerja. Ketika Anda 
sudah 
> diposisikan sebagai "musuh" pimpinan, satu-persatu teman Anda di 
> kantor akan mengambil jarak dari Anda, karena tak mau 
dianggap "satu 
> kubu dengan musuh pimpinan." 
> > Percayalah, karena saya di sini tidak bicara dari teori.
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: aja.. baca <hidupku_hariini@>
> > To: [email protected]
> > Sent: Monday, January 8, 2007 1:32:38 PM
> > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 
> 2007, depan Bunderan HI
> > 
> > ehm, mas satrio yang baik, saya setuju kalo wartawan perlu wadah 
> yang tidak sekdar melindungi tapi juga membela untuk kasus2 
seperti 
> ini. sama, saya juga wartawan mau lari kemana kalau musibah ini 
> menimpa saya. hanya masalahnya, mengacu pada teori jurnalistik 
yang 
> harus cover both side dan lainnya, saya coba tanya kesejumlah 
> wartawan kompas yang lumayan senior, mas Wisudo ini memang 
> bermasalah dan kerap menolak tugas.
> >  
> > sebenernya saya cuma ingin kasih masukan, apa tidak sebaiknya 
AJI 
> memilah-milah siapa yang seharusnya dibela. kalau dipecat karena 
> membangkang dari tugas apa layak untuk dibela? 
> >  
> > itu saja sih, .. ini bukan zaman soeharto lagi kan, kebebasan 
> sudah tidak lagi terbelenggu. tapi gw berarti kita seenaknya kan..?
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Sent: Monday, 8 January, 2007 12:29:45 PM
> > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 
> 2007, depan Bunderan HI
> > 
> > 
> > Tugas AJI  dan Serikat Pekerja ya membela anggotanya yang 
dipecat, 
> Mas....
> > Kalau AJI diam saja atau sekadar memaklumi (seperti yang 
dilakukan 
> PWI ketika Pemerintah Soeharto membredel Tempo, DeTik dan Editor 
> 1994), ya mendingan AJI dibubarkan saja.
> >  
> > Anda tentu berhak berkomentar apa saja.... Kritik Anda terbilang 
> halus dan sopan. 
> > Kita nggak gampang tersinggung kok. Karena di zaman Soeharto, 
> anggota AJI udah pengalaman dikejar-kejar polisi dan intel. 
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: aja.. baca <hidupku_hariini@ yahoo.co. uk>
> > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com
> > Sent: Sunday, January 7, 2007 10:21:35 AM
> > Subject: Re: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 
> 2007, depan Bunderan HI
> > 
> > 
> > Aduh ... heran deh, karyawan kompas yang lain aja ga ambil 
pusing, 
> kenapa jadi AJI yang repot. kalo memang Wisudo ini bener bahwa 
> Kompas merugikan karyawannya, pasti dia didukung karyawan lainnya 
> dong.
> >  
> > bukannya apatis, tapi jika sudah tidak sepaham dengan 
perusahaan, 
> ya sudah keluar saja jangan sok berontak dan merasa yang paling 
> benar. memangnya mengelola perusahaan itu mudah. kalo mau semuanya 
> diturutin, bikin aja perusahaan sendiri. Disini saya tidak 
> menempatkan diri sebagai siapa-siapa, tapi setau saya Kompas itu 
> paling manusiawi dalam memperlakukan karyawannya. Gaji saja bisa 
> sampai 17 kali. belum kalau sudah 5 tahun kerja bisa dapat 
pinjaman 
> sebesar 20 kali gaji (kalo saya tidak salah angganya) tanpa bunga, 
> dll.
> >  
> > buat AJI, koq lama-lama jadi reaksioner gini sih. 
> >  
> > -trims, maaf kalau menyinggung-
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: Satrio Arismunandar <satrioarismunandar@ yahoo.com>
> > To: news Trans TV <news-transtv@ yahoogroups. com>; Forum Kompas 
> <forum-pembaca- [EMAIL PROTECTED] ps.com>; pantau <pantau-
komunitas@ 
> yahoogroups. com>; jurnalisme <[EMAIL PROTECTED] ups.com>; 
> aipi_politik@ yahoogroups. com; mediacare mediacare 
> <[EMAIL PROTECTED] ps.com>
> > Sent: Saturday, 6 January, 2007 3:54:05 PM
> > Subject: [mediacare] Aksi spanduk terpanjang - Senin, 8 Jan 
2007, 
> depan Bunderan HI
> > 
> > 
> > ----- Original Message ----
> > From: AJI Jakarta <ajijak@ id>
> > To: jurnalis_jakarta@ yahoogroups. com.au
> > Sent: Saturday, January 6, 2007 3:29:38 PM
> > Subject: [jurnalis_jakarta]
> > 
> > 
> > 
> > Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (Kompas)
> > Jl. Dr. Soepomo No.1A Komplek BIER Menteng Dalam
> > Jakarta Selatan 12870
> > Tlp./Faks: 021-83702660,
> > CP: 081310274674 (Edy Haryadi), 081585160177 (Sholeh Ali),
> > 08155517333 (Winuranto Adhi), 0811932683 (Bambang Wisudo)
> > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> > untuk mengikuti perkembangan kasus ikuti
> > http://kompasinside .blogspot. com
> > ------------ --------- --------- --------- --------- --------- -
> > Aliansi Jurnalis Independen (AJI), LBH Pers, YLBHI, LBH Jakarta, 
> > Paguyuban Korban Kelompok Kompas Gramedia, Aliansi Nasional 
Bhineka
> > Tunggal Ikka (ANBTI), PBHI, TURC, Aliansi Buruh Menggugat (ABM), 
> LBH
> > Pendidikan, Federasi Serikat Pekerja Mandiri (FSPM), FPPI, 
Serikat 
> Guru
> > Tanggerang, Serikat Guru Garut, Federasi Guru Independen 
> Indonesia, ICW,
> > LBH APIK, PPR, IKOHI, KONTRAS, PPR, Somasi-Unas, LMND, Papernas, 
> SPR, Arus
> > Pelangi, SP 68H, GMS, Kabar, Lembaga Kebudayaan Nasional (LKN), 
> Praxis,
> > Forum Pers Mahasiswa Jakarta (FPMJ), FMKJ, Partai Rakyat Pekerja 
> (PRP),
> > Sanggar Ciliwung, FSPI, Repdem Jakarta
> > ============ ========= ========= ========= ========
> > AKSI SPANDUK TERPANJANG
> > PECAHKAN REKOR MURI
> > 
> > Kepada Yth: Teman-teman jurnalis
> > Hal : Undangan liputan
> > 
> > Pemecatan dan kekerasan terhadap Sekretaris Perkumpulan Karyawan 
> Kompas
> > karena menyoal saham kolektif 20 persen milik karyawan, Bambang 
> Wisudo,
> > telah memicu protes secara meluas.
> > 
> > Untuk itu, kami mengundang teman-teman untuk hadir dalam aksi 
> spanduk
> > `anti pemberangusan serikat pekerja' terpanjang yang selama ini 
> pernah
> > digelar. Tujuannya adalah memecahkan rekor Musium Rekor 
Indonesia 
> (MURI).
> > Untuk itu, MURI sebagai organisasi sudah diberitahu secara resmi.
> > 
> > Karenanya, Komite Anti Pemberangusan Serikat Pekerja (KOMPAS) 
> mengundang
> > teman-teman untuk meliput aksi spanduk terpanjang ini yang akan 
> bermula
> > pada:
> > 
> > Hari : Senin, 8 Januari 2007
> > Pukul : 10.00 WIB – selesai
> > Tempat : Bunderan Hotel Indonesia (HI),
> > Jakarta Pusat
> > 
> > Atas perhatiannya kami sampaikan terima kasih.
> > 
> > Bersatu melawan pemberangusan serikat pekerja!
> > 
> > Jakarta, 5 Januari 2007
> > 
> > Edy Haryadi
> > Koordinator
> > 
> > ============ ========= =
> > Sekretariat AJI JAKARTA
> > Jl. Prof. Dr. Soepomo No 1 A
> > Kompl. BIER, Menteng Dalam
> > Jakarta Selatan 12870
> > Telp/fax. +62-21-83702660
> > Website : www.aji-jakarta. org
> > ============ ========= =
> > 
> > 
> > 
> > 
> > 
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail. yahoo.com 
> > 
> > 
> > 
> > Send instant messages to your online friends 
> http://uk.messenger .yahoo.com 
> > 
> > 
> > 
> > ____________ _________ _________ _________ _________ __
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam? Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail. yahoo.com 
> > 
> > 
> > 
> > Send instant messages to your online friends 
> http://uk.messenger .yahoo.com 
> > 
> > 
> > __________________________________________________
> > Do You Yahoo!?
> > Tired of spam?  Yahoo! Mail has the best spam protection around 
> > http://mail.yahoo.com
> >
>


Kirim email ke