Fiksi dan Realita Oleh: Audifax But the book always burns As the story takes it turn An leaves a broken man Guns N Roses (So Fine] Hari Minggu 7 Januari 2007, seperti biasa saya mencoba membuat esei untuk dikirim ke milis. Entah kenapa, sejak pagi begitu banyak peristiwa dalam kurun waktu setahun terakhir yang muncul di benak saya, yang lantas membuat saya merenungkan antara Fiksi dan Realita. Sesuatu yang masuk kategori fiksi, umumnya adalah sesuatu yang bukan dianggap realita, begitu pula sebaliknya. Tetapi entah saya jadi berpikir bahwa pada beberapa kejadian yang menampak di hadapan saya, dikotomi antara fiksi dan realita ini sepertinya menjadi tak jelas, bahkan bisa jadi fiksi adalah sekaligus realita dan realita adalah sekaligus fiksi. Beberapa waktu lalu, para pengamat yang ahli dalam meteorologi dan geofisika, dengan segala perhitungan mereka, pernah meramalkan meletusnya gunung Merapi. Tak urung pemerintah sampai turun tangan memberi pengarahan dan membujuk penduduk di sekitar Merapi untuk mengungsi. Pendeknya semua realita saat itu seakan sudah diukur, dihitung dan karenanya bisa diprediksi akurasinya. Tetapi ada seorang Mbah Marijan yang menghadirkan fiksi bahwa aktivitas Merapi adalah kerja agung para spirit. Merapi tengah membangun kata Mbah Marijan. Bukankah apa yang dikatakan Mbah Marijan itu justru lebih dekat dengan kisah-kisah fiksi mengenai kerajaan dongeng di sebuah gunung yang tak kelihatan manusia biasa? Tetapi, sesuatu yang sebelumnya lebih dekat dengan fiksi ketimbang realita itu, ternyata justru lebih bisa menjelaskan apa yang terjadi, Merapi memang tidak meletus seperti telah diperhitungkan. Lalu, saya ingat, beberapa waktu lalu, salah seorang pejabat mengadakan sayembara untuk menghentikan lumpur Lapindo, yang kemudian sayembara itu diikuti oleh sejumlah orang sakti. Bukankah sayembara semacam ini adalah sesuatu yang sering kita dengar dalam cerita-cerita fiksi tentang para raja atau para pendekar? Cerita yang sering kita dengar dari legenda, sinetron, sandiwara radio, wayang, dongeng dan bukan sesuatu yang ada dalam realita? Tetapi kini cerita itu benar-benar ada dan terjadi di depan mata saya, seorang pejabat sampai mengadakan sayembara untuk menghentikan bencana di daerahnya. Kemudian coba saya renungkan lebih jauh. Bukankah lumpur itu kalau ditelisik adalah milik seorang menteri kesejahteraan rakyat? Apa yang mau kita katakan untuk yang satu ini? Fiksi? Realita? Jika kita mengatakan ini sebagai realita, tidakkah ini menjadi sebuah parodi satir? Sebuah kekonyolan yang biasanya hanya kita temui pada panggung-panggung lawak atau komedi situasi? Tetapi toh kita juga tak bisa menyebut lawakan ini sebagai fiksi. Sekarang coba simak yang saya baca di koran: Seorang penduduk di Desa Rangoan mengaku mendengar suara ledakan mesin. Ia melapor kepada kelapa desa. Kepala desa memberitahu seorang polisi dengan enteng, maklum ia tak tahu bahwa ada pesawat yang hilang. Bagi polisi, ini informasi penting, dan memastikan ada kaitannya dengan Adam Air, yang hilang sejak hari sebelumnya. Ia langsung melapor kepada atasannya. Atasan polisi tadi meneruskan informasi ini kepada koleganya: Bupati. Entah bagaimana ujung-pangkalnya, informasi tadi sudah bertambah: ada 90 penumpang tewas, 12 selamat. Bupati dengan sigap melapor kepada atasan yang lebih tinggi, tanpa check dan re-check. Alasannya, ini masalah kemanusiaan, berita harus segera disampaikan. Penerima informasi di pusat dan provinsi langsung kalang-kabut. Selain pasukan pencari dikerahkan, digelar jumpa pers, diumumkan kepada hadirat dan hadirin bahwa pesawat telah ditemukan dengan cepat. Ternyata, semuanya "pepesan kosong". Tak ada bangkai pesawat ditemukan, meski para petugas plus wartawan sudah menyewa ojek Rp. 200 Ribu. Andai kata ini dagelan Srimulat, akan muncul dua "penutup banyolan". Penutup sepele: Si penyebar informasi mengaku berkolusi dengan tukang ojek. Penutup serius: Sindiran betapa mudahnya pejabat dikibuli karena lemahnya informasi. Lalu, saya mencoba menengok hiburan di televisi. Berbagai fiksi dihadirkan dalam sinetron. Fiksi? Saya coba renungkan kembali, ternyata fiksi itupun sudah menjadi realita. Ada begitu banyak orang yang mengidolakan dan meniru para idolanya. Mulai dari anak-anak yang meniru Smackdown hingga orang dewasa yang meniru dandanan, gaya bicara, bahkan gaya hidup yang ditampilkan di berbagai hiburan televisi. Itu belum terhitung apa yang ditawarkan iklan, mulai dari imaji-imaji yang disodorkan untuk ditiru hingga ajakan untuk masuk ke dunia yang mengaburkan antara fiksi dan realita seperti kencan impian dari salah satu shampoo. Nah, sebelum saya menuliskan lebih jauh, sejujurnya saya sendiri perlu pendapat dari rekan-rekan yang kebetulan membaca esei ini untuk mengomentari atau menambahkan apa yang menjadi cermatannya mengenai "Fiksi dan Realita" ini. Apakah memang di jaman ini kita hidup di dunia yang menyatukan antara fiksi dan realita? Atau bagaimana? Mungkin ada yang bisa kita diskusikan lebih jauh di sini? agar diskusi terfokus dan pendapat yang muncul bisa saling memperkaya, saya mengundang anda untuk mendiskusikan ini di milis psikologi transformatif Mohon petromaksnya © Audifax 10 Januari 2007 NB: Saya mem-posting esei ini ke milis Psikologi Transformatif, Forum Pembaca Kompas, Diskusi-HRD, BeCeKa, Mediacare, Vincent Liong, R-Mania, Pasar Buku, Alumni St. Louis, Club Tarot, Ruang Baca dan Forum Studi Kebudayaan. Mungkin akan ada rekan-rekan dari milis-milis tersebut yang akan mem-forward esei ini ke sejumlah milis lain. Karena keterbatasan waktu, saya hanya akan menanggapi diskusi di milis Psikologi Transformatif. MELALUI ESEI INI PULA SAYA MENGUNDANG SIAPAPUN YANG TERTARIK UNTUK BERDISKUSI DENGAN SAYA UNTUK BERGABUNG DI MILIS PSIKOLOGI TRANSFORMATIF (www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif) Sekilas Mailing List Psikologi Transformatif Mailing List ini merupakan ajang berdiskusi bagi siapa saja yang berminat mendalami psikologi. Mailing list ini dibuka sebagai upaya untuk mentransformasi pemahaman psikologi dari sifatnya selama ini yang tekstual menuju ke sifat yang kontekstual. Anda tidak harus berasal dari kalangan disiplin ilmu psikologi untuk bergabung sebagai member dalam mailing list ini. Mailing List ini merupakan tindak lanjut dari simposium psikologi transformatif, melalui mailing list ini, diharapkan diskusi dan gagasan mengenai transformasi psikologi dapat terus dilanjutkan. Anggota yang telah terdaftar dalam milis ini antara lain adalah para pembicara dari simposium Psikologi Transformatif : Edy Suhardono, Cahyo Suryanto, Herry Tjahjono, Abdul Malik, Oka Rusmini, Jangkung Karyantoro,. Beberapa rekan lain yang aktif dalam milis ini adalah: Audifax, Leonardo Rimba, Vincent Liong, Mang Ucup, Prof Soehartono Taat Putra, Bagus Takwin, Amalia "Lia" Ramananda, Himawijaya, Rudi Murtomo, Felix Lengkong, Kartono Muhammad, Ridwan Handoyo, Dewi Sartika, Jeni Sudarwati, FX Rudy Gunawan, Arie Saptaji, Radityo Djajoeri, Tengku Muhammad Dhani Iqbal, Anwar Holid, Elisa Koorag, Kidyoti, Priatna Ahmad, J. Sumardianta, Jusuf Sutanto, Stephanie Iriana, Yunis Kartika. Jika anda berminat untuk bergabung dengan milis Psikologi Transformatif, klik: www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif
--------------------------------- Have a burning question? Go to Yahoo! Answers and get answers from real people who know.
