Pulang Haji

Tetanggaku sudah pulang menunaikan ibadah haji tahun ini karena termasuk kloter yang nomornya muda, berangkat lebih awal dan pulang lebih awal pula. Nampaknya mengikuti teori antrian, seperti antrian tiket bioskop atau antrian nasabah Bank.

Kedatanganku ke rumahnya disambut dengan gembira, maklum kehidupan kota, walaupun kami hidup bertetangga tapi diantara kami jarang bertemu, karena kesibukan masing-masing. Dia bercerita tentang bagaimana musibah kelaparan menimpa sekitar lebih dari dari 150,000 jemaah haji asal Indonesia. Mendengar ceritanya yang tragis tersebut aku ikut berempati dan kecewa terhadap pelayanan Departemen Agama (Depag) tersebut. Menurut pendapatku semakin kemari bukannya manajemen jemaah haji semakin bagus tetapi malah semakin bermasalah.

Bisa jadi Menag, salah ambil perusahaan katering yang memenangkan tender dan mensubkontrakkan hasil tender pada perusahaan lainnya dan mengingkari perjanjian yang telah disepakati, tukasku mengutip keterangan dari salah satu berita di televisi untuk mengomentari kekesalannya agar perbincangannya menjadi hidup.

Memang sulit barangkali mengatur katering untuk sekian ribu orang pikirku. Teringat satu dasa warsa silam ketika aku pergi ke sana dengan paspor hijau TKI dan bergabung dengan jamaah warga Asia Selatan, dimana tiap kali jam makan tiba aku mencari-cari restauran sendiri dan syukurnya tidak menjadi masalah, karena dengan bepergian sendiri (baca: dalam sekelompok kecil) lebih mobile, mudah berpindah tempat walau tidak nyaman, tapi resiko tersebut sudah kami perhitungkan sehingga kami lebih siap untuk menerima yang tersulit.

Padang Arafah yang dulu tandus dan sedikit ditanami tanaman, lima tahun lalu aku kesana dan menyaksikan pohon-pohonan sudah menghijau, konon ide penghijauan ini dulu dari Bung Karno pada saat beliau pergi haji puluhan tahun silam dan terus menerus reboisasi ini dilaksanakan oleh Penguasa Kerajaan Saudi Arabia. Harapan kami mudah-mudahan kelak padang Arafah menjadi "Kebun Surgawi" yang mengayomi para jemaah haji, sehingga pada saat berdoa di sana lebih khusyu dan lebih nyaman.

Pergi haji artinya pergi berziarah ke tanah suci Mekah dan merupakan serangkaian peribadatan yang diselenggarakan pada hari-hari tertentu, bertempat di Masjidil Haram dan daerah lain disekitarnya.

Di Masjidil Haram sendiri terdapat kiblat umat muslim se dunia yang disebut Ka'bah. Suatu bangunan berbentuk kubus. Sebagian umat menyebutkan disini adalah Bait al Haram yang artinya Rumah Suci.

Ka'bah adalah pusat dari Yang Maha Agung yang menghadap segala penjuru dunia, sehingga seluruh bumi merupakan tempat peribadatan para pemeluk Islam. Karena Islam diturunkan berulang sejak nabi Adam, maka seluruh bumi secara simbolik melambangkan 'Kebun Surgawi' dimana dari penjuru manapun seorang dapat "berdialog" dengan Tuhan, sebagaimana nabi Adam.

Berbincang dengan tetanggaku menyenangkan sekali, tak terasa waktu cepat berlalu padahal sudah waktunya untuk berganti "berdialog Dengan Yang Maha Berbicara", sehingga aku harus pamit mundur.

Salam,

http://ferrydjajaprana.multiply.com

Kirim email ke