Fragmen NU Online

Perjuangan Lesbumi dalam Membangun Perfilman
Kamis, 11 Januari 2007 15:07 WIB

*PADA *pertengahan 1960-an terjadi gerakan anti Amerika Serikat (AS)
besar-besaran karena terlibat dalam Pemberontakan PRRI-Permesta, dan
berujung pada gerakan penolakan pengedaran film AS yang saat itu dipegang
oleh AMPAI. Gerakan itu dipelopori oleh Lekra, kebetulan Lesbumi tidak ikut
dalam gerakan itu, karena itu salah seorang pimpinan Lekra Masri S menuduh
Lesbumi tidak berjiwa Manipol dan anti revolusi, karena tidak ikut menolak
AMPAI seperti yang dilakukan Lekra dan LKN.

Melihat serangan yang bertubi-tubi di berbagai media dan forum itu akhirnya
pada 30 Agustus 1964 Usmar Ismail Ketua Umum Lesbumi memberikan jawaban
secara publik, bahwa Lesbumi didirikan oleh para tokoh yang sejak tahun
1950-an telah gigih melawan dominasi film asing terutama Ampai dari AS dan J
Arthur Pank dari Inggris dan beberapa perusahaan Film Belanda. Perlawanan
itu antara lain dilakukan dengan cara membuat filam sendiri.

Selain itu Lesbumi juga membuat terobosan penting seperti memasukkan film
dari Asia seperti India, Cina dan Jepang sebagai bandingan sambil
mempelajari kultur tetangga. Karena itu Lesbumi paling awal merasakan pahit
getirnya menentang dominasi film asing di negeri ini dalam persaingan yang
tidak kenal ampun.

Bayangkan tahun 1950 AMPAI mengedarkan 250 judul film setahun, sehingga
menguasai gedung bioskop nasional. Ketika Lesbumi berdiri "kami memiliki
kekuatan lalu kami berjuang keras untuk menerapkan kuota untuk menghidupkan
film nasional, akhirnya pada tahun 1962  AMPAI hanya mengedarkan separuhnya
160 judul film pertahun."

Tidak berhenti di situ, Lesbumi terus melakukan tekanan sehingga pada tahun
ini 1964 AMPAI hanya tinggal separuhnya lagi yakni mengedarkan 80 judul film
pertahun, itu pun harus disensor secara ketat, agar film tersebut tidak
membahayakan kultur bangsa Indonesia dan indeologi nasional. Dan Amerika
yang gagah perkasa itu tidak berkutik menghadapi tekanan Lesbumi ini.
Akhirnya semua perusahaan film asing mengalah. Semua itu bentuk Manipolis
dari politik kebudayaan Lesbumi.

Sebagai konsekwensinya strategi penting yang dilakukan Lesbumi saat itu
adaalah menghindari kekosongan film nasional itu dengan membuat film
sendiri, sehingga produksi film nasional saat itu sangat tinggi. Hal itu
dilakukan agar kekosongan itu tidak diisi dengan melakukan impor film dari
Uni Soviet seperti yang hendak dilakuakan oleh Lekra. Menurut Lesbumi hal
itu berarti menyingkirkan imperialis kebudayaan dari AS yang liberal, lalu
memberikan peluang masuknya imperialisme budaya yang lain dari pihak Soviet
yang anti Tuhan. Apalagi saat itu Ketua Sinematografi Uni Soviet Alexey
Romanov mulai gencar mempropagandakan film Soviet sebagai pengganti Amerika.

Denga tegas Usmar menjawab bahwa kita Lesbumi menolak Declaration of
Independence-nya Amerika yang liberal dan imperialis, disaat yang sama kita
juga menolak Manifesto Komunis yang ateis, sebab kita telah memiliki
falsafah hidup dan ideologi negara yang lebih unggul dan lebih relevan yaitu
Pancasila. Inilah sikap seorang Manipolis sejati, yang selalu membela
kemandirian dan martabat bangsa dan tanah air sebagai wujud dan pelaksanaan
dari khitah politik NU yang populis dan nasionalis. (*Abdul Mun'im DZ*)

Dari www.nu.or.id

Kirim email ke