IBRAHIM ISA   Berbagi Cerita
Kemis, 11 Januari 2007.
-------------------------------------------
BELANDA  PEDULI  INDONESIA
<Mengikuti Acara  Budaya 'Winternachten Den Haag'>

Sejak diundang oleh  'Yayasan Winternachten' -Den Haag, bertambah
pengetahuanku bahwa orang-orang Belanda memang benar, menaruh
kepedulian yang sungguh-sungguh terhadap segala sesuatu yang
bersangkutan dengan  INDONESIA. Tak lain dan tak bukan, bertitik tolak
dari rasa dan keinginan mempertahankan dan mengembangkan hubungan
historis Belanda dengan Indonesia. Terutama hubungan dan pengembangan
di bidang budaya dan sosial.

Di fihak pemerintah Belanda , memang sudah lama kepedulian terhadap
Indonesia ini tercurah a.l di bidang pendidikan dan kebudayaan. Untuk
tahun ini permerintah Belanda berrencana memperbesar sumbangannya
terhadap usaha pendidikan di Indonesia. Sudah sejak lama tidak asing
lagi, banyaknya orang Indonesia yang meneruskan studinya di negeri
Belanda, terutama di Leiden, Delft, Wageningan, Den Haag dan Amsterdam.

Dua tahun yang lalu ada yang 'tak enak'  yang terjadi  yang tanpa
dimaui berkaitan dengan  negeri Belanda. Ketika  itu seorang pejuang
HAM terkenal Munir, dibunuh asassin. Munir  dalam perjalannya dari
Jakarta ke Schiphol, Amsterdam. Munir ke Belanda untuk menambah
studinya di Universitas Utrecht. Sampai sekarang kasus pembunuhan
politik ini masih terkatung-katung. Belakagan ada berita, katanya,  
kasus Munir ini akan cepat terungkap siapa sesungguhnya asasin dan
dalangnya. Karena, katanya  kasus pembunuhan Munir sudah menjadi
'kasus internasional'. Antara lain karena Amerika juga turun tangan
dalam pelacakan untuk mengungkap kasus pembunuhan terhadap pejuang HAM
Indonesia Munir.

*   *   *

Cakap-cakap ini terutama dimaksudkan untuk sedikit cerita tentang
Winternachten DenHaag.  Ini disebabkan  kepeduliannya  antara lain
terhadap Indonesia. Di bidang budaya dan sosial. 

Sebenarnya bila hendak  mengetahui lebih mendetail dan  dari sumber
otentik mengenai kegiatan WINTERNACHTEN DEN HAAG,   lebih baik masuk
saja di internet. Lalu klik  www.winternachten.nl. Di situ akan
didapati segala informasi mengenai Yayasan Winternachten Den Haag dan
kegiatannya selama ini.  'Maar goed', kata orang Belanda.  Baik aku
introduksikan juga sedikit mengenai WINTERNACHTEN, yang di waktu lalu
pernah  juga kutulis.

*   *   *

Pasal mulanya:  Pada suatu hari aku dihubungi oleh salah seorang
penggiat Yayasan Winternachten Den Haag. Diajukan pertanyaan/undangan
apakah aku bersedia untuk ambil bagian dalam salah satu  acara
kegiatan mereka dalam Winternachten 2004 itu. Sikapku adalah: Selalu
sedia ambil bagian dalam kegiatan dengan tema PEDULI INDONESIA.
Singkatnya, aku diminta untuk ambil bagian dalam semacam 'seminar
kecil-singkat'  yang bersangkutan dengan Peristiwa 1965. Fokusnya pada
saat-saat dimulainya kampanye pembantaian masal terhadap orang tak
bersalah, yang dilakukan oleh kaum militer di bawah Jendral Suharto,
dalam rangka usaha perebutan kekuasaan terhadap Presiden Sukarno.  

Karena keterlibatanku dengan kegiatan Winternachten Den Haag tsb,
sejak itu, aku selalu diundang untuk menghadiri dan menikmati
acara-acara mreka khususnya yang menyangkut dengan Indonesia.
Juga kali ini, aku diundang untuk menghadiri dan menikmati acara  mereka.

*   *   *

Mungkin baik juga diceriterakan sedikit tentang Yayasan Winternachten
Den Haag. Yayasan ini dididrikan pada tahun 1995. Jadi belum lama.
Baru 11 tahun. Tujuannya antara lain adalah untuk memelihara  dan
mengembangkan jaringan-kerja (network) antara penulis-penulis
Nederland dan teman-teman sebidang, yaitu penulis-penulis Indonesia,
Suriname, Antilia Belanda, Aruba dan Afrika Selatan. Setiap tahun
WINTERNACHTEN mengorganisasi festival di Den Haag dengan para penulis,
pemusik dan  pembuat-pembuat film dari negeri-negeri tsb diatas.

Selain itu Stichting WINTERNACHTEN  terlibat dalam pengorganisasian
edisi-edisi 'Winternachten di Seberang Lautan',  peristiwa-peristiwa
literair di Afrika Selatan, Indonesia, Antitilia dan Suriname. Dengan
 demikian  Winternachten selalu mengadakan kerjasama dengan
organisasi-organisasi kebudayaan  setempat, dengan maksud agar
pertemuan dengan para penulis dari negeri-negeri yang berseangkutan 
juga berlangsung di luar Nederland. 

Dewasa ini Direktur/Pimpinan Artistik WINTERNACHTEN  adalah TON van de
LANGKRUIS.

Dalam kesempatan ini terimakasih kusampaikan  kepada Ton van de
Langkruis, untuk undangan beserta tickets yang dikirimkannya kepada ku
dan istriku Murti,  untuk bisa hadir pada kegiatan Winternachten pada
tanggal 11 Jan, hari ini, dan besok pada tanggal 12 Januari.

*   *   *

Pada acara Winternachten Den Haag tahun 2007 kali ini, diundan turut
hadir hampir 100 penulis, penyair, musikus, pembuat film dam  para
ilmuwan dari a.l. Indonesia, India, Mesir, Maroko, Suriname, Antilia
dan Afrika Salatan. Mereka a.l akan membacakan karya mereka, ambil
bagian dalam pembicaraan, diskusi dan debat, konser, dikusi publikasi
dan programa-programa film. Tahun ini akan banyak perhatian dicurahkan
pada kebudayan Berber, dengan ikut sertanya penyair-penyiar dari
Maroko dan Nederland.

Sejarah Nederland dan Indonesia menjadi tema dua program dengan
bekerjasama dengan NIOD (Institut Dokumentasi Perang,  Nederland).
Sedangkan penulis terkemuka India Pankaj Mishra membuka festival
Winternachten dengan membacakan karyanya mengenai Literatur dan 
Globalisasi.

*   *    *

Dari fihak Indonesia juga tidak sedikit yang hadir. Antara lain,
penyair Sitor Situmorang; sejarawan Prof. Dr Bambang Purwanto; penulis
Ayip Rosidi; jurnalis Jos Wibisono; Penyair Jeffry Alkatiri; rombongan
musik The Jakarta Street Band; penulis Nukila Amal; penulis Alit
Djojosoebroto; dan  penulis Muhammad Hisyam. Maaf bila masih ada yang
 terlupa disebut namanya disini.

Pada acara yang akan kami  hadiri nanti malam , adalah yang dimulai
pada jam 20.00. Dengan tema  'Batavia tot Jakarta in Proza en Film'.
Penulis muda Indonesia Nukila Amal akan cerita tentang masa lampau
pada tempo dulu itu lewat mata bapaknya. Sedangkan penyair Indonesia
turunan Arab/Pakistan, Jeffrey Alkatiri akan 'membimbing' hadirin
berkelana  dalam kota Jakarta dulu dan sekarang.

Lalu ada acara  musik yang dibawakan oleh 'The Jakarta Street Band',
dengan tema  'Dari Kroncong sampai ke Dangdut'.

Penyair dan penulis Sitor Situmorang akan membacakan bagian dari
certanya  tentang KASIM.

Demikianlah sepintas kilas mengenai a.l. acara budaya  menyangkut
Indonesia yang akan dipentaskan oleh Stichting WINTERNACHTEN DEN HAAG.
Masih banyak lagi macam  dan ragam acaranya. Yang kutulis ini 
sebagian kecil saja, yang kebetulan akan  kami  berdua hadiri. 
Mungkin masih akan kutulis lagi mengenai acara yang kami hadiri itu.

Amsterdam Bijlmer, 11 Januari 2007.

*   *   *







Kirim email ke