Mbak MAY yb., bagaimanapun juga Saddam adalah sosok yg sangat kontroversial. Bayangkan kalau dia memakai kekayaan minyak Irak dan segala yang dapat diuntungkan dari petrodolar itu untuk membangun Irak dan mengentaskan penduduk dari kemiskinan, atau lebih meningkatkan living standardnya.
Spt yang kini sedang dikerjakan oleh Hugo Chavez, l'enfant terible yang sedang memusingkan AS itu (60% dari impor minyak tanah ke AS dari Venezuela). Compliments yg terlalu tinggi untuk saya kalau ditulis koaran saya telah membuat Anda berpikir. Dari buku Anda saya yakin Anda justru berpikir terus, dan secara mendalam. Salam, Bismo DG ----- Original Message ----- From: ChanCT To: NASIONAL Sent: Thursday, January 11, 2007 3:53 AM Subject: [nasional-list] Fw: [HKSIS] Masih Juga Mengenai Sadam Husein ----- Original Message ----- From: May Teo To: ChanCT ; BDG KUSUMO ; [EMAIL PROTECTED] Sent: Thursday, 11 January, 2007 4:41 Subject: [HKSIS] Masih Juga Mengenai Sadam Husein Melihat posting Bung Bismo di bawah, saya tergerak mengutarakan perasaan pribadi mengenai eksekusi atas Sadam Hussein. Pagi itu ketika membaca laporan Sadam telah digantung mati, sebagai seorang awam yang sebenarnya tidak tahu menahu apapun dengan kejadian politik di Timur Tengah, namun ikut terguncang perasaan. Tentunya banyak sekali laporan yang mengatakan bahwa Sadam adalah seorang pemimpin yang autocratic, pembunuh yang kejam terhadap musuhnya. Tapi bagi seorang pemimpin dari kalangan minoritas diantara masyarakat mayoritas yang tidak ramah, keadaan realitas yang dihadapi Sadam adalah "To kill or be killed." Sisi ini perlu diperhitungkan dalam melihat situasi. Lalu jangan lupa, bahwa Sadam mulanya didukung oleh AS demi kepentingan mereka sendiri dalam strategi Perang Dingin. Dengan redahnya Perang Dingin, perhatian dialihkan kembali pada minyak Irak yang berlimpah, yang berupa puncak dari masalah negara industri dengan diterapkannya minyak dan gas alam sebagai the energy of choice. Pada tahun bulan Juni 1989 Henry Kissinger berangkat ke Baghdad bertemu dengan Sadam Hussein, membawa misi kepentingan banyak multinational companies, namun pertemuannya tidak memuaskan. Tidak lama sesudah itu, pada bulan Agustus 1990 AS menyerang Irak dengan alasan membebaskan Kuwait. Sadam Hussein adalah korban permainan politik AS, namun harus diakui Sadam bukan korban yang keblinger, ia mengambil keputusan dengan penuh perhitungan, seperti high rope walker, sadar bahwa hidupnya senantiasa dalam lingkungan bahaya. Menurut beberapa teman yang pernah ke Irak sebelum Perang Teluk, ketika itu jalan raya di kota Baghdad luas, bersih dan teratur. Banyak gedung besar modern di sekitar kota. Museumnya menyimpan banyak karya seni berharga dari masa kejayaan Mesopotamia, layanan listerik dan air minum sangat memuaskan. Perguruan tinggi di sekitar Baghdad sangat terkenal dengan prestasi pendidikan yang bermutu. Ongkos pendidikan rakyat dibeayai oleh negara, juga demikian dengan perawatan rumah sakit. Perlu juga ditegaskan, ketika itu Irak adalah negara sekuler. Dan menurut temanku yang pernah ke Baghdad, Sadam Hussein sangat menghargai semangat nasionalis yang disebarkan Bung Karno dalam Konperensi Asia Afrika. Seorang Presiden dari sebuah negara yang berdaulat, yang mempunyai perwakilan resmi di PBB telah digantung mati atas perintah kekuasaan asing. Terimakasih Bung Bismo karena telah mengirim posting yang sempat membuat diriku berpikir. Salam May Teo =========================== BDG Kusumo wrote: Maaf nimbrung Mas Satrio dan Bung Roni yb, yang saya ketahui Partai Baath dikatakan berazas "sosialisme a la Arab", awalnya satu di Irak dan Suriah, lalu pecah. Di Irak dalam partai tsb lalu timbul bberapa fraksi. Terkenal Sadam muda sebagai aktivis sebuah kelompok dalam sebuah tembak menembak terluka namun sanggup berenang mengarungi sungai Tigrid yang membelah Bagdad. Disini mulai timbul legend mengenai sense of survival nya, dan juga kepintaran campur kelicikan yang hebat. Ketika invasi AS ke Irak berkembang, di CNN ada tanggapan pakar AS dalam managemen yang mengatakan bahwa andai Saddam hidup dalam lingkup budaya modern, dia pasti akan dapat menjadi top manager, CEO atau Board Chairman yang jempolan! Diketahui bahwa dibawah Sadam, Irak adalah negara SEKULER, yang memisahkan sepenuhnya bidang negara dan bidang agama. Tetapi ia memang mengandalkan rezimnya pada keluarganya dan pada kelompok Sunni, yang minoritas dibanding dengan Syiah di Irak. Dan semua oposisi - kanan kiri, agamis atau sekuler - digilas tuntas. Nampaknya Sadam juga bukan seorang Muslim yang "soleh", karena diketahui dia senang lagu-lagunya Frank Sinatra, kalau tidak salah terutama "Your Spanish Eyes", yang dinikmatinya sambil menyeruput whisky dan sebuah Havana cigar dimulutnya. (Kita ingat harum cerutu wangi dan mahal itu yang "mengkhianatinya" dalam sebuah lubang perlundungan, sehingga terlacak oleh pasukan AS.) Tentang "dosa-dosa" nya dan cara eksekusi nya, itu perkara lain. Salam, Bismo DG
