Mudah-mudahan rakyat bangsa kita semakin dewasa dan tidak mudah 
dipengaruhi mereka-mereka yang berpandang sempit tersebut. Kita doakan, 
agar bidang pendidikan di Indonesia mendapat prioritas. Negara Jerman 
dapat membangun kembali neagara mereka yang sudah ambur adul setelah PD 
II. Sampai 2 thn. yl. setiap orang diberi kesempatan belajar 
setinggi-tingginya atas biaya subsidi pemerintah.

Tidak seorangpun anak orang Jerman yg ngak bisa sekolah karena uang. 
Sayang mereka menjadi amat sekular, tapi paling tidak hidup mereka 
tranparan. Mereka yang tdk percaya Tuhan, ngaku saja tdk percaya. 
Sebagian kecil mereka yang masih percaya Tuhan, ya berusaha hidup 
melawan arus sekularisme tanpa Tuhan. Semuanya ok.ok saja.

Saya tahu merekapun sudah banyak belajar dari Abad kegelapan, dimana 
para 'rohaniawan' memanipulasi mereka. Tapi sekarang setiap individu 
bebas memilih ideologinya sendiri-sendiri.

Bangsa lain sudah melalui  masa Renaissance, Refolusi Francis, Reformasi 
Martin Luther menikmati masa Demokrasi, tapi banyak bangsa kita masih 
entah dimana.

Mudah-mudahan share kita di sini dapat membangun ke arah yang positp dan 
menguntungkan semua manusia.

Syalom
Roslina

Al-Mahmud Abbas wrote:
>
> Terima kasih mbak Ros, orang kebanyakan memandang agama sebatas baju 
> atau warna orang.. bukan dari bagaimana sikap dan perilaku pribadi 
> orang itu. Oleh sebab itu saya juga tidak suka sembarangan simpati 
> dengan orang yang asal seagama, karena alasan itu, bahkan sering kali 
> risih kalau melihat orang yang hanya gembar-gembor soal agama 
> sementara itu perilakunya tidak pernah diperhatikan kepantasannya di 
> depan orang lain. Sekalipun orang lain itu kafir (anggapan kasarnya) 
> tentu tidak lalu boleh bersikap seenaknya mentang2 menganggap dirinya 
> sudah beragama yang benar, justru mestinya mawas diri jangan sampai 
> sikap dan perilakunya lebih jelek dari orang yang dianggapnya tidak 
> beragama atau beragama yang tidak benar, mawas diri jangan sampai 
> memalukan agama yang dianutnya. Sekalipun agama yang dianut yang 
> paling benar tetapi kalau cara penerapan agamanya tidak benar saya 
> yakin keberagamaannya tidak diterima (berlaku untuk agama apapun). 
> Allah tentu tidak menilai/mengadili hanya sepintas tetapi dari seluruh 
> kehidupan seseorang.
>
> Saya lebih simpati dengan orang sembarangan (tanpa melihat 
> identitas/agamanya) tetapi perilakunya baik, perkara dia nantinya 
> masuk surga atau tidak itu urusan pribadi dia dengan Tuhan. Saya 
> menempatkan Agama adalah spirit/semangat/ruh ajaran yang mendasari 
> untuk berperilaku yang baik dan menyembah Tuhan dengan benar 
> (habluminanas dan habluminallah), sebagai dua dimensi yang tak 
> terpisahkan dan saling berkaitan. Tidak hanya mentang2 menganggap diri 
> benar dalam hal hubungan ke atas lalu mengabaikan hubungan horisontal 
> (gampang marah, gampang tersinggung, membesar-besarkan persoalan, 
> menghalalkan kekerasan bahkan mengahalalkan darah sesama agama yang 
> dianggap sesat - kasus yang menimpa bung Ulil dkk.).
>
> Di Jawa Tengah, Jogja, Solo, yang saya tahu banyak sanak keluarga 
> (kumpulan Trah - satu turunan) yang di dalamnya terdiri berbagai macam 
> agama tidak pernah ada masalah. Bahkan sekalipun seorang anggota 
> famili yang pindah agamapun tidak pernah ada yang ribut, karena apa ? 
> Benar-benar saling menghargai dan menempatkan hak pribadi orang lain 
> sebagai hak pribadi yang tidak bisa dibuat oleh orang lain. Kalaupun 
> ada proses awal yang melalui orang lain itupun juga merupakan hasil 
> interaksi antara orang lain dan orang yang mau pindah agama. Dan 
> apabila setelah pindah agama ternyata merasa ada yang tidak pas lalu 
> pindah lagipun adalah mutlak hak pribadi orang tersebut.
> Jadi soal pindah paksa buat saya tidak perlu diributkan, karena hal 
> yang dipaksakan tidak akan pernah langgeng. Benar salah tidak hanya 
> ditentukan dalam rentang waktu sehari dua hari atau seminggu, tetapi 
> selama hidup. Jadi kalau mau beragama, peganglah prinsip yang benar 
> dan lakukan yang baik dan benar untuk Tuhan dan sesama, nasehati baik2 
> (selagi masih bisa) kalau ada saudara seagama yang ingin/akan pindah 
> agama.. tetap hargai dia meskipun keputusan akhirnya berpindah agama. 
> Kita saling doakan dan saling berlomba untuk berbuat kebaikan demi 
> Allah yang Maha Pengasih dan Maha Penyayang.
>
> Wassalam.
>
>
>  

Kirim email ke