1
  FIKSI DAN REALITA:
  Perihal Meramal
  
   
  Pada bagian ini saya akan membuka lebih jauh pembahasan mengenai Fiksi dan 
Realita ini sejalan dengan tema ramalan, seperti sempat disinggung Jeni, 
Pangestu dan Mas Leo. Bagi saya, jawaban dari ketiga rekan di milis Psikologi 
Transformatif ini menarik untuk membahas lebih jauh fiksi dan realita, terutama 
di ranah ramalan. Terutama di sini saya mencoba mengelaborasi lebih jauh 
penjelasan dari Leonardo Rimba, seorang rekan yang juga menekuni Tarot.
  
  Berawal dari apa yang diungkapkan Jeni sebagai berikut:
      Jeni Sudarwati:
  Ada beberapa hal yang saya pribadi kecewa, ketika akhir tahun kemarin kok 
rasa-rasanya banyak sekali yang percaya pada ramalan (maaf, saya tidak mau 
percaya ramalan). 
  What's wrong with us? 
  Semuanya bisa berubah dengan usaha, kerja-keras dan doa. Bukan dengan 
ramal-meramal - dalam hal ini media patut disalahkan. They teach us to be 
stupid,- dan hal seperti itu sangat tidak bagus bagi masyarakat marginal yang 
kurang mampu melakukan dekonstruksi opini dari dirinya sendiri - sehingga 
apapun yang diterima bisa masuk dengan sedikit penolakan. Bayangkan berapa 
besar jumlah manusia dinegara ini dengan tingkat pendidikan yang rendah, yang 
akan kurang mampu melakukan dekonstruksi opini. Ini bisa menjadi bola salju 
yang akan merusak dirinya sendiri. So, don't make it happen...
  
  Lalu disambung oleh Pangestu:
      Pangestu
  kalau boleh berbagi pemahaman sebetulnya ramal-meramal bagi yang mampu adalah 
realita adanya dan bagi yang awan mungkin suatu fiksi...yang bisa jadi realita 
kalau kita larut dalam sensasi sehingga mental terkondisi/tersuges ti...atau 
tetap menjadi fiksi kalau kita bisa menangkap esensi dan akal sehat mencari 
solusinya...
  
  dan ditutup oleh paparan cukup panjang dari Mas Leo sebagai berikut:
      Leonardo Rimba
  Tentang peramalan masa depan, mungkin saya tidak akan segegabah para peramal 
klenik. Di pihak lain, mungkin mereka akan menilai saya terlalu berani untuk 
meramalkan hal-hal yang ujung pangkalnya belum nampak sedikitpun pada saat 
ramalan dibuat. 
  
  Menurut idiosinkritas ilmu sosial, ramalan bisa dikategorikan sebagai 
"Fiksi". Sesuatu yang belum ada dasarnya, sesuatu yang hanya dikira-kira. 
Tetapi "Fiksi" yang ditambah dengan "Iman" akan menjadi Realita.
  
  ..........
  
  Saya hanya bisa memberikan masukan dari sudut pandang seorang praktisi 
transpersonal bahwa Realita adalah Fiksi yang dijalani dengan Iman. Apabila 
saya meramalkan sesuatu di masa depan dan orang yang diramalkan memberikan kata 
"Amin" dengan sepenuh hati, maka kemungkinan besar hal itu akan menjadi 
kenyataan. Makanya saya gak mau meramalkan yang jelek-jelek. Paling kalau ada 
hal yang jelek saya akan memberikan sudut pandang yang lebih positif, dan 
menarik si pelaku (orang yang diramalkan) untuk melihat dari sudut pandang yang 
lebih positif itu.
  
  Kemarin ada seseorang yang datang ke saya dan bilang bahwa apa yang saya 
ramalkan satu tahun lalu bagi dia ternyata terbukti semua. Tadi juga ada yang 
telpon saya dan bilang bahwa yang saya ramalkan terbukti. Hal-hal seperti itu 
sudah terlalu biasa bagi saya. Saya bahkan tak bisa ingat apa yang saya 
ramalkan itu.
  
  Nah, apakah yang saya katakan (ramalkan) pada masa lalu dan akhirnya terbukti 
itu bukan "Fiksi"? Menurut saya, semua ramalan itu adalah Fiksi. Fiksi yang 
dikeluarkan melalui Intuisi, dan dikatakan dengan persuasi dan logika yang 
rasional sehingga pelaku kehidupan (orang yang diramalkan) bisa menerimanya 
dengan iman.
  
  Nah, kalau seperti itu aturan permainannya di alam Transpersonal, apakah 
sudah pada tempatnya kalau kita mulai meramalkan hal-hal yang baik-baik saja 
untuk kalangan luas? Hal-hal yang positif saja, dan bukannya hal-hal yang 
negatif, yang jelek, yang cengeng, yang mengecewakan?
  
  Dari apa yang dipaparkan Jeni, Pangestu dan Mas Leo saya mencoba mengambil 
satu benang merah persoalan, yaitu: Keyakinan. Jeni melihat bahwa ketika orang 
hanya semata meyakini dan tak mampu melakukan dekonstruksi opini, maka 
kebodohanlah yang akan muncul. Ini tentu bukan hanya berlaku semata pada 
ramalan, tetapi prediksi ilmiahpun berpotensi menimbulkan kebodohan dan 
pembodohan jika diterima secara taken-for-granted.
   
  
  Persoalan Keyakinan ini bagi saya makin terlihat tajam pada pendapat 
Pangestu. Ramalan sebagai fiksi bisa menjadi realita kalau orang tersugesti, 
begitu kata Pangestu. Tetapi, apa yang menarik dari pendapat Pangestu adalah 
ajakan untuk mencari esensi dan solusi. Meski tidak bisa dibilang sama, namun 
terdapat kesimetrian dengan apa yang juga diucapkan Jeni melalui kata-kata 
kunci seperti: usaha, kerja keras, doa, dan dekonstruksi opini.
   
  
  Mas Leo mungkin memilih istilah iman untuk menamai apa yang saya katakan 
sebagai keyakinan di sini. Saya mungkin lebih menyukai istilah Keyakinan untuk 
menggambarkan ‘mahkluk’ yang sama dengan apa yang dinamai Leo sebagai iman, 
karena bagi saya keyakinan lebih netral dan tak membuat orang terjebak untuk 
semata merujuk pada agama. Sesuatu yang di-amin-i besar kemungkinan memang akan 
menjadi kenyataan, meski awalnya adalah sebuah ramalan atau sesuatu yang 
sifatnya fiksi.
   
  
  Dalam psikoanalisa, kata-kata akan terekam di bawah sadar dan menggerakkan 
manusia. Jika seseorang meyakini dirinya akan sukses sebagai pemain bola dan 
‘kata-kata’ itu terekam di bawah sadarnya, maka akan menggerakkan dirinya 
menuju apa yang memang telah di-amin-i sebagai keyakinan untuk sukses sebagai 
pemain bola. Konon, kekuatan kata-kata juga yang menjadi kunci dari hipnotis. 
Dan ngomong-ngomong tentang ‘melihat ke masa depan’ secara positif, mungkin 
sayang kalau Mas Bukik yang menjadi pakarnya tidak ikutan nimbrung. 
   
  
  Dan di sini, Leonardo Rimba mencoba memberi ‘esensi dan solusi’, seperti 
ajakan Pangestu, melalui cara hanya meramal yang bagus atau yang positif. 
Artinya, di setiap peristiwa selalu ada sisi positif dan negatif, dan yang 
perlu disugestikan agar menjadi keyakinan adalah sisi positifnya. Dan ini 
sah-sah saja karena sifatnya masih fiksi. Artinya, tidak bisa dikatakan bahwa 
apa yang dilakukan ini mengajarkan orang untuk lari dari kenyataan atau menolak 
sisi negatif dari realita. Wong belum jadi realita kok, masih fiksi.
   
  
  Dalam ilmu sosial juga terdapat sebuah metode penelitian yang disebut dengan 
scenario planning. Artinya, hasil dari penelitian itu bukan sekedar pembahasan 
atau kesimpulan, melainkan skenario. Tetapi, tunggu dulu. Walau namanya 
‘skenario’ tetapi ini sama sekali bukan ramalan atau pengungkapan sesuatu yang 
telah diskenariokan. Skenario di sini muncul dari kuadran-kuadran yang 
mempertemukan berbagai driving force, mulai dari hal dengan kriteria: Penting 
dan pasti, Tidak penting dan pasti, penting dan tidak pasti, serta tidak 
penting dan tidak pasti. Lalu, munculah semacam skenario untuk mensugestikan 
suatu suasana di 10 tahun mendatang. Tujuannya, seperti apa yang dikatakan Leo, 
agar yang positif itu di-yakini dan di-amin-i sehingga yang fiktif menjadi 
realita
   
  
  Di Indonesia, salah satunya pernah dilakukan oleh Kelompok Indonesia Masa 
Depan ketika di tahun 2000 membuat skenario Indonesia 2010. Masih di tahun 
2000, IISA bekerjasama dengan Komnas HAM juga pernah melakukan penelitian 
‘Skenario Maluku 2010’. Sebuah penelitian yang dilakukan di saat Maluku dilanda 
kerusuhan perang saudara. Pada tahun 2003, Amalia Ramananda, member Psikologi 
Transformatif yang ID-nya Lia Sexy itu, juga pernah melakukan penelitian 
menggunakan scenario planning yang diterapkan pada kehidupan berpasangan dan 
penelitian itu sempat menduduki peringkat ketiga dari 16 peserta dalam ajang 
Social Research Compeitition I. Semua skenario yang muncul dari penelitian 
berbasis scenario planning itu bertujuan untuk mensugestikan sesuatu agar 
tertanam di bawah sadar dan menggerakkan ke arah yang positif.
   
  
  Hal di atas tentu merupakan sesuatu yang sangat penting bagi transformasi 
atau pertumbuhan ke arah yang lebih baik. Saya setuju dan sependapat. Tetapi, 
tetap ada sebuah persoalan penting yang tak bisa kita lupakan di sini, yaitu 
bagaimana menjaga agar tak terjebak dalam utopia? Saya akan ambil contoh ketika 
masa Orba, bangsa ini diberi mimpi melalui repelita dan pelita untuk mencapai 
Masyarakat Adil Makmur. Tetapi saya nilai waktu itu terdapat keterjebakan dalam 
mimpi atau utopia, bukan sesuatu yang bersifat keyakinan seperti apa yang 
dibicarakan Leo, lebih mirip kekhawatiran seperti yang diungkapkan Jeni. 
   
  
  Dan kemudian, alih-alih mencapai tahap "Tinggal Landas" seperti 
didengung-dengungkan waktu itu, malah negeri ini menjadi "Tinggal Landasannya", 
artinya Pesawatnya yang mengangkut sudah tidak ada alias yang mempersatukan 
untuk satu tujuan menuju masyarakat adil makmur itu sudah tidak ada (dan karena 
memang sejak awal sudah tidak ada alias utopia]. Semua sekarang mau cari 
jalannya sendiri-sendiri. Itulah karena mimpi yang diletakkan di masa Orba tak 
lebih dari utopia. Bukan benar-benar mimpi bersama. Utopia yang dibangun untuk 
menutupi berbagai ketidakberesan. 
   
  
  Intinya, saya menangkap apa yang ingin disampaikan Jeni, Pangestu dan Mas Leo 
adalah bagaimana manusia berada dalam fiksi sekaligus realita dan itu sudah 
secara jenial dikemukakan mas Leo melalui cara hanya meramal yang positif 
karena di situlah fiksi positif akan menjadi realita positif. Tetapi masalah 
yang saya angkat lebih jauh bagaimana jika fiksi itu makin menjauhkan dari 
realita dan akhirnya malah membuat orang terjebak dalam alam fiksi seperti 
contoh masyarakat adil makmur di atas. 
   
  
  Nah, di sinilah saya merasa perlu mengundang rekan-rekan, baik yang sudah 
memberikan pendapat mengenai hal ini, Jeni, Pangestu dan mas Leo, maupun yang 
belum untuk sedikit memberikan ‘cahaya petromaks’ dengan nimbrung di sesi 
‘Meramal’ ini.
  
   
   
  ™Diskusi di Milis Psikologi Transformatif
  
   
   
  Saya mengundang rekan-rekan lain di luar milis psikologi transformatif untuk 
ikutan bergabung di milis Psikologi Transformatif dan nimbrung dalam diskusi 
mengenai "Fiksi dan Realita" yang sampai saat ini telah menyebar ke tiga ranah. 
Diharapkan dengan bergabungnya anda semua, bertambahlah ‘cahaya petromaks’ 
untuk menerangi diskusi ini dan semakin kaya wawasan yang diperoleh.
  
  Bagi mereka yang tertarik dengan tawaran ini, silahkan click: 
www.groups.yahoo.com/group/psikologi_transformatif 
  
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   
   

 
---------------------------------
Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels 
in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit.

Kirim email ke