CENDRAWASI POS

  
Sabtu, 13 Januari 2007



"Senjata Itu Sisa Kasus Lama" 



JAKARTA- Kapolri Jenderal Pol Sutanto menyatakan senjata yang diamankan dalam 
penggerebekan di jalan Pulau Jawa, Poso hari Kamis lalu merupakan senjata yang 
digunakan sejak lama. Senjata-senjata tersebut diyakini telah beredar ketika 
konflik di Poso mulai terjadi. "Itu adalah sisa-sisa dari (kerusuhan) yang 
lalu," kata Sutanto di Mabes Polri, kemarin. 

Dia menambahkan, senjata-senjata tersebut memang harus disita agar tidak lagi 
digunakan untuk keperluan yang bisa merugikan atau mengacaukan situasi. Langkah 
tersebut, lanjut Kapolri, akan diteruskan hingga senjata-senjata tersebut tidak 
lagi beredar di masyarakat.

 "Akan terus kita bersihkan," tegasnya. Seperti diberitakan, hari Kamis lalu 
tim Detasemen Khusus 88 Antiteror Mabes Polri melakukan penangkapan terhadap 
pelaku teror di Poso. Dalam peristiwa tersebut, polisi berhasil menyita 18 
pucuk senjata api berbagai jenis sebagai barang bukti. Lima pucuk tersebut 
merupakan senjata standar seperti Senjata Serbu (SS-1), M-16, GLM, dan 
revolver. 

Sebanyak 13 pucuk senjata lainnya senjata rakitan. Selain itu juga ditemukan 
bom rakitan, anak peluru, dan magazine. Sutanto juga mengatakan, Polri akan 
terus berupaya menciptakan situasi kondusif di Poso, di samping penegakan 
hukum. "Termasuk dalam penyelidikan tewasnya anggota Polri. Siapapun yang 
bersalah akan kita proses," katanya.

 Namun, lanjutnya, upaya tersebut tidak dilakukan dengan penambahan personel. 
Terpisah, Wakil Divisi Humas (Wakadiv Humas) Mabes Polri Brigjen Pol Anton 
Bachrul Alam mengatakan, sampai saat ini situasi di Poso tetap terkendali. 
Pengamanan tetap dilakukan seperti biasa tanpa adanya jam malam. "Jam malam 
tidak ada. Tetap saja seperti biasa.

 Hanya saja memang pengamanan lebih ditingkatkan," ujar Anton. Jenderal bintang 
satu itu meminta, masyarakat untuk tidak mudah terpancing pada pihak-pihak yang 
ingin memancing di air keruh. "Masyarakat agar lebih hati-hati. Jangan mudah 
terprovokasi pada isu-isu yang belum jelas," ujar Anton. Masyarakat juga 
diminta untuk bepergian jika memang tidak ada keperluan yang mendesak. (fal)

Kirim email ke