Beberapa hari yang lalu, secara bergurau saya berkata
kepada isteri saya, "Kau berani bertaruh dengan saya?
Sebentar lagi, untuk urusan Adam Air ini Presiden SBY
pasti akan membentuk tim lagi..." Karena itu saya jadi
tertawa terbahak-bahak ketika membaca berita seperti
termaktub di bawah ini.
Presiden SBY memang terlalu gemar membentuk
badan/komisi/tim atas berbagai persoalan yang timbul
di masyarakat, bangsa dan negara ini. Flu burung
merebak, bentuk tim. Lumpur di Porong muncrat dan tak
bisa disumpal, bentuk tim. Katering untuk jemaah haji
amburadul, bentuk tim. Terjadi musibah beruntun dalam
transportasi publik, bentuk tim.
Dasar dari pembentukan tim-tim tersebut hampir sama.
Menyelidiki masalah dan memberi saran perbaikan kepada
Presiden.
Saya jadi bertanya-tanya, kalau sebuah tim telah
memberikan analisis persoalan dan saran perbaikan,
lalu apa yang hendak dilakukan oleh Presiden? Apakah
dia akan memperbaiki sendiri setiap masalah yang ada,
atau membentuk tim lagi untuk melaksanakan perbaikan
tersebut, atau mengembalikannya kepada menteri yang
terkait?
Kalau pada akhirnya tokh dia harus mengembalikannya
kepada menteri yang terkait, mengapa pula sejak dari
awal tidak diperintahkannya saja menteri itu untuk
melakukan analisis dan memberikan saran-saran
perbaikan?
Lebih jauh lagi saya berpikir: Apa perlunya Presiden
untuk mengetahui secara dititil duduk perkara dan
saran-saran teknis perbaikan dari sebuah persoalan?
(Karena memang hanya analisis yang menditil dan saran
teknis-lah yang diharapkan dari sebuah tim).
Waktu dan tenaga presiden terlalu mahal kalau hanya
dijejali dengan berbagai persoalan tetek-bengek.
Cukuplah seorang presiden memahami garis-garis besar
persoalan dan implikasi politik yang ditimbulkannya.
Tentang "mengapa katering tak bisa dibagi pada
waktunya di Padang Arafah" atau "mengapa pesawat tua
sewaan itu rawan kecelakaan", itu biarlah menjadi
urusan Menteri, Dirjen atau Direktur di masing-masing
departemen.
Lagipula, para menteri yang katanya adalah pembantu
Presiden itu "ngapain" saja, kalau bukan melakukan
tugas-tugas seperti yang diuraikan di atas?
Alangkah enaknya seorang menteri dan alangkah
malangnya rakyat Indonesia, di bawah kepemimpinan
presiden yang "indecisive" seperti SBY ini.
Saya letih melihat seorang presiden yang terlalu gemar
memakai bahasa "orang sekolahan". Saya rasa sudah
saatnya Presiden berbicara lebih sebagai "orang pasar"
kepada menteri-menterinya. ("Hei, Hatta Rajasa, kau
bisa bereskan urusan transportasi ini, atau kau yang
kubereskan?! Hei, Miftah Basyuni, kau bisa bereskan
urusan penyelenggaraan haji ini, atau kau yang akan
kubereskan?! Hei Rahmat Witular dan Aburizal Bakri,
kalian bisa bereskan lumpur Lapindo itu, atau kalian
yang kubereskan?!").
Kalau partai-partai (yang penuh dengan preman itu)
pada ribut, karena orang-orangnya yang menjadi menteri
di-"bereskan", maka saya ingin Presiden juga bisa
berbicara dengan gaya preman kepada mereka. ("Hei,
diam kowe semua! Yang memilih aku adalah rakyat, bukan
kowe....").
Akhirnya, meminjam teriakan kondektur Metromini
jurusan Senen--Semper, izinkan saya berkata: "Hayoooh,
SBY! Ada yang m'rapat di belakang. Tancaaap! Libaaas!"
Horas,
Mula Harahap
Presiden Bentuk Lagi Tim Nasional
Laporan Wartawan Kompas Suhartono
JAKARTA, KOMPAS - Presiden Susilo Bambang Yudhoyono,
Kamis (11/1) malam, telah menandatangani Keputusan
Presiden (Keppres) Nomor 3 Tahun 2007 tentang
Pembentukan Tim Nasional untuk Evaluasi Keselamatan
dan Keamanan Transportasi.
Menurut Juru Bicara Presiden, Andi Mallarangeng, yang
memberikan keterangan pers sebelum mengikuti kunjungan
Presiden Yudhoyono mengikuti KTT ASEAN di Bandar Udara
Halim Perdanakusuma, Jakarta, Jumat (12/1) pagi,
pembentukan timnas itu didasari adanya keresahan dan
kecemasan masyarakat dengan adanya kecelakaan
transportasi selama kurun waktu lima tahun terakahir
ini.
Timnas akan bekerja selama tiga bulan untuk melakukan
investigasi dan penelitian, termasuk mengevaluasi
regulasi terhadap prosedur dan standar penerbangan
dan pelayaran, guna perbaikan keamanan dan
keselamatan transportasi.
Presiden Yudhoyono mengangkat mantan Kepala Staf TNI
Angkatan Udara, Marsekal (Purn) Chappy Hakim sebagai
Ketua Timnas dibantu oleh Wakil Ketua Budi Mulyawan
Suyitno dan sekretaris Laksamana Muda (Purn) Yuyun
Riyanto. Anggotanya empat orang, yaitu Otario Diran,
Yusman SD, Priyatna Abdulrasyid dan Tengku
Burhanuddin.
Ditanya apakah Timnas tidak akan tumpang tindih dengan
Komite Nasional Keselamatan Trasnportasi (KNKT) yang
sudah dibentuk sebelumnya, Andi menyatakan tidak.
"KNKT adalah salah satu bagian dari timnas tersebut.
Timnas juga bisa bekerja sama dengan pihak-pihak
terkait lainnya," tambah Andi.
Disinggung pers bahwa Presiden Yudhoyono sekarang ini
hobi membentuk tim, Andi menjawab, "Yang penting bagi
Presiden adalah bagaimana mendapatkan masukan untuk
segera bisa melakukan perbaikan-perbaiakan dalam hal
keselamatan dan keamanan transportasi."
Sementara, Tim Evaluasi dan Invstigasi Haji yang belum
lama dibentuk Presiden Yudhoyono, diakui Andi hingga
kini belum memberikan hasil awal mengenai perkembangan
investigasi dan evaluasinya terkait keterlambatan
pasokan makanan bagi jamaah haji. Tim diakui baru
berjalan seminggu, dari tiga minggu waktu yang
diberikan Presiden.
____________________________________________________________________________________
Cheap talk?
Check out Yahoo! Messenger's low PC-to-Phone call rates.
http://voice.yahoo.com