Bung Charles, Anda sepertinya tipe orang yang yang suka membela diri dengan mengenalisir masalah. Kalau soal menggunakan jalan raya, ac di kantor gubernur, Anda sebutkan sebagai memakan uang rakyat, Anda memang benar-benar naif.
Soal mengapa saya cenderung anti Porwanas? Karena menurut saya, sudah saatnya wartawan di pandang sebagai profesi yang setara dengan profesi lain, semisal dokter, pengacara, pilot atau yang lainnya. Wartawan sebagai profesi tidak boleh dianakemaskan oleh pemerintah dengan memberikan anggaran milyaran. Semetara organisasi profesi lain tidak. (Saya sebut demikian, bukan berarti saya menyarankan pemerataan, agar semua organisasi profesi mendapat bantuan pemerintah). Sebagai anggota PWI, Anda pasti sangat menikmati fasilitas yang tiap tahun dikucurkan pemerintah, mulai dari kantor milik pemerintah sampai bantuan dana ini-itu yang teramat mudah dikucurkan untuk organisasi Anda. Bagaimana jadinya negeri ini kalau semua organisasi merasa iri pada wartawan dan membuat kegiatan serupa semacam Porwanas? Ada Pekan Olahraga Dokter, Pengacara, Guru dan profesi lainnya secara Nasional. Betapa beratnya beban anggaran pemerintah, jika semua kegiatan itu harus didanai pemerintah. Sudah pasti penyedotan anggaran tersebut, akan mengurangi porsi peningkatan kesejahteraan rakyat, kelompok yang paling berhak atas APBD atau APBN. Saya yakin, jika dokter, guru atau profesi lain mengajukan anggaran untuk kegiatan semacam Porwanas, pemerintah tidak akan mudah mengabulkan,jikapun dikabulkan, jumlahnya pasti ala-kadar, namanya juga bantuan. Beda dengan PWI, meski bantuan, namun jumlahnya lebih dari cukup. Mengapa pemerintah begitu mudah memberikan bantuan milyaran kepada PWI, karena pemerintah ingin menjalin kerjasama saling menguntungkan dengan PWI (media massa). Fungsi kontrol itu yang ingin dikebiri. Payahnya, di tubuh PWI sangat banyak kelompok yang memanfaatkan kondisi ini untuk mencari keuntungan. Setahu Saya, kelompok ini bukan wartawan profesional, maksudnya hidup dari gaji dari profesi mereka. Bahkan banyak yang tak bergaji, karena medianya tak jelas. Tugas jurnalisnya tak jelas, karena itu kelompok ini memiliki banyak waktu untuk mengadakan kegiatan semacam Porwanas. Kalau mereka bekerja untuk media jelas, saya yakin sulit untuk membagi waktu antara menyukseskan kegiatan dan tuntutan tugas sebagai jurnalis. Tentang Anda, Bung Charles, saya tak tahu apakah Anda masuk kelompok ini? Tak bergaji dari medianya dan tak jelas kegiatan jurnalisnya, sehingga Anda memiliki sedemikian banyak waktu untuk menguruskan Porwanas. Mengenai saya, silahkan Anda berkunjung ke www.riauterkini.com. Terakhir, salam saya untuk teman Bung Charles, namanya Wiwid Mardhaendra Wijaya, ketika di Riau, saya sempat bersama dia menjadi nara sumber bincang-bincang di SmartFM, bahas Porwanas. Maaf kalau saya membuat Anda tersinggung, tetapi saya tak bisa berkata lain, karena sungguh, saya ingin profesi ini kembali bermarwah, dan tidak ditunggangi banyak pihak yang tak bertanggung jawab secara profesi. Maafkan saya, ahmad s.udi --- charles siahaan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > Terima kasih Bung Ahmad Suudi mengingatkan soal > potensi adanya korupsi itu. Insyaallah saya tidak > termasuk dalam yang Anda duga itu. Saya sama sekali > tidak terlibat dalam soal anggaran. > Tapi Anda sepertinya anti sekali dengan memakan uang > rakyat. Saya sungguh bingung dengan cara pandang > itu. Sebab sebenarnya setiap hari Anda juga > menikmati uang rakyat itu. Anda berada di jalan raya > itu uang rakyat, Anda merasa sejuk kena AC di kantor > gubernur itu juga uang rakyat. Anda beli bensin, > memakai fasilitas PLN, dll, itu juga uang rakyat. > Rakyat dibebani oleh negara dalam bentuk > pajak, sehingga kita memang berhak atas semua > fasilitas menggunakan uang rakyat itu. Kalau > Porwanas Kaltim menggunakan uang rakyat Kaltim, > sebenarnya uang tersebut adalah hak rakyat Kaltim. > Tidak ada kaitannya dengan Anda yang orang Riau. > Yang boleh protes itu orang Kaltim, karena mungkin > anggaran Rp10 Miliar yang semestinya bisa bangun > seratus rumah sederhana, tapi digunakan untuk sebuah > pesta olahraga. > Tapi orang Kaltim ternyata tidak marah. Sampai > menjelang pelaksanaan Porwanas tak ada demo soal > anggaran tersebut. Semua mulus. Saya juga bertanya, > kok orang Kaltim begitu? > Asumsi saya, dengan anggaran APBD Kaltim yang > mencapai Rp4,2 Triliun untuk tahun 2007, angka Rp10 > Miliar adalah kecil dibanding dengan apa yang akan > diperoleh dari kegiatan nasional ini. Angka Rp10 > Miliar adalah kecil untuk sebuah promosi daerah > bahwa orang Kaltim sudah punya stadion stadion > olahraga yang bagus. Orang Kaltim sanggup menjadi > tuan rumah PON, tuan rumah SEA Games, Asian Games. > Tapi, sungguh saya salut dengan idealisme yang > Anda bangun. Seandainya saya Suryo Paloh, Yacob > Oetama atau Dahlan Iskan, tentu saya akan pelihara > orang seperti Anda. Sebab jika dalam sebuah media > semuanya seperti Anda -- yang mengaku tidak mau > makan uang rakyat -- tentu keuntungan besar yang > akan saya peroleh. Sebuah branded media yang bagus. > Semua pengelola media berlomba mendapatkan > brand sebagai media independen, idealisme. Hanya > dengan cara mempertahankan nilai-nilai itu media > menjadi laku dan diterima pasar. Kalau koran laku, > maka yang untung adalah pengelola medianya. Jadi -- > faktanya, orang seperti Anda dengan idealismenya > menjadi peliharaan para kapitalis media. Itu masalah > kita! > > Wasalam, > > chs > == > > > > > ----- Original Message ---- > From: ahmad su'udi <[EMAIL PROTECTED]> > To: [email protected] > Sent: Wednesday, January 10, 2007 8:40:57 PM > Subject: Re: [mediacare] Renungan untuk Bung > Charles: Porwanas PWI > > Dugaan saya ternyata benar: Anda memang bagian dari > kegiatan yang menyedot uang rakyat tersebut. > Bung Charles, apa yang saya sampaikan tak sekedar > menduga-duga, tetapi sudah terindikasi. Ada fakta > awal > yang menguatkan adanya dugaan praktek korupsi dalam > penggunaan dana rakyat pada penyelenggaraan Porwanas > di Riau. Asumsi saya, jika Porwanas di Riau dengan > dana Rp 6 miliar sudah membuka peluang besar terjadi > penyimpangan, konon lagi dengan dana Rp 10 miliar, > sebagaimana yang akan digelar di Kaltim. > Anda bisa saja sangat yakin tidak akan terjadi > penyimpangan dan mengaku bisa tidur tenang, tetapi > satu hal yang harus Anda ingat, di negeri ini para > koruptor tetap saja bisa tidur tenang, apakah itu > berarti di negeri ini tak ada tindak korupsi? > Negeri ini juga terlalu banyak belajar dengan cara > studi banding ke mana-mana, tetapi apakah ada yang > terperbaiki? Ternyata justru sebaliknya. Kondisi > negeri ini terus bertambah parah. Jadi, meskipun > Panitia Porwanas Kaltim belajar dari Riau, saya > justru > khawatir justru pelajaran negatif yang ditiru. > Kalau saya cetuskan ide reorentasi Porwanas > tujuannya adalah kesetaraan dan kebersamaan. PWI, > PJI, > AJI dan IJTI adalah sama: organisasi profesi. Tidak > layak kegiatan bernama Hari Pers Nasional hanya > untuk > PWI. Tak layak juga sebuah kegiatan yang > mengatas-namakan wartawan secara nasional hanya > melibatkan wartawan dari sebuah organisasi. > Reorentasi yang saya cetuskan bukan untuk meratakan > keterlibatan organisasi wartawan lainnya dalam > menikmati APBD/APBN, Anda terlalu naif. Alangkah > baiknya jika kegiatan wartawan secara nasional > (kalau > saya cenderung dikemas semisal jambore) menggunakan > anggaran patungan dari perusahaan media. Saya yakin > perusahaan media sekelas RCTI, SCTV, Kompas, > TransTV, > MetroTV dan lainnya mampu mengucurkan dana. Tak > perlu > dana miliaran, yang penting kebersamaan dan > pengingkatan kualitas profesionalitas wartawan > tercapai. > > Menurut saya, untuk sehat tak perlu ikut Porwanas. > Saya setiap pekan main bola tiga kali. Alhamdulillah > membuat badan bugar. > > Mengenai manipulasi kartu pers oleh PWI dalam setiap > Porwanas, itupun tak pernah dijadikan pelajaran. > Terulagn selalu. Akibatnya kericuhan, bahkan sampai > adu jotos mewarnai nyaris di setiap penyelenggaran > Porwanas. Kalau kondisinya seperti itu, apakah > sebagai > wartawan (kecuali Anda bukan wartawan betulan) tidak > merasa malu? Porwanas jadi ajang menipu dan adu > jotos! > > Terakhir sedikit ralat, BPK itu bukan Badan Pengawas > Keuangan, tetapi Badan Pemeriksa Keuangan. > > salam orang riau yang resah > > ahmad s.udi > --- charles siahaan <nunukannews@ yahoo.com> wrote: > > > Halo, > > > > Bung Ahmad, Anda begitu fasih menduga-duga bakal > ada > > korupsi di Porwanas Kaltim. Sepertinya Anda > termasuk > > wartawan yang gemar melempar isu, fitnah dan > > petakompli, tanpa mau merasakan apa dan bagaimana > > perasaan lawan bicara Anda. > > Semua yang menggunakan uang rakyat, wajib > > dipertanggungjawabk an. Begitu pula dengan Panitia > > Porwanas Kaltim dengan Rp10 Miliar-nya. > > Alhamdulilah, sebagai sekretaris panitia Konvensi > > Media Massa, saya bisa tidur nyenyak sekali. No > > problem. > > Panitia Kaltim juga belajar dari panitia > > Porwanas Riau -- kampung Anda itu. Agar tidak > > terjerat kasus korupsi, yang pertama dilakukan > > adalah memadukan niat bersama-sama bahwa tidak > boleh > > ada korupsi di sini. Maka sistim pengelolaan > > keuangan mengikuti aturan baku pemerintah. Ada > orang > > BPK (Badan Pengawas Keuangan) dan Bawasprov. Untuk > > pembelian barang-barang juga tetap mengacu UU No > 80 > > tahun 2003 tentang tender. > > Sikap Anda yang ingin sekali mereorientasi > > Hari Pers Nasional dan Konvensi Media Massa adalah > > sikap yang terpuji. Itu patut diperjuangkan > bersama. > > Tapi rasanya dalam undangan yang kami terima dari > > panitia pusat PWI, hampir semua organisasi > wartawan > > yang Anda sebutkan diundang. Atau apakah > reorientasi > > yang Anda maksud bahwa organisasi wartawan lain > juga > > ingin jadi penyelenggara HPN atau Konvensi dengan > > menggunakan dana APBD / APBN? > > Kalau dalam setiap Porwanas ada manipulasi > > soal identitas wartawan, nah itu memang adalah > > persoalan lain dari manajemen pengelola media > massa. > > Tidak ada kaitan dengan Porwanas... Sampai sejauh > > ini, yang saya tahu tentang Porwanas adalah Pekan > > Olahraga Wartawan Nasional. Dalam kamus bahasa > > Indonesia "olahraga" adalah kegiatan yang > > menyehatkan badan. Jadi, saya tidak naif soal itu. > > Terima kasih atas fitnahnya.. > > > > > > Charles Siahaan > > > > ============ = > > > > > > ----- Original Message ---- > > From: ahmad su'udi <akulahahmad@ yahoo.com> > > To: [EMAIL PROTECTED] ps.com > > Sent: Tuesday, January 2, 2007 7:58:18 AM > > Subject: [mediacare] Untuk Charles Siahaan - > Re:Kita > > Munafik Soal Jurnalistik > > > > --- charles siahaan <nunukannews@ yahoo.com> > wrote: > > > === message truncated === ____________________________________________________________________________________ Now that's room service! Choose from over 150,000 hotels in 45,000 destinations on Yahoo! Travel to find your fit. http://farechase.yahoo.com/promo-generic-14795097
