Pak Wiloto, Seperti biasa artikel bapak sungguh menarik dan bermanfaat. mungkin bisa dijelaskan, bagaimana caranya perekonomian Indonesia saat ini, terutama dari Investasi PMDN dan PMDA kok mandeg.
Juga kita bisa berpikir, bagaimana caranya membuat Konglomerat lebih tertarik kepada negara Indonesia, bukankah kita lihat bahkan India, Timur Tengah, Australia, Belanda, Jepang, China dan Amerika saja melihat manisnya ekonomi negara kita. Seperti artikel di Tempo Interaktif dibawah ini. salam, Goenardjoadi Goenawan Australia dan India Beli Bank Lokal Selasa, 12 Desember 2006 | 08:34 WIB TEMPO Interaktif, Jakarta:Bank asing makin gencar membeli bank-bank di Indonesia. Bank Indonesia saat ini sudah menerima rencana dari Bank Commonwealth (Australia) yang akan mengakuisisi PT Bank Artha Niaga Kentjana Tbk. dan Bank of India akan mengambil alih PT Bank Swadesi Tbk. "Mereka akan mengambil 50 persen saham, tidak sampai 100 persen, karena masih mempertimbangkan perlunya pemegang saham lokal," kata Deputi Gubernur Bank Indonesia Siti Ch. Fadjrijah. Fadjrijah menambahkan, rencana akuisisi itu telah mencapai tahap kesepakatan perjanjian atau sales purchasing agreement. "Closing (penutupan transaksi) kuartal pertama tahun depan," katanya. Sejumlah investor asal Timur Tengah sebelumnya juga sudah menyatakan minatnya untuk membeli bank-bank yang ada di Tanah Air. Investor asal Timur Tengah ini terutama mengincar bank syariah atau konvensional yang memiliki unit syariah. Selain Al-Barakah, yang berminat mengambil alih bank di Indonesia, menurut Fadjrijah, BI telah bertemu dengan Sedco. Investor asal Arab Saudi itu kini memiliki 21,2 persen saham di Bank Muamalat. "Sedco punya dua rencana: menambah modal di Bank Muamalat atau membeli salah satu bank lokal dan dimerger dengan Bank Muamalat untuk menjadi satu bank syariah besar," katanya. Sedangkan Kuwait Finance House, yang pernah menyatakan minatnya, menurut Fadjrijah, sampai sekarang belum juga merealisasi rencananya. Bank of India telah menandatangani perjanjian jual-beli saham bersyarat (conditional sale and purchase shares agreement) di Jakarta kemarin untuk mengakuisisi 76 persen saham Bank Swadesi. Banyaknya akuisisi bank kecil di Indonesia oleh bank asing terkait dengan kebijakan konsolidasi perbankan oleh BI, yang mensyaratkan modal minimum yang dimiliki bank sebesar Rp 80 miliar pada akhir 2007 dan Rp 100 miliar pada 2010. Hingga saat ini, tercatat, beberapa bank kecil telah diambil alih kepemilikannya oleh asing, seperti Bank Haga dan Bank Hagakita telah menyepakati diakuisisi oleh Rabobank International, salah satu bank koperasi asal Belanda. Bank Nusantara Parahyangan didekati investor Jepang, yakni Acom Ltd. serta konsorsium Bank of Tokyo, Mitsubishi, dan UFJ Ltd., yang kesepakatan perjanjiannya telah ditandatangani pada 27 November lalu oleh para pemegang saham. Industrial and Commercial Bank of China, bank terbesar di Cina yang baru saja memperoleh dana besar hasil penjualan saham perdana bulan lalu, juga tengah merampungkan negosiasi dengan Bank Halim asal Surabaya, yang dimiliki kelompok Gudang Garam. Suryani Ika Sari/Rr Ariyani --- In [email protected], Christovita Wiloto <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > > > Doa Nasional > > Oleh: Christovita Wiloto > Managing Partner Wiloto Corp Asia Pacific > [EMAIL PROTECTED] > www.wiloto.com > > Awal tahun 2007 harusnya diwarnai dengan sukacita, karena berjuta harapan baru tercipta. Namun, hampir semua koran di awal tahun itu justru berwajah muram. Di halaman depannya terpampang berita yang semuanya bernada sedih. Mulai dari hilangnya pesawat Adam Air bernomor penerbangan KI 574 beserta 102 penumpangnya, tenggelamnya Kapal Motor Senopati Nusantara yang mengangkut lebih dari 600 orang, hingga banjir besar yang melanda sejumlah daerah sejak akhir 2006. > > Raibnya pesawat Adam Air pada Senin (1/1) sore tergolong amat misterius. Sebab, hingga tulisan ini dibuat, reruntuhan pesawat nahas itu belum ditemukan. Meski berbagai cara telah dilakukan, mulai dari mengerahkan ribuan personel TNI-Polri dan Tim SAR, hingga memanfaatkan peralatan super canggih, seperti satelit mata-mata dari AS. Tak ketinggalan, sejumlah paranormal dan dukun pun dimintai pertolongan. > > Buntutnya, berbagai spekulasi pun dikemukakan, mulai dari meledak di udara, jatuh berkeping-keping di darat, hingga ditelan pusaran laut dalam. Namun, semua hasilnya nihil. > > Uniknya, sehari setelah musibah itu (Selasa, 2/1 siang), sempat tersiar kabar ditemukannya reruntuhan pesawat Adam Air di Desa Ranoan, Matangga, Kabupaten Polewali Mandar, Sulawesi Barat. Bahkan dilaporkan kondisi pesawat hancur karena menabrak gunung. Berdasarkan laporan warga desa setempat, pesawat jatuh sekitar pukul 16.00 WITA. Dari semua 102 penumpang, sekitar 90 orang tewas, dan selebihnya selamat. > > Kabar itulah yang kemudian diralat oleh Menhub Hatta Rajasa dan Ketua Tim SAR Gabungan yang juga Komandan Lanud Hasanuddin, Marsekal Pertama, Eddy Suyanto, pada hari yang sama (Selasa, 2/1 sore). Pasalnya, tim evakuasi tak menemukan apa pun di lokasi yang disebut sebagai tempat jatuhnya pesawat. > > Meski kalah pamor dengan musibah Adam Air, tenggelamnya Kapal Motor Senopati Nusantara di perairan sekitar Pulau Mandalika, Jepara, sebenarnya juga layak jadi berita utama. Pasalnya, dari 600- an lebih penumpang, baru separuh yang ditemukan. Artinya, ratusan penumpang lainnya masih hilang. > > Sementara, jumlah korban meninggal dunia dalam musibah banjir di Kabupaten Aceh Tamiang, NAD, hingga akhir 2006 mencapai 71 orang. Sedangkan di Kabupaten Langkat, Sumatera Utara mencapai 70 orang. > > Menteri Dalam Negeri M Ma`ruf usai diterima Presiden Susilo Bambang Yudhoyono (SBY) Jumat (29/12) mengatakan, selain 70 orang meninggal dunia di Aceh Tamiang, sekitar 169 dinyatakan hilang dan belum ditemukan, sementara sebanyak 203.000 orang mengungsi. Sedangkan korban musibah banjir di Kabupaten Langkat, jumlah korban hilang memang cuma delapan orang, namun pengungsi mencapai 7.088 orang. > > Tentu saja jumlah korban di atas bukan sekadar angka-angka belaka. Tapi ini menyangkut nyawa manusia. Artinya, semua itu menambah panjang daftar korban bencana yang tidak kunjung reda ini. > > Sebelumnya, pada 26 Desember 2004, terjadi gempa bumi besar yang diikuti tsunami hebat di NAD. Badan Meteorologi dan Geofisika (BMG) menentukan pusat gempa di 2,9 LU-95,6 BT, pada kedalaman 20 km, dengan kekuatan 6,8 Skala Richter (SR). Sedangkan lokasi yang ditentukan oleh United States Geological Survey (USGS) ada pada 3,4 LU-94,7 BT dengan kekuatan 8,1 SR. > > Terlepas dari perebedaan skala gempa antara BMG dan USGS, tsunami yang ditimbulkan oleh gempa utama di sekitar Pulau Nias itu terasa sampai ke Banda Aceh, Pulau Weh, Biruen, Lhok Seumawe, serta sebagian Pantai Timur Aceh. Tsunami juga melanda daerah pantai negara-negara lain diantaranya: Malaysia, Thailand, Myanmar, Srilangka, India, Somalia, Maldives, Tanzania, Bangladesh, Seychelles, Maladewa, Cocos Island, dan Mauritius. Total tak kurang dari 200.000 orang tewas dalam tragedi yang mengerikan itu. > > Lalu, setahun kemudian, persisnya Mei 2006 gempa hebat melanda DI Yogjakarta, dan Jawa Tengah. Kekuatan gempa tektonik itu cukup besar, yakni 5,9 SR menurut BMG, atau 6,2 SR versi USGS. > > Korban tewas menurut laporan terakhir dari Depsos, pada 1 Juni 2006 mencapai 6.234 orang. Rinciannya, DI Yogyakarta 165 orang, Kulon Progo 26 orang, Gunung Kidul 69 orang, Sleman 326 orang, Klaten 1.668 orang, Magelang 3 orang, Boyolali 3 orang, Purworejo 5 orang, Sukoharjo 1 orang dan korban terbanyak di Bantul 3.968 orang. > > Sementara korban luka berat sebanyak 33.231 orang dan 12.917 lainnya menderita luka ringan. Kabupaten Bantul merupakan daerah yang paling parah terkena bencana. Informasi menyebutkan sebanyak 7.057 rumah di daerah ini roboh. > > Secara geografis, posisi Indonesia memang berada di wilayah yang disebut "Pacific Ring of Fire" (Cincin Api Pasifik). Ini merupakan daerah yang sering mengalami gempa bumi dan letusan gunung berapi yang mengelilingi cekungan Samudra Pasifik. Daerah ini berbentuk seperti cincin dan mencakup wilayah sepanjang 40.000 km. > > Belum lagi bencana Lumpur Panas Lapindo, kebakaran hutan dan lain- lainnya yang terjadi karena ulah manusia. > > Sebagai bangsa yang beriman, kita harus menyadari semua musibah itu adalah tanda-tanda kebesaran Tuhan YME. Yang mengingatkan agar kita tak menjadi jumawa, karena kita tak ada artinya apa-apa dibanding kekuasaan Tuhan. Kita hanya hidup dari belas kasihan Tuhan. > > Dengan kesadaran itu, rasanya kita bangsa Indonesia, sudah selayaknya untuk segera melakukan pekan doa nasional bersama. Memohon perlindungan dan belas kasihan Tuhan YME. Doa nasional ini dapat dilakukan serempak selama seminggu penuh dengan melibatkan seluruh masyarakat dari berbagai golongan dari Sabang sampai Marauke dan di tempat ibadah masing-masing. > > Jika kita lakukan dengan penuh keikhlasan, penuh kekhusukan, dengan semata-mata menyerahkan diri dan takut kepada Tuhan YME, memohon agar negeri kita dijauhkan dari bencana dan dimudahkan untuk mencapai kemakmuran dan kesejahteraan. Niscaya Tuhan mau berbelas kasihan pada bangsa kita. Inisiatif inilah yang kita tunggu-tunggu dari para pemimpin kita. >
