Kepemimpinan tegas dibutuhkan bagi penanggulangan AIDS jangka panjang di Asia Tenggara
Laporan UNAIDS kepada para pemimpin negara-negara ASEAN mengakui adanya perkembangan di wilayah Asia Tenggara namun memperingatkan bahwa masih banyak yang harus dilakukan untuk menanggulangi 'salah satu tantangan terbesar abad ini'. Cebu, Filipina, 13 Januari 2007 - "AIDS bukan sekedar badai yang lewat namun merupakan ancaman jangka panjang bagi pembangunan dan keamanan nasional di Asia," Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS (UNAIDS) melaporkan dalam 'Sesi Khusus mengenai HIV/AIDS' Pertemuan Tingkat Tinggi Association of Southeast Asian Nations (ASEAN) yang ke-12, yang telah berlangsung Sabtu, 13 Januari di kota Cebu, Filipina. Laporan khusus dari Direktur Eksekutif UNAIDS dan Wakil Sekretaris Jendral PBB Dr Peter Piot mengenai situasi epidemi AIDS secara global, dalam wilayah ASEAN, serta tantangan-tantangan yang dihadapi negara-negara telah diberikan dalam Sesi Khusus kepada para pemimpin dari 10 negara ASEAN. Ini merupakan pertama kalinya sebuah badan eksternal diundang untuk memberikan penjelasan kepada para kepala negara mengenai AIDS. "Kita masih dalam fase awal epidemi di Asia dan harus melipatgandakan serta mempertahankan upaya-upaya kita, jangan pernah lalai," laporan UNAIDS menyebutkan berdasarkan temuan-temuan dari AIDS Epidemic Update 2006 yang dikeluarkan UNAIDS bersama World Health Organization (WHO). Laporan AIDS Epidemic Update tersebut menunjukkan bahwa lebih banyak orang terinfeksi HIV pada tahun 2006 dibandingkan tahun-tahun sebelumnya, dan bahwa di Asia, epidemi yang paling parah terjadi di wilayah ASEAN dimana di beberapa negara orang dewasa yang hidup dengan HIV dapat mencapai hingga 1.5% penduduk. "Kenyataan yang paling mengkhawatirkan untuk negara-negara ASEAN adalah bahwa AIDS berdampak terhadap bagian paling produktif dari populasi ASEAN, yaitu tenaga kerja yang menjadi motor bagi perkembangan ekonomi wilayah ini," laporan tersebut menyatakan. Menggarisbawahi AIDS sebagai 'salah satu tantangan terbesar abad ini', laporan tersebut menyatakan bahwa ancaman terbesar adalah terhadap keberhasilan hampir semua Tujuan Pembangunan Milenium di wilayah ASEAN. Namun UNAIDS juga menegaskan bahwa masih ada peluang-peluang untuk melaksanakan upaya jangka panjang menanggulangi epidemi ini. Keterlibatan yang berarti dari komunitas serta masyarakat sipil - khususnya mereka yang hidup dengan HIV - dalam upaya penanggulangan AIDS nasional harus menjadi prioritas. Pentingnya kepemimpinan pribadi dari para kepala negara untuk AIDS ditekankan. "Ancaman AIDS tidak akan hilang hanya dalam satu atau lima tahun. [UNAIDS] dan dunia menggantungkan harapan kepada kalian untuk kepemimpinan yang berkelanjutan untuk AIDS," laporan tersebut menyatakan. Laporan tersebut juga menyebutkan beberapa negara di wilayah ASEAN yang telah mencapai kemajuan yang signifikan dalam memastikan bahwa komunitas-komunitas yang paling rentan, termasuk remaja, pekerja seks serta klien mereka, laki-laki yang berhubungan seks dengan laki-laki, dan pengguna napza suntik, mendapatkan prioritas dalam upaya penanggulangan AIDS. Pada jangka pendek, peningkatan skala serta cakupan program-program tersebut yang berfokus kepada orang-orang yang paling berisiko di wilayah ini sangat dibutuhkan. Pada saat yang sama, program-program juga perlu untuk mempertimbangkan pemicu epidemi dalam negara-negara seperti ketimpangan jender, homofobia serta stigma yang terkait dengan HIV. Menyusul Sesi Khusus ini, para pemimpin ASEAN diharapkan untuk mengadopsi sebuat Deklarasi mengenai AIDS, menegaskan komitmen mereka untuk memprioritaskan, memimpin serta memperkuat program-program AIDS nasional untuk memastikan kebijakan-kebijakan serta program-program akan merespon kepada orang-orang yang paling berisiko dan yang paling membutuhkan di dalam wilayah ASEAN. Sekretaris Jendral ASEAN: komitmen serta political will merupakan kunci upaya penanggulangan AIDS. Dalam laporannya kepada Sesi Khusus, Sekretaris Jendral ASEAN Ong Keng Yong mengatakan bahwa "komitken terhadap kepemimpinan serta political will merupakan kunci dalam menghadapi tantangan yang diakibatkan oleh penyebaran HIV dan AIDS". Sekretaris Jendral Ong melaporkan kepada para pemimpin ASEAN mengenai perkembangan yang dicapai sejak 2001 saat Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN ke-7 di Brunei Darussalam dimana untuk pertama kalinya Sesi Khusus mengenai HIV dan AIDS digelar, dan mengadopsi Program Kerja ASEAN ke-2 untuk HIV/AIDS. Sepanjang 2002-2005, upaya-upaya regional telah menyumbangkan kepada peningkatan kemampuan negara-negara anggota ASEAN untuk secara efektif merespon terhadap epidemi AIDS, serta peningkatan keterlibatan masyarakat sipil. Mr Ong juga mengatakan poin-poin inti kegiatan untuk 2006-10 melalui rencana kerja operasional bagi program regional ASEAN ketiga untuk HIV dan AIDS. Respon ASEAN di masa mendatang akan melibatkan inisiatif multi-sektoral, serta kemitraan yang lebih dekat lagi dengan sektor swasta, masyarakat sipil, serta orang-orang yang hidup dengan HIV. Ia menegaskan elemen-elemen utama Deklarasi pada Pertemuan Tingkat Tinggi ASEAN ke-12 Sesi Khusus untuk HIV dan AIDS yang akan diadopsi oleh para pemimpin ASEAN. Mr. Ong menekankan "komitmen untuk mengintegrasikan HIV dengan prioritas-prioritas pembangunan untuk mengurangi baik dampak pembangungan penularan HIV, maupun dampak epidemi HIV terhadap pembangunan, yang konsisten dengan komitmen ASEAN terhadap Tujuan Pembangunan Milenium serta keputusan Sidang Umum PBB tahun 2006". Ke 10 negara ASEAN adalah: Brunei Darussalam, Kamboja, Indonesia, Lao PDR, Malaysia, Myanmar, Filipina, Singapura, Thailand, Viet Nam. Informasi lebih lanjut: Doris Mongaya | UNAIDS Filipina | tel. +63 9 167 36 94 63 | [EMAIL PROTECTED] Beth Magne-Watts | UNAIDS Jenewa | tel. +41 22 791 5074 | [EMAIL PROTECTED] UNAIDS, Program Bersama Perserikatan Bangsa-Bangsa untuk HIV/AIDS mempersatukan upaya dan sumberdaya 10 lembaga PBB bagi upaya penanggulangan AIDS global. Para kosponsor termasuk UNHCR, UNICEF, WFP, UNDP, UNFPA, UNODC, ILO, UNESCO, WHO dan World Bank. Berkantor pusat di Genewa, sekretariat UNAIDS juga bekerja di lebih dari 80 negara di seluruh dunia. Kunjungi website UNAIDS di www.unaids.org <http://www.unaids.org/>
