Selamat siang. Bolehkah saya memuat tulisan ini di www.rakyatmerdeka.co.id.
Kalau boleh, terima kasih, dan apa yang harus saya tulis sebagai autentifikasi
penulis.
Teguh
kh anam <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Buat para
pembaca media!
Sengaja saya beri judul seperti itu agar kamu mau membacanya. Kata-kata itu,
"Flu Burung adalah cara bisnis yang BUSUK!!!" pernah dilontarkan oleh Gus Dur
dalam pengajian Ramadlan lalu di Masjid Al-Munawwaroh, Pesantren Ciganjur.
Katanya, isu itu digulirkan biar burung-burung kita dan yang sejenis dengan itu
tidak laku dipasaran. Agar kita memilih burung yang datang dari asing lengkap
dengan bandrol, stempel dan hak ciptanya plus fatwa halal MUI.
Tapi itu tidak terlalu penting bagiku. Bagi Gus Dur mungkin iya. Aku hanya
tidak kuat melihat pembakaran burung-burung itu hidup hidup. Biadab!!! Tidak
puas mereka, sarang-sarang burung pun ikut dibakar. "Pokoknya ga ada
burung-burungan!". Tetangga kosku bahkan dengan sangat ketakutan mengusir
burung gereja yang kebetulan hinggap di pagar rumahnya. "Wus.. wuss.. pergi!"
Ada apa ini? Apa salah mereka?
Itu dulu. Sekarang lebih parah lagi. Dulu hanya warga yang ketakutan tidak
lama setelah menyimak berita flu burung di televisi yang sangat menegangkan
itu. Sekarang pejabat pemerintahan di Jakarta pun malah secara tegas-tegasan
melarang warganya memelihara buruh dan sejenisnya. Mereka bahkan memimpin
ritual pembunuhan itu. Burung-burung langsung dibakar hidup-hidup di dalam dan
beserta sangkarnya, disaksikan sorak sorai warga, tanpa merasa bersalah
sedikitpun.
Ada apa ini? Bagaimana jadinya jika manusia hidup sendirian tanpa hewan hewan
yang berkicau indah? Bayangkan juga, jika sebentar lagi, pepohonan tertentu
yang lumayan rindang juga akan dibabat karena "telah" dikabarkan oleh media
menyimpan cadangan penyakit tertentu yang sangat berbahaya.
Kalau kamu pernah melihat film-film Barat yang kebetulan belum waktunya
diputar di bioskop malam trans tvtentang semacam virus yang disebar oleh para
"bajingan" untuk sekedar berjualan obat, kamu tidak akan ketakutan dengan flu
burung itu.
Kalau kamu tahu kalau tidak ada seorang pemelihara burung atau ayam pun yang
kena flu burung, mungkin kamu tidak akan takut dengan flu burung itu? Kenapa
kamu juga tidak pernah bertanya sesekali kenapa bisa virus flu burung itu
tiba-tiba ada dalam tubuh burung? Kamu seperti dokter Indonesia yang bodoh,
tidak kritis dan minderan saja. Semasa kecil bukankan puluhan ayammu di
petarangan pernah mati, tapi tidak ada tuh yang bilang ada flu burung?
Kalau kamu ingat, kita menganut gaya perekonomian kita sengaja dibikin
"mengambang" kamu tidak akan heran bahwa sedikit saja "isu flu burung" digelar
di depan para wartawan bodoh itu, maka sekejap saja akan muncul berita-berita
berjudul "kepanikan investor" dan sejenisnya, lalu disusul berita kenaikan
harga.
Kepadamu aku mengadu karena Abu Nawas yang selalu menghiburku di saat-saat aku
panik kini telah mati.
Oh ya, aku ingin bercerita sedikit lagi. Saat aku meliput muktamar NU di
Donohudan 2004 lalu aku sempat tertawa terpingkal-pingkal saat para kiai yang
orang desa tak berdosa itu diberi ceramah oleh para dokter "asing" mengenai
pentingnya pencegahan HIV AIDS, cara penggunaan kondom dan sebagainya.
Huahaha.. Benar-benar kita dipaksa untuk ketakutan dengan penyakit mereka
sendiri, yang obatnya mereka mereka jual secara gratisan lewat hutang
pemerintah.
Semoga kau mengerti,
---------------------------------
Need a quick answer? Get one in minutes from people who know. Ask your question
on Yahoo! Answers.