Undangan 18 Januari 2007
*PESANTREN* disebut KH Abdurrahman Wahid sebagai sebuah subkultur. Pesantren
bukan hanya dibentuk oleh karakter khas kebudayaan Nusantara, tapi juga
membentuknya kembali dengan aneka ekspresi dan karya cipta. Apa yang dikenal
kini sebagai sastra daerah, sebagian muncul berkat racikan kalangan
pesantren dalam membentuk karakter Islam Nusantara ini.
Sastra Sunda misalnya terbentuk dari kultur lisan masyarakat Sunda. Para
pelopor dan eksponennya kebanyakan berasal dari akar pesantren, yang hingga
kini tetap bertahan. Namun, dalam perkembangannya, sejak kolonialisme, ia
dibakukan atau dikanonisasi menjadi "Sastra Sunda" dengan standar Barat
(seperti pengenalan bentuk puisi dan prosa), meski dengan muatan lokal dan
etnik. Standarisasi juga muncul ketika arus keislaman menguat, dan Sastra
Sunda pun kemudian disebut "Sastra Islam". Logika sederhananya, Sunda
identik dengan Islam.
Bagaimana sebetulnya pergumulan pesantren dalam arus kanonisasi kesusastraan
Barat dan standarisasi keislaman dalam Sastra Sunda ini? Di mana dan
bagaimana suara pesantren dalam arus tersebut? Dan bagaimana kalangan
pesantren merebut kembali (reclaim) atas produksi kesusastraan yang
mencerminkan karakter khas kebudayaan budaya Nusantara dan tidak didikte
oleh arus penyeragaman dari Barat mapun dari Islam (puritan)?
Situs Resmi PBNU *NU Online *akan mendiskusikan hal-ihwal itu melalui
perspektif kepesantrenan, kesusastraan, dan kebudayaan pada diskusi bulan
ini:
Waktu : Kamis, 18 Januari 2007, pukul 15:00 WIB
Tempat : Gedung PBNU Lantai 5 Jl Kramat Raya 164 Jakarta
Pembicara : Acep Zamzam Noor (penyair/Cipasung)
Ahmad Baso (peneliti kebudayaan NU/Jakarta)
Moderator : Ahmad Syubbanuddin Alwy (penyair/Cirebon)
Kontak Binhad Nurrohmat 0812.889.2505
NU Online 021-3914013 3914013 email [EMAIL PROTECTED]
[EMAIL PROTECTED]