HATI-HATI ADA MODUS BARU PENIPUAN
  Meng-atas- nama-kan  media
   
  Penipuan melalui mesin ATM kian beragram saja. Dulu, saya pernah menulis 
berita soal ramai-ramainya penipuan dengan iming-iming uang jutaan bahkan 
puluhan juta rupiah dari yang mengaku-ngaku salah satu  operator jasa 
telekomunikasi melalui SMS. Sudah banyak korbannya. Uang yang tersimpan di 
saldo tabungannya, gara-gara informasi yang mengatasnamakan salah satu operator 
tersebut, tidak bertambah malah justru di kuras habis.
   
  Jangan heran, kalau saat ini para pelaku lebih pintar lagi. Dengan 
memanfaatkan para pencari kerja, 'mereka' mulai bergerilya 'mengobok-obok' 
database untuk mendapatkan data yang telah dikirmkan dari para pencari kerja. 
Dengan modal no hp si korban, aksi penipuan model 'terbarupun' mulai digerakan.
   
  Baru-baru ini,  Senin (15/1) kemarin, tiba-tiba seorang pencari kerja 
mendapatkan no telpon hpdari seseorang yang tentunya belum dikenal. Si penelpon 
mengaku-ngaku dari TVRI (Jakarta). Tujuan menelpon awalnya, untuk memberikan 
informasi bahwa korban di terima menjadi seorang kameramen TVRI. Padahal, 
korban tidak merasa dirinya mendaftar untuk posisi yang dimaksud (korban 
mengirimkan aplikasinya untuk posisi yang lain).
   
  Al Hasil, dari percakapan yang cukup singkat tersebut, korban disuruh untuk 
menghubungi no HP yang telah disebutkan, atas nama Arif Kurniawan yang menjabat 
sebagai Kepala Bagian Personalia di TVRI Jakarta. Dengan rasa heran, korban 
langsung menghubungi orang yang dimaksud. Dari percakapannya dengan Kabag 
Personalia (TVRI) tersebut, didapati bahwa korban adalah salah satu calon 
karyawan (kameramen,red) untuk selanjutnya mengikuti Diklat di LPP TVRI selama 
2 minggu. Namun sebelumnya, korban di wajibkan untuk menghubungi nomor HP yang 
diberikannya, yakni  salah satu pegawai Bank Indonesia Kepala Bagian Transfer, 
Agung Purnomo. Alasannya, dari pak Agung inilah nantinya korban akan 
mendapatkan kucuran uang sebesar Rp3 juta sebagai ganti uang transpor dan 
akomodasi selama diklat 2 minggu.
  Setelah ngalor-ngidul berkomunikasi dengan Pak Agung (yang mengaku-ngaku 
orang Bank Indonesia), Ia meminta no rekening. Pasalnya,uang tersebut harus 
segera turun saat itu (hari itu juga). Kemudian korban disuruh meluncur ke ATM 
yang dimaksud sembari menelpon Pak Agung.
  Bagi korban, tidak begitu bodohnya. Pasalnya, nomor rekening yang diberikan 
masih aktif,kalaupun akan di transfer tinggal di transfer aja. sebelum meluncur 
ke kotak ajaib yang ber-ac tersebut, korban mengkonfirmasi ke Bank Indonesia. 
Soal keberadaan Pak Agung Purnomo. Al hasil, dari konfirmasi pihak BI, tidak 
ada di BI secara struktural posisi yang dimaksud, yakni Kabag Transfer. Rasa 
curiga mulai berkecamuk. karena curiga inilah, korban selanjutnya meralat no 
rekening, dengan memasukan no rekening lama yang hanya bersaldo 10ribu.
  Transaksipun mulai dilakukan. Namun sebelumnya, korban menginformasikan ke 
TVRI semarang, meminta konfirmasi lebih lanjut ke TVRI Jakarta, soal peristiwa 
tersebut. dari hasil konfirmasi tersebut, nama Arif Kurniawan yang konon 
katanya sebagai kabag Personalia, tidak didapati dalam jajaran struktural TVRI 
Jakarta.
  Kecurigaan mulai memuncak.
  Setelah itu, transaksipun mulai dilakukan di dalam ruang ATM. Melalui HP,  
korban menghubungi pak Agung ('BI'). Oleh Pak Agung, korban diberi beberapa 
petunjuk hingga akhirnya beberapa saat setelah transaksi, dari mulut ATM keluar 
slip kertas sebagai bukti aktivasi sms banking. oleh Pak Agung, diwajibkan 
kertas/slip tersebut untuk disobek kecil-kecil. Namun, tidak kalahnya korban 
menyobek-nyobek kertas lainnya, agar di seberang telpon dapat memastikan slip 
tersebut telah di sobek.
  Endingnya,setelah transaksi hampir selesai, mesin ATM begitu saja memuntahkan 
kartu ATM.
  Oleh Pak Agung, dikatakan bahwa saldo yang ada saat itu minim. diharuskan 
saldo minimal 300 ribu.
  Satu hari kemudian,korban di telpon dari Pak Agung yang mengatakan bahwa 
dirinya telah mendapatkan informasi dari Pak Arif (yang di TVRI jakarta) bahwa 
jatuh tempo pengambilan uang pengganti transport dan akomodasi jatuh tempo hari 
itu juga, harus segera diambil. 
  Namun, kepercayaan korban dari awal sudah tidak ada lagi, korban dengan 
sepele menjawab." saya orang miskin tidak punya saldo sebanyak itu. Jangankan 
untuk saldo, untuk makan sehari-hari aja masih ngutang"ungkapnya. Dari seberang 
telpon terus memaksa dengan dalih, kalau uang belum diambil, maka korban tidak 
bisa ikuti diklat TVRI. Korban hanya menjawab " saya tidak punya uang untuk 
mengisi saldo. Kalaupun ada,tidak untuk saldo, tapi untuk makan",ujarnya.
  "Ya, sudah, saya mentolelir kondisi bapak. Kalau tidak ada 300 ribu, bisa 
juga 200 ribu koq"ungkap Pak Agung yang mengaku-ngaku telah terbiasa 
mengucurkan dana Bantuan dari pihak pemerintah tersebut.
  Akhirnya, saldo yang harus disediakan terus ditolelir hingga 100 ribu 
(bagaikan melakukan penawaran jual-beli). Oleh korban diacuhkan begitu saja. 
Karena sebelumnya dari TVRI memberikan kabar bahwa untuk tidak 
melayanipermintaan dari orang-orang yang tidak bertanggungjawab.
   
  Nah,dari pengalaman ini mungkin dapat bermamfaat bagi teman-teman, akan danya 
'trend' - modus penipuan model 2007 yang mengatasnamakan media.
  Buat TVRI dan Bank Indonesia, sebelumnya saya minta maaf kalau nama lembaga 
keduanya saya tuliskan. 
  Untuk TVRI,terimaksih kalau mau menyusut peristiwa ini. Saya yakin masih 
banyak korbannya,bahkan ada yang telah terpedaya.

 Send instant messages to your online friends http://uk.messenger.yahoo.com 

Kirim email ke