Hanya sekedar selingan... marii

THE BOX OF 30 SOMETHING

Perempuan lajang di sekitar saya tak dinyana mencapai jumlah setengah dari 
semua perempuan yang saya kenal. Fenomena apa ini? Ya bukan fenomena apa-apa, 
kerena memang begitu adanya. Apa anehnya melajang hingga umur 35? Apa anehnya 
tidak menikah di umur 38 tahun? Banyak yang melakukan itu. Condoleeza Rice, 
Henidar Amroe, Kylie Minogue and they are all ok… Hail Mary!   

Status ini, bagi diri mereka sendiri sudah cukup menegangkan, terlebih jika 
dicampuri oleh pihak-pihak lain yang mendadak menjadi ‘penuntut’ ketimbang 
pemberi solusi. Orang menilai umur 30-an adalah masa kritis bagi perempuan. 
Kenyataannya berbeda. Mereka sedang ‘lincah-lincahnya’ sebagai perempuan 
matang, dewasa, dan punya penghasilan sendiri (kriteria yang sering dilupakan 
laki-laki). Lebih gila lagi, umur mereka dijadikan legalisasi praktek poligami 
berdasarkan dalih-dalih agama. Sementara dalih agama yang lain diabaikan: 
Menikahi perempuan berumur 40 tahun dan hidup bahagia dengannya… dalam waktu 
tidak terlalu lama.        

Mencari jodoh akhirnya masuk dalam agenda harian mereka, padahal jodoh akan 
datang sendiri tanpa disangka-sangka, tanpa diundang, apalagi dicari-cari. 
Bukan karena mengejar karir atau memutuskan untuk tidak menikah, tetapi 
keberuntungan seringkali memihak orang lain. Saya paham apa yang mereka 
rasakan. Setidaknya berusaha untuk mengerti. Status lajang itu kebanyakan 
dilatari serangkaian peristiwa dan alasan yang terjalin menjadi akibat tunggal: 
telat manten! 

Dari mereka pula saya harus menyampaikan hal ini. Sebagai penyambung lidah, 
katanya. Berikut yang harus dilakukan kalau anda merasa berada dalam kolom 
mereka. Please check the last box… age:  18-25    26-30   
 31-six feet under. 

Q-A
“Aduh kapan menikah?”, atau “Kapan nyusul Dewi? Nanti terlambat lho”. Mohon 
dijawab dengan lugas dan tegas: Besok hari sabtu habis lebaran. Dan tinggalkan 
arena. Jangan lupa tersenyum. 

“Kamu umur berapa sekarang?”. Silakan jawab: 38, kenapa? Aku masih keliatan 
muda ya, aduh makasih lho! Jangan tertawa terlalu lepas untuk kali ini.   

“Pacar kamu mana? Kok ndak diajak?”. Jawab: Yang mana nih? 

“Anak kamu mana? Kok ndak diajak?”. Pertanyaan ini pancingan untuk memunculkan 
pertanyaan pertama (diatas). Maka, langsung jawab: Besok hari sabtu habis 
lebaran. 

Kuncinya: Jawaban harus kurang dari 10 kata. Kalau terlalu panjang akan 
berbuntut pertanyaan berantai yang melelahkan. 

What to Do?
-    Jangan terlalu sering menghadiri pesta pernikahan orang lain. Anda tentu 
lebih tau alasannya.
-    Jangan menonton Sleepless in Seattle. That was a myth. 
-    Your virginity is automatically negligible, so go on… It’s ok! 
-    Berlakulah ramah pada siapapun. ‘Perawan Tua’ jauh lebih buruk dari ‘Gadis 
Matang’. 
-    Oprah lebih baik ketimbang Martha Stewart. 
-    Sekali anak hadir dalam hidup anda, maka laki-laki tiba-tiba menjadi 
langka. 
-    Bersahabatlah dengan kosmetik. 

Faction 
Berkumpul bersama dengan kawan yang sama-sama dizolimi oleh nasib akan sangat 
menguntungkan. Ingat, anda tidak sendiri. Bukankah tadi saya katakan setengah 
dari kawan perempuan saya adalah lajang? Berkumpul mendirikan partai bisa 
menghindari pelbagai tekanan yang datang dari dalam diri anda. Di lain pihak, 
jika salah satu anggota partai akhirnya menikah, jangan kemudian dipecat. Dari 
merekalah anda bisa menimba sesuatu. Jangan lupa partai lajang semacam ini juga 
dilakukan oleh lajang laki-laki. Gender yang satu ini bahkan sangat dramatis. 
Mereka menjadi liar ketika melihat gerombolan lajang perempuan melenggang. 

Mind your Enemy    
Ketika berperang, anda harus betul-betul memerhatikan medan dan musuh anda. 
Medan anda tentunya: Laki-laki. Musuh anda, sayangnya, lumayan banyak dan 
berkedudukan kuat. Saya urutkan dari yang paling lemah: Gadis-gadis SMA, 
ayam-ayam tobat (mereka akan mencari cinta dengan sangat agresif), laki-laki 
lain (lebih baik anda segera menyerah), dan diri anda sendiri. Yang terakhir 
adalah yang paling berat karena penyakit-penyakit pesimistis, choosy, dan mudah 
bosan itu menghabiskan energi anda. 

Feedback!   
Anda akan menghadapi aneka perjodohan yang diprakarsai oleh banyak pihak. 
Orangtua anda, paman, kakak-adik, kawan kantor, kawan orangtua anda, atau orang 
yang tak anda duga sebelumnya-mantan pacar. Kebanyakan dari mereka hanya 
sepintas lalu menawarkan perkenalan dengan seseorang, kemudian diingkari begitu 
saja. Tanpa sadar mereka berjanji. Yang namanya janji tentu harus ditepati. 
Anda punya hak untuk menagih janji itu. Saya menyebutnya dengan Feedback. 
Feedback adalah pedang bermata dua. Pertama, sebagai sarana silaturahmi yang 
baik. Kedua, sebagai sumbat mulut-mulut usil.

Kalau anda ditawari hal demikian: 

“Nanti tante kenalin sama anak temen tante, cakep deh”. Jangan lupa melakukan 
aksi umpan balik, seminggu atau sebulan setelah janji itu terucap. 

“Halo, Tante Niniek. Ini Rina, mana anak temen tante yang mau dikenalin itu?”  

salam anget,
gandrasta bangko 


 
---------------------------------
We won't tell. Get more on shows you hate to love
(and love to hate): Yahoo! TV's Guilty Pleasures list.

Kirim email ke