Hak mengemukakan pendapat termasuk demo dijamin oleh hukum, juga oleh 
keadaban modern. Tetapi rakyat seperti Hariman dkk terbentur jalan buntu, 
karena memang kebanyakan dimana saja demo tidak dapat secara UUD dan UU 
menjatuhkan pemerintah. Kecuali yang besar-besaran. Bisa lalu parlemen atau 
dikita MPR terpaksa meng impeach Kepala Negara. Ini resiko sistem yang 
"executive very heavy". Seperti kata Taufik Kiemas ibaratnya pemerintah 
tidur-tiduran juga tak dapat diturunkan. Karena itu bukan kesalahan yang 
menurut definisi dalam UUD.
   
  Namun tidak berarti rakyat lapar dan intelektual termasuk mahasiswa yang 
punya empati lalu ikut tidur juga. Demo saja terus! Ini kan juga bentuk 
oposisi, meski dijalanan. Karena oposisi yang di DPR juga macet dijalan buntu. 
Sebab kalah suara oleh para pendukung SBY-JK yang berbuat, atau tidak berbuat, 
semaunya itu.
   
  Jadi demokrasi kita? Macet total! 
  Lima tahun waktu yang lama untuk yang menderita segala kekurangan. Namun 
waktu yang cukup nyman untuk perusahaan asing dan penguasa untuk melipatkan 
hartanya. Semuanya 'kan serba relatif?
   
  Kagum untuk Hariman yang mau bermandi terik matahari, sedang Marsilam duduk 
sejuk diruang ber AC dan bersekretaris sambil membisiki Pak SBY bahan-bahan 
untuk "never ending talking". 
  DM
   
  Kamis, 18 Januari 2007 
                    Demokrasi
Ketidakpuasan Rakyat Harus Diatasi Pemerintah     Jakarta, Kompas - 
Pemerintahan Presiden Susilo Bambang Yudhoyono tidak perlu menanggapi secara 
berlebihan demo cabut mandat yang dilakukan Hariman Siregar dkk, Senin, 15 
Januari lalu. Pemerintah seharusnya berkonsentrasi penuh untuk mengatasi 
ketidakpuasan masyarakat terhadap kinerja pemerintahan.   Pandangan itu 
disampaikan Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono, Presiden Partai 
Persatuan Demokrasi Kebangsaan Ryaas Rasyid, Ketua Dewan Pertimbangan Pusat PDI 
Perjuangan Taufik Kiemas dalam kesempatan terpisah kepada pers di Jakarta, 
Selasa dan Rabu (17/1).   Istana memberikan respons keras atas demo cabut 
mandat yang dilakukan Hariman Siregar untuk memeringati 33 tahun Malapetaka 15 
Januari. Juru bicara Presiden Andi Mallarangeng menilai demo cabut mandat itu 
tidak konstitusional.   Sehari setelah itu, Menko Polkam Widodo AS dan Kepala 
Badan Intelijen Negara Sjamsir Siregar bertemu dengan sejumlah purnawirawan 
TNI. Usai
 pertemuan, muncul isu soal makar dan "Dewan Revolusi".   Menurut Ryaas, 
tanggapan presiden terhadap aksi demo semakin membuat langkah Hariman yang 
sebetulnya tidak signifikan menjadi terkesan penting.   Ryaas mengakui tema 
demo yang diusung Hariman terkesan mengerikan karena mengangkat tema pencabutan 
mandat. Tapi, dia berpendapat, sesungguhnya tema itu hanya untuk menarik 
perhatian dan bersifat hiperbolik. "Tema itu sama hiperboliknya dengan tema 
'Indonesia Menangis'," ucapnya.   Wakil Ketua Umum Partai Golkar Agung Laksono 
senada. "Demo itu tidak perlu disikapi berlebihan. Toh posisi Presiden dan 
Wakil Presidan kuat karena dipilih rakyat. Pemerintah bisa dijatuhkan hanya 
kalau melanggar hukum," ujar Agung yang kemarin bertemu Ketua Partai Hanura 
Jenderal (Purn) Wiranto.   Pemilu 2009   Taufik Kiemas, tokoh sentral PDI 
Perjuangan -- partai yang menyatakan beroposisi terhadap pemerintahan Presiden 
Yudhoyono -- juga mengatakan pemerintahan Yudhoyono-Kalla tak bisa
 dijatuhkan di tengah jalan. "Kalau untuk menjatuhkan, tunggu Pemilu," ucap 
Taufik.   Taufik menyarankan pemerintah tenang karena apa yang terjadi 
merupakan konsekuensi berdemokrasi. "Sejak jaman Habibie sampai Ibu Mega, 
didemo tenang-tenang aja. Tidak ada yang ribut-ribut," paparnya.   Ditanya pers 
soal kritikan balik pemerintahan Yudhoyono-Kalla terhadap Megawati, Taufik 
hanya berkomentar singkat. "Sekarang kan rakyat semua tahu. Kerja juga nggak 
apa-apa, pemerintah tidur-tiduran juga nggak apa. Mau ke luar negeri sebulan 
juga nggak apa-apa. Tapi, sembilan bahan pokok murah nggak? Biar bilang 24 jam 
kerja tapi sembilan bahan pokok nggak murah, dianggap tidak bekerja menurut 
rakyat," paparnya.   Ketua Umum Pengurus Pusat Muhammadiyah Din Syamsuddin 
berpendapat, pemerintahan Yudhoyono-Kalla perlu diberi kesempatan menyelesaikan 
pemerintahan hingga tahun 2009, demi mempertahankan budaya demokrasi.   Ajang 
Pemilu 2009, menurut Din, bisa dimanfaatkan untuk meninjau kekurangan
 yang ditunjukkan pemerintahan saat ini.   “Beri kesempatan pada pemerintah. 
Kalau ternyata ada kekurangan dan kelemahan, bisa ditinjau lagi pada pemilu 
yang akan datang. Yang penting, budaya demokrasi harus kita bangun," ujarnya.   
Aksi cabut mandat terlebih yang mengarah pada pemakzulan politik (political 
impeachment) tidak bisa dilakukan di saat pemerintahan yang sah tengah 
berjalan. Namun di sisi lain, menurut Din, pemerintah juga tidak boleh menutup 
mata dan telinga terhadap kritik masyarakat.   Sementara itu, Ketua MPR Hidayat 
Nuwarhid menilai wacana pencabutan mandat kebablasan. Ia mengatakan, jangan 
sampai wacana itu ditunggangi dan asal beda sehingga membuat demokrasi menjadi 
anarki.   Gubernur Lembaga Ketahanan Nasional Muladi menilai di masa 
pemerintahan Orde Baru gerakan mencabut mandat, yang diusung Hariman Siregar, 
bisa dikategorikan sebagai kegiatan makar karena dianggap ingin menjatuhkan 
pemerintahan yang sah.   Akan tetapi karena manuver politik seperti itu
 terjadi sekarang, Muladi menilai kejadian seperti itu dianggap tidak lebih 
dari sekadar "riak-riak kecil" dalam kehidupan berdemokrasi yang sama sekali 
tidak akan berdampak apa pun kepada pemerintahan.   Adapun Ketua Partai 
Demokrat Anas Urbaningrum, menilai, justru merupakan "ketidakwajaran ganda" 
jika ada pihak yang menilai wajar atas gerakan atau demonstrasi cabut mandat. 
Dalam ukuran demokrasi, pemikiran tersebut cenderung sesat dan tidak memberikan 
pendidikan politik yang baik kepada rakyat, bahkan cenderung menyesatkan.   
Dalam demokrasi, pergantian kekuasaan mesti dilakukan secara damai dan berkala, 
bukan dengan jalan yang bisa mengundang kekerasan dan perebutan kekuasaan di 
tengah jalan.   Untuk kepentingan demokratisasi dan masa depan bangsa, jauh 
lebih terhormat jika para tokoh yang bicara tentang cabut mandat itu 
mempersiapkan diri untuk Pemilu 2009.   "Rakyat akan menjadi juri yang adil, 
apakah mereka dipercaya atau tidak," tutur Anas. (sut/dik/dwa/dwa/eki/che)

























 
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.

Kirim email ke