Analisa yg bagus, bagaimana dengan bahan bakar pesawat?
Ada isu yg mengatakan bahwa Adam Air memberlakukan "penjatahan" bahan bakar
dlm setiap penerbangan, salah satu alasan untuk efisiensi (low cost), bisa
jadi pesawat tidak bisa melakukan pendaratan krn kehabisan bahan bakar
ketika terkena cross wind dan pararel wind.

Bisa jadi pilot menurunkan ketinggian pesawat dgn glide, dengan tujuan untuk
menghemat bahan bakar untuk mencapai bandara terdekat.


http://www.b737.org.uk/techspecsdetailed.htm
http://www.safair.co.za/?option=3&id=1&com_id=57&parent_id=48&com_task=1

Boeing B 737 - 400 - SpecificationsDimensionsWingspan28.9 m (94ft 09 in)
Tail Height11.1 m (36ft 06 in)
Overall Length36.4 m (119ft 07 in)
Cabin Width (floor level)3.53 m (11 ft 07 in)Design WeightsMaximum Take Off62
820 kg (138 500 lbs)
Maximum Taxi Weight63 050 kg (139 000 lbs)
Maximum Landing Weight54 880 kg (121 000 lbs)
Maximum Zero Fuel Weight51 250 kg (113 000 lbs)PowerCFM 56-3C1Cruising Speed
0.745 mach (797 km/h)Cruising Altitude10 670 m (35 000 ft)Range3 815 km (1
907 miles)Passenger Capacity127-162 PassengersFuel CapacityVolume20 105 lt
(5 311 US gal)


Saleum

Bidin


Oleh:
Canny Watae
warga biasa tinggal di Makassar

Saya tergerak untuk beranalisis mengingat semua analisis yang terpublikasi
sejak kasus Adam Air ini terjadi belum ada yang menyertakan detil geografis,
dalam artian mencocokkan informasi-informasi koordinat Lintang dan Bujur
dengan kondisi alam yang mendekati riil di lapangan. Juga, belum ada yang
berusaha memasukkan kesaksian-kesaksian warga secara runut. Saya masih
percaya kalau warga pedesaan kita cukup jujur. Orang-orang yang kelewat
pintar saja yang salah mengambil kesimpulan dari kesaksian mereka.
Penemuan Tail Horizontal Stabilizer oleh nelayan Bakri di pantai Mallusetasi
Kab. Barru memang penemuan yang sangat penting. Tetapi, sejauh ini belum ada
yang berteriak "Eureka!", seperti yang dilakukan Archimedes beberapa ribu
tahun yang lalu ketika menemukan hukum berat jenis benda. Bagi saya, yang
iseng-iseng "mencari " pesawat nahas dengan nomor penerbangan KI-574 via
layar komputer, temuan Pak Bakri memacu urat spontan saya berteriak Eureka!

Cross-wind 74 knot (130 km/jam) yang menimpa KI-574 seperti yang disampaikan
Menhub Hatta Radjasa (Fajar, 5/1), plus kecepatan jelajah pesawat (Cruising
Speed) 600-700 km/jam menghasilkan resultan gaya yang cukup besar. Jika arah
KI-574 adalah jam 12, maka Cross-wind ini datang dari arah jam 3 (menuju jam
9). Terjadi resultan sebesar antara akar kuadrat dari 600 kuadrat plus 130
kuadrat ( 613 km/jam) dan 700 kuadrat plus 130 kuadrat ( 712 km/jam) dengan
arah vektor sekitar jam 11. Arah pesawat bergeser. Fakta menunjukkan pesawat
bergeser, Kokpit Adam Air KI-574 sempat meminta ATC Makassar memandunya
karena pesawat berubah arah akibat dorongan angin. Dari posisi heading
timur-laut, bergeser ke utara. Kemudian oleh ATC Makassar pesawat diminta
kembali ke heading semula. Ketika pilot kembali heading timur laut dari
posisi heading utara, pesawat bukan lagi kena cross-wind melainkan
parallel-wind arah berlawanan. Arah vektor kecepatan pesawat nyaris
berlawanan dengan arah
angin. Resultan kecepatan pesawat terhadap angin adalah minimal 600 + 130 =
730 km/jam, dan maksimal 700 + 130 = 830 km/jam! Pengecekan saya pada alamat
web http://uk.flyasiana .com/travelplann er/travelplanner _aircrafts. asp
menunjukkan bahwa kecepatan jelajah maksimum B737-400 adalah 790 km/jam! My
God,.... besar kemungkinan gerak relatif KI-574 terhadap angin lebih besar
dari pada kecepatan maksimum yang diizinkan.

Tail Horizontal Stabilizer bisa saja menjadi komponen yang paling bekerja
keras ketika KI-574 mencapai kecepatan jelajah maksimumnya. Apa tah lagi
kondisi udara yang ditembus tidak karu-karuan. Mengapa Tail Horizontal
Stabilizer kanan yang lepas? Karena dia-lah yang mengalami masa papar
cross-wind hingga parallel-wind terlama. Angin cross sebelumnya datang dari
arah kanan. Komponen ini terpental ke arah kiri, ke arah badan pesawat, yang
memungkinkan badan pesawat sobek lalu berlubang. Perbedaan tekanan antara
kabin dan atmosfer pada ketinggian di atas 30.000 kaki menimbulkan efek
hisap yang sangat kuat. Tatakan meja, sandaran jok, life-vest (pelampung),
fiber penutup bagasi kabin, isi bagasi kabin, tas, bungkusan makanan,
video-monitor di kabin penumpang, semuanya tersedot keluar. Fakta
menunjukkan barang-barang tersebut sudah ditemukan para nelayan di perairan
Barru dan Pangkep. Penumpang saya perkirakan sedang memakai seat-belt karena
sedari awal cuaca jelek. Tidak ada
penumpang yang tersedot ke atmosfer! Bakalan tidak ada pula jenazah yang
ditemukan di perairan yang membentang sepanjang jazirah Sulawesi Selatan
(Pinrang, Parepare, Barru, Pangep, Maros, dan Makassar). Fakta menunjukkan
belum ada jenazah dari Adam Air KI-574 yang ditemukan di perairan ini.

Karena kebocoran kabin, pilot berusaha menurunkan ketinggian pesawat
sesegera mungkin. Demi penumpang, ia berusaha terbang pada ketinggian yang
memungkinkan penumpang bernapas tanpa alat bantu. Penurunan ketinggian yang
mendadak ini menimbulkan efek sentakan pada bodi pesawat, mungkin mencapai
minus 3G yang memicu trigger ELBA. Penurunan ketinggian ini juga membuat
KI-574 tidak bisa terpantau radar. Fakta menunjukkan KI-574 hilang dari
pantauan radar ATC Makassar.

Dalam kondisi terbang rendah, sekitar 8000 kaki atau di bawahnya, pesawat
terus berusaha mengarah ke Manado (timur-laut) . Pesawat melintasi perairan
Pinrang/Polewali? Majene, lalu daratan Enrekang, kemudian sampai di atas
Tana Toraja. Fakta menunjukkan Saul Palulungan (57 tahun) mendengar suara
pesawat (Fajar, 5/1). Di Tana Toraja pilot melakukan manuver tajam ke kiri.
Di kiri pesawat ada Bandara Pongtiku, kawasan Rante Tayo, kurang lebih 10 Km
dari Makale. Sementara di kanan pesawat adalah Bulu (Gunung) Rante Kombala
dan Bulu Rante Mario. Dalam keadaan kehilangan Tail Horizontal Stabilizer
(belakangan juga beberapa bagian sayap kanan yang ditemukan di perairan
Pinrang, mungkin Aileron yang bertanggung jawab pada gaya angkat pesawat),
manuver pesawat sangat berat dan menimbulkan hentakan. Hentakan ini men-trig
aktivasi sinyal ELBA. Fakta menunjukkan RCC Singapura sempat menangkap
sinyal ELBA pada lokasi ini (Fajar, 3/1).

Usaha mendarat darurat di Bandara Pongtiku gagal. Pesawat susah dikendalikan
untuk manuver-manuver halus mengingat salah satu Tail Stabilizer Horizontal,
belakangan juga sayap kanan, rusak. Ces-pleng, Bandara Pongtiku berada di
daerah perbukitan sebagaimana lazimnya kontur Tana Toraja.

Pilot memutuskan untuk lurus, sebab pada arah lurus ini ada bandara Tampa
Padang , Mamuju, Sulawesi Barat.

Dalam lintasan menuju Bandara Tampa Padang, KI-574 harus bermanuver melewati
pegunungan, termasuk kawasan Matangnga. Banyak kesaksian warga yang
menyatakan mendengar suara gemuruh dan ledakan sepanjang lintasan Toraja –
Mamuju ini. Termasuk di antaranya Abu Haris yang kemudian di-cap berbohong.
Padahal, ia sendiri tidak pernah menyatakan ada pesawat jatuh. Pernyataannya
adalah "ada suara pesawat".

Di lepas pantai Mamuju, nelayan Baharuddin bersaksi pada Danlantamal VI
Makassar bahwa ia melihat pesawat berbadan biru laut melintas dari arah
bandara Tampa Padang. Fakta menunjukkan bahwa warna pesawat Adam Air KI-574
bukanlah Oranye seperti lazimnya dalam display-display promosi Adam Air.
Warnanya putih (Fajar, foto headline, 12/1). Warna biru laut yang dilihat
Baharuddin sangat mungkin akibat pantulan air laut. Pesawat lagi-lagi tak
berhasil mendarat di bandara alternatif. Tepat di atas kepala Baharuddin,
pesawat belok kiri ke arah daratan Sulawesi. Jika kita memperhatikan peta
rupa bumi, tampak bahwa daratan Sulawesi di depan KI-574 adalah pegunungan.
Masuk akal ketika Baharuddin mengatakan pesawat kembali ke arah laut.
Pesawat menghindari tabrakan dengan gunung. Pilot memilih ditching (mendarat
di laut).

Posisi deteksi sonar KRI Fatahillah adalah 02.35.18 LS, 118.48.36 BT. Jarak
antara Saksi Baharuddin dan posisi Sonar ini kurang lebih 12,5 KM. Artinya
dengan asumsi tinggi mata saksi dari permukaan laut 2m, maka posisi di mana
KRI Fatahillah mendeteksi adanya logam bulat, sudah tidak terjangkau lagi
oleh Baharuddin. Posisi itu tertutup garis horizon jika dipandang dari
tempat saksi berdiri. Saksi sendiri mengaku tidak melihat apakah pesawat
tersebut jatuh atau tidak. Yang ada hanya terdengarnya suara gemuruh dan
bunyi ledakan. Karena kecepatan suara adalah 340 m/detik, maka ledakan itu
terjadi 12.500 / 340 = 37 detik sebelumnya. Antara posisi Saksi dan saat
pesawat berbalik arah ke laut jaraknya 3 nm, dan dari posisi balik arah ini
ke Sonar KRI Fatahillah 10 nm. Total lintasan pesawat dari Saksi hingga
Sonar adalah 13 nm atau 25 km. Waktu tempuh jarak 25 km itu oleh pesawat
dengan kecepatan 700 km/jam adalah 25/700 jam = 0,036 jam atau 128,5 detik.
Jadi antara pesawat
melintasi posisi saksi hingga saksi mendengar ledakan adalah 128,5 + 37 =
165,5 detik. Antara 2 hingga 3 menit. Persis seperti kesaksian Baharuddin
pada Danlantamal VI Makassar. Secara ilmiah-matematis kesaksian Baharuddin
bisa dipertanggungjawabk an.

Pesawat, menurut saya, ditching di lepas pantai Mamuju. Pilot Revri A.
Widodo dan Co-Pilot Yoga berusaha maksimal. Namun, tanpa Tail Stabilizer
Horizontal dan sayap kanan yang rusak, ditching tidak mulus. Pesawat turun
ke laut dengan sudut elevasi yang cukup besar. Mungkin saja 45 derajat.

Kesimpulan:

<!--[if !supportLists]-->1. <!--[endif]-->Adam Air KI-574 jatuh di perairan
Mamuju di sekitar lokasi deteksi sonar KRI Fatahillah.
<!--[if !supportLists]-->2. <!--[endif]-->Adam Air KI-574 tidak meledak di
udara
<!--[if !supportLists]-->3. <!--[endif]-->Semua penumpang dan awak pesawat
masih berada di badan pesawat, di dasar laut.

Prediksi:

<!--[if !supportLists]-->� <!--[endif]-->Serpihan Adam Air KI-574 berada di
sekitar lintasan. Yang jatuh di laut akan terbawa arus ke pantai mulai dari
lepas pantai Pinrang, Parepare, Barru, Pangkep, Maros, hingga Makassar
termasuk pulau-pulau Spermonde (Pantai Barat Jazirah Sulawesi Selatan). Di
darat di kawasan Pinrang, Enrekang, Toraja, Matangnga, dan Mamuju).
<!--[if !supportLists]-->� <!--[endif]-->Tidak akan ada jenazah penumpang
yang ditemukan terdampar di pantai barat Jazirah Sulawesi Selatan (Pinrang,
Parepare, Barru, Pangkep, Maros, dan Makassar).
<!--[if !supportLists]-->� <!--[endif]-->Serpihan dari dalam kabin penumpang
semuanya berdimensi kecil, tidak melebihi besar lubang sobekan pada badan
pesawat.

Satu hal perlu saya tambahkan. Pilot Revri dan Co-Pilot Yoga orang hebat.
Dalam kondisi pesawat susah untuk dikendalikan, mereka masih sanggup mencari
lokasi pendaratan yang aman bagi penumpangnya.

Semoga Tuhan Menyertai Kita Semua, dan Keluarga Korban Tabah. Amien.

Canny Watae
Warga Makassar
canny_watae@ yahoo.co. uk

Kirim email ke