Media Release, 21 Januari 2007 Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) website: http://www.fspi.or.id <http://www.fspi.or.id> email: [EMAIL PROTECTED]
Bangun Dunia Tanpa IMF, Go To Hell Rato! Menyikapi kedatangan Direktur Pelaksana Dana Moneter Internasional (IMF), Rodrigo Rato, ke Indonesia pada tanggal 23-24 Januari 2007, Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) dengan tegas menolak agenda ini. Indonesia sudah cukup diintervensi IMF sejak Letter of Intent (LoI) 1997 hingga Post Program Monitoring (PPM). Sekretaris Jenderal FSPI, Henry Saragih menyatakan, "Pada masa itu, IMF telah melanggengkan praktek kejahatan kemanusiaan dengan pemiskinan, kekerasan, dan praktek genosida secara terselubung terhadap rakyat. Atas kenyataan tersebut, IMF dan Bank Dunia adalah pelaku utama kejahatan kemanusiaan di dunia." Tercatat pula liberalisasi tata dagang beras, pengebirian peran Public Service Obligation (PSO) Bulog, dan privatisasi sumber daya rakyat (UU Sumber Daya Air, UUK 13/2005) diimplementasikan atas rekomendasi IMF. Kedatangan Rodrigo Rato sendiri tidak lain hanya untuk menyelamatkan IMF dari kebangkrutan. Dengan mengadakan pertemuan tertutup bersama sejumlah pebisnis, akademisi dan pemerintah, IMF berharap bisa mengatasi kesulitan internal keuangannya. Dalam catatan tersendiri, IMF ternyata mengalami kerugian sekitar SDR 70 juta (US$ 105 juta). Agenda pertemuan di Indonesia adalah pilihan rejim moneter ini untuk bergantung pada suku bunga global. Menurut sumber IMF, tingginya suku bunga ini dapat menyelamatkan keadaan keuangan mereka. "Dengan ini, Indonesia akan didorong kembali ke arah spekulasi sektor finansial", lanjut Henry. Tak pelak lagi, sektor riil terancam tak terurus. Agenda IMF ini juga dinilai tidak ada signifikansinya sama sekali dengan bergeraknya sektor pertanian, industri kecil dan menengah, yang selama ini menjadi tulang punggung ekonomi riil Indonesia. Mayoritas rakyat juga menggantungkan hidupnya di sektor-sektor tersebut. Spekulasi yang selalu berdasar 'agama' Washington Consensus ini juga tentunya akan semakin membuat rentan perekonomian Indonesia, gampang digoyang dan bisa berujung seperti krisis di tahun 1997. Indonesia sendiri telah bebas dari IMF sejak Oktober 2006 lalu. "Jadi, tak ada alasan untuk tetap menerima intervensi dari mereka. Kantor mereka di Bank Indonesia pun harus ditutup. Kita bisa mandiri, membangun dunia baru dan tak bergantung pada IMF," tandas Henry lagi. Selanjutnya, tuntutan dari petani adalah untuk mencabut semua UU dan regulasi yang berhubungan deregulasi, privatisasi dan liberalisasi—yang mana dulu dilakukan atas rekomendasi IMF. IMF pun harus diadili atas praktek kejahatan kemanusiaan yang dilakukan khususnya di Indonesia, dan umumnya di negara-negara lain di seluruh dunia seperti Argentina, Filipina, Bangladesh, India, Afrika Selatan, dan lainnya. Untuk itu, FSPI bersama organisasi rakyat lainnya akan mengadakan aksi-aksi untuk menolak kedatangan Direktur Pelaksana IMF, Rodrigo Rato ke Indonesia. IMF Out! Go To Hell Rato! Bangun Dunia Baru Tanpa IMF! ----------------------------------------------- Kontak lebih lanjut: Henry Saragih (Sekretaris Jenderal FSPI); 08163144441 Achmad Ya'kub (Deputi Pengkajian Kebijakan dan Kampanye); 0817712347 Mohammed Ikhwan (Staf Pengkajian Kebijakan dan Kampanye); 081932099596 Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) Jl. Mampang Prapatan XIV No. 5 Jakarta – Indonesia 12790 Tel. +62 21 7991890 Fax. +62 21 7993426 -- Mohammed Ikhwan Staff of Policy Studies and Campaign Federasi Serikat Petani Indonesia (FSPI) http://www.fspi.or.id Mobile. +6281932099596
