Yah Pak, namanya media, kan tidak cuma hidup dari iklan. 
Juga ada unsur shareholder, kreditor/bank, bahkan mungkin sekali Go
Public/private placement.
Nah saat Go Public misalnya, berita2 PR seperti rekor MURI, dll itu
bisa mengangkat harga saham kan...

Kalau sahamnya bagus, usaha kan lebih lancar. Kalau usaha lancar, kan
bisa terima lebih banyak karyawan...


--- In [email protected], Fitryan denis <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
> Media tempat saya bekerja mendapat undangan dari Trans
> 7 yang isinya :...dalam rangka rekrutmen dan seleksi
> karyawan terbesar yang pernah ada di Indonesia dan
> akan tercatat pada Rekor MURI, kami mengundang
> rekan-rekan media untuk meliput acara pelaksanaan tes
> dan seleksi Broadcaster Development Program (BDP)
> Trans 7 Corp.....
> 
> Atas undangan tersebut, saya ingin tanya, sebenarnya
> Trans 7 sedang mencari karyawan atau sedang mencari
> sensasi sebuah pemberitaan? Entah rasa apa yang
> terselip di hati para pimpinan televisi tersebut saat
> mengadakan acara tes akbar yang digelar bagai
> perhelatan besar sehingga harus mengundang banyak
> media untuk meliput. Yang jelas ada rasa bangga karena
> peminat untuk menjadi karyawan televisi tersebut
> sangat besar. Tapi, apakah harus dipublikasikan
> sedemikian hebohnya sehingga harus mengundang media
> dan memproklamirkan akan masuk MURI yang sering
> diagungkan sebagian besar orang sebagai ajang unjuk
> gigi dan unjuk dada itu? 
> 
> Terpikir nggak sih bahwa  mereka yang mengikuti tes itu adalah
mereka yang sangat berharap mendapat pekerjaan untuk mencari makan
> atau untuk melanjutkan hidup? Mereka sangat berharap
> untuk mendapat pekerjaan itu sehingga mereka rela
> datang meski harapan untuk'menang' tak besar karena
> jumlah yang diterima tak mencapai 10% dari angka yang
> mendaftar? Kenapa sih mereka harus dijadikan obyek
> sebuah penghargaan yang kelak akan diterima televisi
> yang bersangkutan?
>


Kirim email ke