Lanjutan untuk menemukan apa yang ditulis oleh asisten Prof Loren
Ryker(Indonesians in asylum) yang dijadikan ref.note 11, harap diperhatikan
yang kalimat2 yang diwarnai merah.
---------------------------------
Masalah "Per-Bodongan"
Oleh Harry Adinegara.
Imigran bodong? So what? Imigran bodong?Imigran bodong yang kebetulan Tionghoa
ini memperleceh "nama-baik" NKRI? Imigran bodong?Tidak sepatutnya imigran
bodong itu sampai di perhati-in sama Menlu kita?padahal pribumi aja yang
di-usir dari Timur Leste, di-usir dari Malaysia dan bahkan setelah diperkosa di
negara cikal bakalnya Nabi Mohamad aja,
Apa semua komentar-komentar ini kredibel, bisa dipertanggung jawabkan?
Diatas itulah komentar-komentar para penulis terhormat di pelbagai milis,dan
media , dalam menghadapi Tionghoa imigran bodong yang namanya Hans Gouw.
Kalau dilihat sepintas lalu dan hanya dilihat akibat yang timbul setelah
imigran bodong ketangkap dan di proses hukum di Amrik sono, kita lupa menjawab
pertanyaan kenapa imigran bodong kayak Hans Gouw ini sempat men-catut nama
negara Indo dengan cerita "Khayalan". Saya kutip Khayalan dalam tanda petik
karena hal ini akan diungkap lebih lanjut dalam paragrap selanjutnya.
Kita cermati individu Hans Gouw ini untuk mulai dengan pencerahan terhadap
peristiwa imigran bodong di Amrik ini. Dia(Hans Gouw) sudah berusia setengah
abad lebih sewaktu dia sampai di Amrik. Jadi, for the better or for the worse,
atau ibaratnya dia sudah banyak makan garam dan tahu sikonnya negara kita yang
deldel duwel ini. Bukan saja kalang kabut dalam hukum tapi juga keamanan sangat
minim, tidak saja buat pribumi yang minus kedudukan dan kekuasaan, apalagi,
boro-boro para Tionghoa yang dalam kedamaian jadi sapi perahan dan dalam
kericuhan politik jadi kambing hitam.
Disinilah problema yang aktuil, yang urgent dan patut di jadikan acuan dalam
meneliti kenapa imigran bodong Hans Gouw ini mencatut nama negara Indo. Bukan
untuk membela apalagi membenarkan tindakan Hans Gouw ini, dalam
aktipitas-aktipitasnya: pertama: mengelabui imigrasi Amrik, yang kedua: dia,
ibaratnya mem-"boncengi" nama "baik" negara kiita dengan "mengibul" tentang
rasialisme yang terjadi terhadap golongan Tionghoa di Indonesia. Mengibul di
rangkum dalam tanda petik karena mengibul ini bukan cerita bohong, bukan cerita
bodong tapi reallitanya memang terjadi di Indonesia, pelecehan HAM, tapi bagi
Hans Gouw tidak ada bukti yang sah bahwa dia terkena imbas pelecehan Mei 98
ini.Disinilah individu Hans Gouw ini ibaratnya sudah kena penyakit khronis yang
merebak di Indonesia yakni penyakit:deldel duwelnya hukum,deldel duwelnya
keadilan, sehingga penyakit ini ingin dia aplikasikan di tanah Amrik yang sudah
mantap hukumnya. Inilah gawatnya orang yang sudah terlalu lama
menghirup hawa:hawa segala macam kebusukan terhadap nilai-nilai kemanusiaan.
Dimanapun dan kapanpun selalu ada saja individu yang akan mengambil keuntungan,
keuntungan bagi dirinya sendiri dan cs-nya atas suatu kejadian atau suatu
peristiwa. Lha so what? So what! Disinilah kita harus mengerutkan jidat alias
berpikir lebih mendalam ketimbang hanya emosional dan melihat persoalan
dipermukaannya saja, sembari melempar komentar secara se-enaknya dan
serampangan.
Kenapa Hans Gouw bisa bertindak: orang bilang a-nasionalistis?Atau
penghianatkah dia? Disinilah kita sampai ke akar persoalan! Kalau tidak ada api
mustahil ada asapnya! Apa gerangan apinya itu? Secara singkat bisa dijawab
inilah kasus-kasus yang tidak pernah terusut, let alone tertuntaskan
,peristiwa-peristiwa kekejaman 65, Tanjung Priok,pelanggaran HAM di
Aceh,DiPapua di Maluku di Nusa Tenggara, pelecehan HAM Mei 98. Inilah
sumber(pelecehan HAM) yang akan selalu di-exploit oleh orang -orang untuk
kepentingannya sendiri. Bila negara Indonesia ini negara yang sudah bersih dari
segala ketimpangan pelecehan HAM, tidak ada itu sumber yang bisa
digunakan/di-exploit orang untuk dijadikan alasan untuk memfitnah nama baik
negara bagi keuntungan dirinya sendiri. Tak ada tuh orang Aborigine sini
(Ostrali) yang ngeluyur ke LN sembari menjelek-jelekan nama Ostrali. Padahal
disinipun ada diskriminasi, tapi pemerintahan kapirun barat ostrali ini selalu,
dan senantiasa membuka secara
transparan semua problim dan ditemukan penuntasannya yang adil.
Selama tanah Indonesia masih saja deldel duwel(ya hukum ya ekonominya ya usaha
pendemokrasiannya) selalu saja ada dan akan ditemukan suatu sumber yang
kredibel untuk memfitnah Indonesia. Simple as that bukan persoalannya.
Lupakan mencerca akibat sampingan ini misalnya , soal arogansi orang Tionghoa,
soal Tionghoa si imigran bodong, lupakan menyalahkan majalah-majalh yang memuat
ads-nya si Tionghoa Hans Gouw, lupakan Menlu kita yang dikatakan "membela"
Tionghoa. Semua ini TIDAK akan mencuat keluar apabila sumber
malapetaka(pelecehan HAM dan segala ketidak adilan) yang ada di Indonesia bisa
dilenyapkan dan dituntaskan dan para kriminil baik ekonomi maupun crime against
humanity bisa disapu bersih dari bumi Indonesia. Simple as that! M (HA/IM)
FastCounter by bCentral
Send instant messages to your online friends http://au.messenger.yahoo.com <<attachment: headbar_01.jpg>>
<<attachment: headbar_02.jpg>>
<<attachment: headbar_03.jpg>>
laporanlain.gif
Description: pat1547560039
binraY0dAoqiR.bin
Description: pat1477855586
fastcounter?1793138+3586283
Description: pat1821158085
