Katanya Indonesia negeri yang nyaman. Masyarakatnya ramah dan tolong-menolong. 
Saling menghargai dengan budayanya yang luhur. Indonesia yang awalnya disebut 
Nusantara memang sebuah negeri yang sangat menjunjung tinggi budaya lokal. 
Dimana setiap daerah meski berbeda kultur tapi ada kesamaan kebiasaan atau adat 
budaya. Yaitu, keberagaman yang disertai dengan saling menghargai dan 
menjaganya sebagai bagian dari sebuah komunitas bangsa. 
Tapi cerita itu sekarang menjadi sebuah nostalgia, dongeng atau mungkin sudah 
menjadi legenda! Sedih, miris atau juga nelangsa memang. Dulu negeri ini memang 
benar-benar kaya, dalam arti yang sesungguhnya, yaitu kaya lahir dan kaya 
batin. Kini Indonesia menjadi negara yang miskin, bahkan bangkrut! Sekarang 
ini, setiap anak yang lahir di tanah air tercinta ini, secara otomatis langsung 
dibebani hutang, karena ulah kita sendiri. Secara batin, saat ini orang 
Indonesia sudah tidak seperti orang Indonesia. Alih-alih beralasan karena 
modernitas – bila tidak disebut westernisasi. Lalu dimana keindonesiaannya? 
Dimana kedaerahannya? Masa rasa keindonesiaan hanya muncul saat kita menonton 
Taufik Hidayat berlaga di arena internasional saja! Atau rasa kedaerahan hanya 
muncul ketika tawuran kampung atau saat rusuh di tiap pertandingan sepak bola?
Anak-anak Indonesia sekarang sudah lupa dengan “bahasa ibunya”. Mereka sudah 
tidak mengenal permainan tradisional daerahnya. Mereka juga sangat jauh dengan 
budaya kampung halamannya. Para pejabatnya yang notabene juga berasal dari 
kampung tidak peduli dengan budaya etnik daerahnya masing-masing. Para 
pengusahanya malah menghilangkan budaya tersebut dengan alasan sudak tidak 
cocok dengan pasar global! Dan rakyatnya, sebagian acuh, sebagian lagi malah 
lupa atau tidak mengenal lagi. 
Konon kabarnya – jika saya tidak salah – makanan khas TEMPE yang sangat populer 
di negeri ini sudah dihak-patenkan oleh negeri Samurai, Jepang. BATIK yang 
selalu kita bangga-banggakan sebagai kain khas dari Indonesia sudah 
dihak-patenkan milik negeri jiran, Malaysia. Lambat-laun mungkin saja – meski 
saya dan kita semua berharap tidak terjadi – gamelan, kebaya, rujak cingur, 
kerak telor, pencak silat atau tari piring dan tari kecak jadi milik bangsa 
lain. Jangankan soal itu, yang dianggap remeh oleh para petinggi ini, INDOSAT 
saja yang jelas-jelas milik kita sejak dulu dan digunakan oleh seluruh elemen 
bangsa ini, DIJUAL! Apa kita memang benar-benar sedang butuh uang saat itu? 
Kita ini hidup di negeri kaya-raya, cuma jiwa, hati, nurani dan mental kita 
yang miskin (dimiskinkan). Jangan-jangan kelak kita hanya bisa jadi penonton 
atau bernostalgia saja di panggung dunia ini. Rakyat Indonesia tak berbendera 
lagi! Rakyat Indonesia tersebar di seluruh daratan di muka bumi ini. Mungkin 
kita baru akan menitikkan air mata saat kita mengenang lagu Indonesia Raya 
ketika keturunan kita sudah berbeda ras, berbahasa negeri dimana kita tinggal, 
kita sudah jadi warganegara asing. Kalau dulu orang asing hanya mengenal Bali 
dan tidak tahu Indonesia, Jangan-jangan nanti Indonesia malah sudah tidak ada 
di atas gambar peta. 
Kalau pun ada budaya kita yang masih dipakai, justru yang negatif yang terus 
awet. Misalnya, budaya memberi “upeti” kepada para penguasa atau pengusaha. 
Tunduk dan patuh kepada orang yang lebih tinggi jabatan atau hartanya secara 
absolut, meskipun dia salah, alias  ABS (Asal Bapak Senang). 
Bahasa kita pun sudah tidak kita pakai atau kita hargai. Padahal Bahasa 
Indonesia adalah salah satu elemen pemersatu bangsa ini. Bahasa Indonesia hanya 
dipakai di atas kertas resmi atau acara resmi. Selebihnya kacau-balau! Lihat 
saja di televisi, di koran-koran, di dalam radio bahasa Indonesia sudah 
bercampur dengan bahasa Inggris dan bahasa pergaulan (bahasa gaul) sehari-hari. 
Bagaimana bahasa ini bisa terjaga jika pemimpin negara, pejababat, tokoh-tokoh 
nasional dan para artis senang sekali „memuncratkan“ bahasa Inggris dalam 
dialog dan percakapannya. 
Namun saya masih bisa berbangga dan tersenyum, karena masih ada anak-anak 
bangsa yang peduli dengan etika berbudaya dan berbangsa di negeri ini. Meski 
itu mungkin hanya sedikit jumlahnya. Saya paham, sebagian lagi hanya karena 
tidak tahu karena makin sulitnya hidup di negeri ini yang katanya makmur. Kita 
hanya terseret oleh arus global yang kita sendiri tidak siap menghadapi itu. 
Para petinggi negeri ini merasa gengsi bila tidak ikut percaturan dunia. 
Padahal kita tidak tahu mau berbuat apa dengan “makhluk” globalisasi itu? 
Negara lain mengikuti arus karena memiliki rencana yang jelas dan matang. 
Dengan percaya diri mereka bekerja keras untuk mencapai dan mewujudkan mimpi 
yang mereka rencanakan itu! Para petinggi negeri ini tidak begitu. Mereka tidak 
melihat ke depan dan ke bawah, tapi ke samping dan ke atas. Jadi, yang ada cuma 
egois dan rakus! 
Seharusnya kita optimis dan percaya diri bahwa globalisasi bukan berarti kita 
harus menyerap segala yang ditawarkan dunia pada kita secara absolut, tapi kita 
harus berani memberikan posisi tawar kita dengan kekuatan kita sendiri. Jangan 
lagi kita mau diatur-atur oleh bangsa lain. Bukankah kita sudah sangat 
berpengalaman bahwa kita pernah diinjak-injak dan dijajah beratus-ratus tahun? 
Mengapa kita tidak mengambil pelajaran berharga dari pengalaman buruk itu? 
Indonesia akan menjadi Indonesia, jika Indonesia yakin dengan kekuatan 
Indonesia! –reef*


                
________________________________________________________ 
Kunjungi halaman depan Yahoo! Indonesia yang baru! 
http://id.yahoo.com/

Kirim email ke