Betul sekali sitiran Steve Kosasih "Semua kebaikan memerlukan biaya.
Begitu kata eyang saya yang suka bilang kepada saya: "Ngger... Jer 
Basuki Mowo Beyo..." (Nak... Kebaikan itu memerlukan biaya...)". Itu 
sebabnya mengapa Belanda/Eropa mengawinkan kapitalisme dan 
sosialisme. Kapitalisme boleh eksis tapi dipajaki tinggi, uang 
pajaknya dipakai untuk bersosialisme, a.l. untuk membiayai polis 
asuransi kesehatan masyarakat akar rumput, dipakai untuk menyubsidi 
pertanian, dipakai untuk membiayai pendidikan sehingga anak-anak 
akar rumput di Belanda bisa bersekolah gratis, dll.

Celakanya, Indonesia melakukan kebalikannya. Bukan pertanian yang 
disubsidi, melainkan BBM yang disubsidi. Maka penerangan listrik 
mall-mall, diskotek, mobil pribadi pun ikut disubsidi, sebaliknya 
para petani Indonesia dibiarkan tergencet oleh harga bibit/pupuk 
yang tinggi. Lebih celaka lagi, Indonesia menentang habis-habisan 
kapitalisme. Lhaaaa ........ kalau kapitalisme digencet, darimana 
pemerintah Indonesia bisa mendapat uang untuk membiayai sosialisme? 
Haiyaaa, cilaka butulan nih Indonesia.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland

--- In [email protected], "Steve Kosasih" 
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:
>
>  On 1/22/07, jual gosip <[EMAIL PROTECTED] <jual_gosip%40yahoo.com>>
> wrote: (EDITED FROM ORIGINAL - KOMENTAR SAYA DI BAWAH)
> 
> Tapi ingat, ada hal-hal yang membuat orang China sukses namun 
dengan
> cara-cara yang tidak benar.
> 
> banyak pengusaha China yang membobol bank. Mereka bersedia hanya 
menerima
> 50-60 persen dari total kredit yang diajukan sedangkan 40-50 
persennya lagi
> diberikan kepada oknum-oknum bank. Proyek di mark-up, setelah 
dimacetkan
> mereka kabur entah kemana. Yang di penjara bankir yang menerima 
uang suap.
> 
> saya benci koruptor. Tapi saya menyatakan salut dan mengacungkan 
jempol
> kepada Bob Hasan, Probosutedjo, Beddu Amang, Rahardi Ramelan yang 
bersedia
> masuk penjara untuk menebus kelakukannya. tapi pengusaha China 
yang korup?
> Nggak ada yang masuk penjara. Dia pilih nyuap penegak hukum atau 
kabur ke
> luar negeri...
> persis seperti anjing dibawa penggebug. Makanya yang banyak di 
umumkan oleh
> Kejaksaan Agung sebagian besar pengusaha China....
> 
> Sekali lagi ini bukan rasis tapi fakta
> 
> MY COMMENT:
> (ini maksudnya membahas pengusaha Indonesia yang beretnis 
keturunan China
> kan? kalau YA, berikut ini komentar saya..)
> 
> Pertama-tama:
> Muhammad "BOB" Hasan, itu asli keturunan China.
> 
> Jadi, kalau anda mengacungkan jempol padanya, maka anda baru saja 
membantah
> komentar anda sendiri.
> 
> Lagipula banyak tersangka koruptor (dan bukan koruptor) keturunan 
etnis
> China yang pernah masuk penjara (seperti Ricardo Gelalel dan Da'i 
kondang
> Anton Medan). Dan banyak pula tersangka koruptor (dan bukan 
koruptor) yang
> tertangkap (dan belum tertangkap) yang bukan berasal dari etnis 
China
> (seperti tersangka pembobol Bank BNI Rp1,7triliun kemarin; Adrian 
Waworuntu,
> Jeffrey Baso, Paula Lumowa dan teman-teman)
> 
> Kedua:
> Namun demikian, masuk penjara ataupun kabur, saya rasa tidak pada 
tempatnya
> bagi siapapun untuk mengacungkan jempol kepada koruptor. Apapun 
etnisnya.
> Karena korupsi itu seharusnya bukan untuk diacungi jempol.
> 
> Ketiga:
> It takes two to tango.
> Artinya: Orang tidak bisa korupsi sendirian. Kalau mau membobol 
bank, apakah
> tidak perlu bantuan orang dalam? Menurut saya pejabat/eksekutif 
yang terima
> sogok atau koruptor yang menyogok sama kelirunya. Terima sogok kan 
sama juga
> KKN.
> 
> Kita tentu juga pernah dengar bahwa ada banyak uang orang 
Indonesia yang
> nongkrong bertahun-tahun dengan bunga super kecil di Swiss, USA dan
> negara-negara lain.. (sumber: info dari teman-teman saya yang jadi 
bankir di
> negara-negara tersebut)
> 
> PENGUSAHA (keturunan etnis apapun) tidak akan sudi mendiamkan 
uangnya
> nongkrong di tabungan bertahun-tahun dengan bunga yang kecil...
> Artinya?
> 
> Itu uang warganegara Indonesia yang BUKAN PENGUSAHA.
> 
> Siapa warga negara Indonesia yang BUKAN PENGUSAHA tapi punya uang 
banyak
> (sampai jutaan US Dollar) yang rela duitnya nongkrong bertahun-
tahun
> meskipun hanya mendapat bunga kecil?
> 
> Mungkin - logikanya - warga negara Indonesia yang mendapat duit 
itu dengan
> "gratis" alias ngga pake modal alias... pikir sendiri deh... Kalau 
pengusaha
> kan pakai usaha... namanya aja pengusaha...
> 
> Logikanya (dan faktanya) yang BUKAN PENGUSAHA dan bisa dapat 
fasilitas untuk
> dapat duit "gratis" itu pasti sebagian besar (kalau tidak 
semuanya) tidak
> mungkin keturunan China bukan?
> 
> Kalau buat saya, yang namanya koruptor, apapun etnisnya, itu semua 
tidak OK.
> 
> Saya selalu mendoakan pengusaha-pengusaha (bahasa modern yang lagi 
naik
> daun: entrepreneur) yang betul-betul berusaha. Karena cuma mereka 
yang
> menambah lapangan pekerjaan dan mengentaskan kemiskinan di tanah 
air kita
> tercinta ini.
> 
> Kalau cuma kuli seperti saya, ya sama-sama masih mengharap gaji dan
> bayaran.. jadi belum bisa ngasih makan orang lain yang bukan 
keluarga..
> 
> Selain para pengusaha, yang paling saya doakan juga adalah para 
investor -
> siapapun orangnya, apapun etnisnya dan dari manapun asal 
negaranya - yang
> mau berinvestasi di sektor riil di Indonesia. Bukan cuma investasi 
di pasar
> modal saja - karena itu namanya spekulasi, bukan investasi, karena 
tiap saat
> bisa ditarik.
> 
> Yang paling diperlukan negara kita untuk bisa bangkit dari 
keterpurukan
> ekonomi adalah FDI - Foreign Direct Investment, alias investasi 
para
> investor asing untuk membangun pabrik, mengeksplorasi lahan, 
menanam modal
> bisnis di tanah air.
> 
> Ekonomi kita terjun bebas karena investasi di sektor riil banyak 
yang lari
> pada masa krisis. Pabrik-pabrik tutup. Order-order barang ekspor 
pindah ke
> negara-negara lain yang dianggap lebih masuk akal: Malaysia (yang 
lebih
> mahal dari Indonesia), India, Srilanka, dan Vietnam.
> 
> Hanya perbaikan ekonomi yang bisa memicu kebangkitan bangsa kita 
ini.
> Kenapa? Karena perbaikan pendidikan, taraf kehidupan, keamanan dll 
semuanya
> perlu biaya. Dan biaya hanya bisa didapat dari sektor ekonomi.
> 
> Semua kebaikan memerlukan biaya.
> Begitu kata eyang saya yang suka bilang kepada saya:
> "Ngger... Jer Basuki Mowo Beyo..."
> (Nak... Kebaikan itu memerlukan biaya...)
> 
> So, persepsi bahwa etnis tertentu lebih hebat dari etnis yang lain 
itu
> menurut saya adalah "TIPUAN STATISTIK"...
> 
> Ada banyak sekali saudara-saudara kita dengan etnis Non-China yang 
maju dan
> sukses di Indonesia, tapi karena dari sekitar 230 juta masyarakat 
ada lebih
> dari 200 juta beretnis Non-China, sudah barang tentu jumlah orang 
miskinnya
> juga lebih banyak..
> 
> Di sisi lain banyak sekali juga orang Indonesia dengan etnis China 
yang
> sangat miskin (apalagi di Pontianak dan sekitarnya, banyak banget 
rakyat
> Indonesia beretnis China yang jadi buruh tani atau buruh tambang 
dan bahkan
> pembantu rumah tangga dari pemilik lahan/majikan yang beretnis Non-
China..)
> Tapi, karena jumlah rakyat kita yang TIDAK berasal dari China 
lebih banyak
> daripada yang berasal dari etnis China, maka hal ini sering 
terlewatkan..
> 
> Bukti statistik lainnya:
> 
> 1>Negara China memiliki lebih dari 1 miliar penduduk.. Sebagian 
besar miskin
> tuh..
> 2>Negara China (RRC) yang konon komunis itu, ternyata lebih berani 
menghukum
> koruptor di negaranya.. banyak koruptor di China - yang SEMUANYA 
orang China
> - dihukum mati di sana. Ada yang digantung, ditembak, dipancung, 
kerja
> paksa, atau dipecat dari jabatannya dan dipenjara bertahun-tahun.
> Tentu kita masih ingat ada pejabat yang korupsi "cuma" senilai 
Rp8miliar
> yang dihukum gantung di China.. (saya baca sudah lama sekali di 
KOMPAS).
> Jadi, mungkin yang juga diperlukan oleh Indonesia adalah penerapan 
hukum
> yang lebih tegas... (mungkin loohhh, maaf kalau ada yang salah...)
> 
> PERSEPSI seringkali lebih hebat daripada REALITAS..
> Ada baiknya kita menguji realitas sebelum mengklaim sesuatu..
> Realitas terbaik adalah angka yang sahih..
> Karena seperti kata pepatah lama: NUMBERS DON'T LIE :)
> 
> Salam hangat Mediacare...
> Semoga kita semakin care terhadap negara kita...
> 
> Tabik dari Pecinta Statistik :)
>


Kirim email ke