Perempuan yang menanggapi anda ketus di Kualalumpur
itu adalah seorang chauvinist. Manusia-manusia semacam
ini kalau di perantauan adalah oportunis. Walau
berganti kewarganegaraan patriotisme mereka tak ada
sama sekali, malah sering sinis. Di milis Apakabar
banyak, disini hanya dua-tiga. Orientasi mereka tanah
leluhur yang dalam mengelu-elukannya secara tersamar
mereka sebut "timur". Seperti budaya "timur", agama
"timur", era kebangkitan "timur"  dsb-nya. 

Cina yang anda jumpai di Singapura itu adalah
nasionalis. Banyak saudara sebangsa kita yang seperti
mereka. Tan You Hok, Rudy Hartono, Christian Hadinata,
Cun Cun, Johan Wahyudi, Lim Swie King, Yakob Oetama
hanyalah beberapa saja dari banyak lainnya. 
 
--- Dimas Mohammad Ario
<[EMAIL PROTECTED]> wrote:

> Bung Harry,
> 
> Whatever....tapi memang tidak bisa dipungkiri
> they're all great men!
> Satu hal yg salut dari RRT adalah estafet
> kepemimpinannya yg senantiasa
> tidak terputus. Bahkan saya kira pengganti Hu Jin
> Tao pun sudah disiapkan sekarang ini.
> 
> Ada satu kejadian menarik ketika bulan lalu saya
> pergi ke Kuala Lumpur.
> Di satu pertokoan di Kl saya mendatangi sebuah kios
> dan menanyakan
> kepada penjaganya (she's Chinese) & bertanya dalam
> Bahasa, menanyakan money changer terdekat.
> 
> Saya kaget dengan reaksinya karena dia hanya diam
> saja & menatap saya
> dengan ketus, dan mengatakan, "I don't speak
> Malay!". Saya jadi
> tersinggung dengan sikap ketusnya, tapi tokh
> akhirnya saya bertanya lg dalam bahasa Inggris.
> 
> Yg menarik adalah ketika saya sedang akan naik bus
> menuju S'pore,
> terjadi keributan antar sesama penumpang bis yg
> ternyata dua pihak yg
> bertengkar adlh orang Indonesia. (& they're both
> Chinese). Mereka
> bertengkar karena koper milik satu pihak telah rusak
> akibat dipaksakan
> masuk ke dalam ruang bagasi bus. Yang menarik
> adalah, terlontar kalimat
> pertengkaran, "untung sama2 orang Indonesia, kalo
> nggak udah gue pukul lo!!".
> 
> Mendengar itu saya tersenyum lega, wah kalo gini
> caranya ntar Malaysia
> punya gue dong...hehehe.
> 
> The world map is changing: Indonesia, Vietnam,
> China, India.
> 
> Salam jahe (hangat menyegarkan).
> 
> DIMAS
> 
> ________________________________
> 
> From: Harry Adinegara
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] 
> Sent: Friday, January 19, 2007 10:05 AM
> To: Dimas Mohammad Ario; [email protected]
> Subject: Re: FW: [mediacare] "Thank you
> God"......."for the Chinese"/Pro
> Bung Dimas
> 
>  
> 
> Sebenarnya rakyat Tiongkok itu harus/patut lebih 
> berterimakasih kepada
> Dheng Shiauping ketimbang Mao Tsetung. Karena bapak
> pembangunan Tiongkok
> adalah berkat visi-nya Dheng yang membuka ekonomi
> Tiongkok dan
> memperbolehkan kaidah komunis dilanggar dengan
> memperbolehkan orang
> mempunyai properti privat. Atau dengan nama lain
> memperbolehkan sistim
> kapitalis terencana membiak di Tiongkok.
> 
>  
> 
> Yang sangat membanggakan, adalah tindakan Dheng
> sendiri. Beliau minta
> agar jenasahnya di kremasi dan di buang ke laut. Ini
> menunjukan
> pribadinya yang luhur, dia tidak mau di kultus
> individu-kan, kendati
> beliau adalah bapak pembangunan Tiongkok modern.
> Tanpa Dheng Tiongkok
> entah apa jadinya negara gede rakyat tapi waktu itu
> masih kere dan
> deldel duwel itu jadinya?
> 
>  
> 
> salam hangat dari,
> 
> Harry Adinegara
> 
> 
> 
> Dimas Mohammad Ario
> <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
> 
>       Dear Harry Adinegara,
> 
>       Please find enclosed the picture.
> 
>        
> 
>       "Negara yang besar adalah negara yg tidak
> meninggalkan para
> pahlawannya".
> 
>        
> 
>       Salam dan salut saya kepada rakyat China yg dari
> generasi ke
> generasi senantiasa "meng-garis" ke titik Mao Tse
> Tung.
> 
>        
> 
>       Indonesia sementara ini terputus dari titik
> Soekarno...tapi
> sekalinya tali itu tersambung lagi...Indonesia pun
> akan segera bangkit
> lagi.
> 
>        
> 
>       Warm regards,
> 
>       DIMAS
> 
>       
> ________________________________
> 
> 
>       From: [email protected]
> [mailto:[EMAIL PROTECTED] On Behalf Of
> Harry Adinegara
>       Sent: Friday, January 19, 2007 7:46 AM
>       To: [email protected]; komunitas
> tionghoa; media
> care; ppi india
>       Subject: [mediacare] "Thank you God"......."for the
> Chinese"
> 
>        
> 
>       Ungkapan tersebut diatas diserukan oleh seorang
> security guard
> seorang Angola.
> 
>        
> 
>       Selanjutnya topik ini adalah sebuah excerpt dari
> tulisan yang
> bisa anda2 sekalian dapati dalam majalah TIME edisi
> 22 Januari 2007
> dengan judul "China..Dawn of a new Dynasty"..."The
> Chinese Century"
> dengan imbuhan beberapa komentar dari penyodor
> postingan ini.
> 
>        
> 
>       Co-founder dari majalah TIME ini Henry Luce, yang
> lahir di
> China, anak seorang misionaris, mengatakan  tahun
> 1941 menjelang Amerika
> terjun dalam kancah PD II untuk menstimuli rakyat
> Amerika dia bilang
> bahwa abad ini(20 century) adalah abadnya Amerika.
> Tapi Henry Luce tidak
> lupa ke-fasinasinya dan cintanya(kepada Tiongkok).
> 
>        
> 
>       Para netter yang tertarik akan perkembangan China
> bisa mengikuti
> berita2 selanjutnya, dan akan berturut-turut di
> turunkan oleh beberapa
> journalist dari majalah TIME ini dalam minggu2
> berikutnya.
> 
>       Tidak ada berita...apalagi soal ekonomi yang
> menyangkut
> per-ekonomian dunia tanpa di-sebut2 motor
> penggeraknya, yang tidak lain
> adalah China.
> 
>        
> 
> 
=== message truncated ===



 
____________________________________________________________________________________
Get your own web address.  
Have a HUGE year through Yahoo! Small Business.
http://smallbusiness.yahoo.com/domains/?p=BESTDEAL

Kirim email ke