KOMPAS Selasa, 23 Januari 2007
Udara Jakarta Terus Memburuk
Jumlah Hari Tidak Sehat Bertambah
jakarta, Kompas - Sepanjang 2006, kualitas udara di DKI Jakarta memburuk
dibandingkan dengan tahun 2004 dan 2005. Peraturan Daerah Nomor 2 Tahun 2005
untuk mengatasi polusi udara dipastikan belum berjalan maksimal. Akibatnya,
harapan masyarakat Jakarta memperoleh udara lebih bersih pada 2007 sulit
tercapai.
"Tahun 2004 dan 2005 jumlah hari dengan kualitas udara terburuk jauh di bawah
50 hari, tetapi pada 2006 justru naik hingga 51 hari. Peningkatan polusi udara
sebagian besar dipicu oleh banyaknya asap pembuangan kendaraan bermotor. Hal
ini menunjukkan, Perda Nomor 2/2005 belum diimbangi dengan adanya pengaturan
khusus tentang lalu lintas transportasi," tutur Firdaus Cahyadi, Koordinator
Kelompok Kerja Udara Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta, Senin (22/1).
Menurut Firdaus, saat ini rata- rata di setiap satu kilometer panjang jalan
terdapat 3.000 kendaraan bermotor.
Hal yang sama juga dikatakan mantan Menteri Lingkungan Hidup Emil Salim.
Menurut dia, setiap terjadi kemacetan lalu lintas, yang diimbangi dengan
pembangunan jalan baru, justru selalu memunculkan titik kemacetan baru.
Emil mengatakan, sistem transportasi di Jakarta dan Indonesia secara umum
terlalu memanjakan kendaraan bermotor dan menganaktirikan alat transportasi
massal. Tanpa pembangunan sarana angkutan massal, pembangunan jalan tol, jalan
layang, dan terowongan bawah tanah akan memicu masyarakat untuk membeli
kendaraan bermotor pribadi.
Tidak sesuai
Berdasarkan hasil analisa data Kaukus Lingkungan Hidup Jakarta dan melihat
kondisi udara Jakarta saat ini, posisi Ibu Kota sebagai kota ketiga berpolusi
udara terburuk di dunia setelah Meksiko dan Bangkok, Thailand, patut
dipertanyakan.
Penyusunan posisi negara-negara berpolusi terburuk itu adalah hasil penelitian
Bank Dunia lima tahun silam. Kondisi saat itu tidak sesuai lagi dengan kondisi
Jakarta saat ini.
Selain Perda No 2/2005 yang belum maksimal dilaksanakan, pemberian penghargaan
Gubernur DKI Jakarta Sutiyoso sebagai salah satu pemenang The 2006 Asian Air
Quality Management (AQM) dalam workshop Better Air Quality (BAQ) ke-4 di
Yogyakarta 13-15 Desember 2006 terbukti tidak berkorelasi positif dengan
tingkat kualitas udara Jakarta.
Penghargaan diberikan karena Sutiyoso telah memulai mengadakan transportasi
alternatif transjakarta, yang mampu menyerap 14 persen pengendara mobil menjadi
pelanggan moda angkutan baru tersebut. Kenyataannya, kendaraan pribadi tetap
bertambah dan polusi udara semakin meningkat.
Berdasarkan laporan dari Bank Dunia, kerugian warga Jakarta akibat buruknya
kualitas udara pada tahun 1990 mencapai 62 juta dollar AS. Jika kondisinya
terus memburuk seperti saat ini, pada 2008 kerugian diperkirakan mencapai 222
juta dollar AS.
Biaya pengobatan naik
Badan Pengelolaan Lingkungan Hidup Daerah DKI memaparkan, biaya pengobatan
warga akibat menderita penyakit yang berhubungan dengan pencemaran udara selama
1996-2000 mencapai 600 juta dollar AS.
"Tingginya tingkat pencemaran udara erat terkait dengan banyaknya populasi
manusia yang menghuni Jakarta. Pertambahan populasi terutama akibat urbanisasi.
Jakarta adalah pusat segalanya sehingga daya tariknya amat kuat," kata Emil
Salim.
Emil Salim mengatakan, daya tarik Jakarta sebagai ibu kota negara dan juga
pusat industri serta pusat pembangunan secara bertahap harus dikikis. "Jika
tidak, Kota Metropolitan ini akan tetap dihadapkan pada masalah- masalah
lingkungan dan sosial yang sama, bahkan bertambah buruk dari tahun ke tahun,"
katanya.
Pengikisan dapat dilakukan dengan menyebarkan daya tarik ke luar Jakarta,
termasuk mengurangi dan memindahkan puluhan pusat perbelanjaan, pelabuhan,
serta terminal angkutan umum.
Pemerintah Provinsi DKI harus mengutamakan pengembangan sarana angkutan
nonjalan seperti kereta api, angkutan sungai, laut, dan udara yang selama ini
selalu terbanting ke urutan prioritas terendah. Jakarta juga wajib ditata ulang
secara menyeluruh, bukan parsial. (nel)
---------------------------------
TV dinner still cooling?
Check out "Tonight's Picks" on Yahoo! TV.