KOMUNITAS WAYANG SUKET  bekerjasama Warga Kendal Rejo -mojosongo

PERSEMBAHKAN ACARA :


                           “MEMBACA PACUL GOWANG”


Salam Budaya,

Gagasan Pacul Gowang muncul karena kita semua ingin mencoba melihat 
kembali 
berbagai persoalan tani yang sesungguhnya --petani dan dunia pertanian 
adalah salah satu diantara yang terpenting dari laju roda gerak 
kehidupan 
berbangsa dan bernegara ini.
Pacul Gowang adalah sebuah tembang atau kondisi yang merefleksikan 
kehidupan 
sosial terutama para petani. Pada intinya Pacul Gowang ditembangkan 
untuk 
menolak bencana; ketika hujan dan badai besar -yang bisa memunculkan 
bencana- datang, menolak kemarau yang terlampau panjang. Pacul Gowang 
ini 
juga merupakan refleksi kritis yang menggambarkan bagaimana para petani 
yang 
seringkali terkalahkan dalam lingkaran industri pertanian, bagaimana 
para 
petani sekarang tidak lagi bekerja untuk dirinya sendiri tapi menjadi 
buruh 
untuk sebuah kekuatan modal besar yang selama ini sangat menentukan 
merah 
hitamnya kehidupan para petani dengan kebijakan-kebijakan industri 
pangan 
dalam kapitalisme pertanian. Pacul Gowang ditembangkan agar petani 
kembali 
jêjêr di atas tanah sawahnya
Ritual dan Rembug ‘Pacul Gowang’ diawali dengan Tetembangan Tanam Pohon 
yang 
merupakan perwujudan pengobatan kita terhadap alam yang sedang sakit. 
Sakit 
karena setiap hari tanahnya terus digali dan digali, pohonnya ditebang, 
hutan digunduli tanpa berusaha untuk memulihkannya kembali untuk 
kehidupan 
yang masih panjang, tanpa mempedulikan dampak yang bakal terjadi, tanpa 
menyadari betapa banyak yang telah alam kasih dan sediakan untuk 
kelangsungan hidup kita –dan anak cucu. Rembug Desa dalam Ritual dan 
Rembug 
Pacul Gowang, pada sore hari, mempertemukan para petani dari desa 
Semanding 
(Kaliwungu, Kendal), petani desa Sukolilo (Pati), petani desa Dukuh dan 
Gedong (Sukoharjo), warga Kendalrejo (Mojosongo) dan petani Imogiri. 
Berbagi 
tentang berbagai
persoalan seputar pertanian desanya, bertukar kawruh, pengalaman, 
bagaimana 
mereka hidup di desa masing-masing.
Pada malam harinya, Ritual Pacul Gowang, sebuah refleksi ritual yang 
meminta 
dan berdoa kepada Tuhan agar “pacul-pacul” yang ada tidak lagi gowang; 
sebuah pencerahan, diketemukannya solusi dan jawaban atas berbagai 
persoalan 
tani dan pertanian yang sekarang sedang mengemuka.
Acara dilanjutkan Srawung Seni, setiap para petani juga seniman yang 
hadir 
saling menyajikan bentuk keseniannya masing-masing sehingga siapapun 
yang 
datang bisa membawa pengalaman tontonannya dan menceritakan kembali 
sebagai 
oleh-oleh.


MEMBACA PACUL GOWANG DI GELAR:
Kamis, 25 Januari 2007, Di Sanggar wayang suket

Acara :

1.Tetembangan  TANAM POHON, Pukul 10.00 WIB di beberapa rumah  Warga
desa Kendalrejo RT 05 RW11.

2.REMBUG DESA, Pukul 15.00 WIB di Pendapa Sanggar Wayang Suket.
Petani desa Semanding (Kaliwungu, Kendal), Petani desa Sukolilo (Pati),      
  Petani desa Dukuh (Sukoharjo) dan Warga Kendalrejo (Mojosongo).

3. RITUAL PACUL GOWANG, Pukul 19.00 WIB di Pos Ronda RT 05 RW11          
Kendalrejo-Mojosongo.

4. PENTAS SRAWUNG SENI, Pukul 21.00 WIB di Pos Ronda RT 05 RW 11        
Kendalrejo-Mojosongo.
Atas perhatian dan kerjasamanya kami haturkan terima kasih.

Komunitas Wayang Suket, Desa Kendalrejo, Jln. Sibela Timur 3 no. 1 
Mojosongo, Jebres, Surakarta, 51721, Telp 0271-5853610 E-mail : 
[EMAIL PROTECTED]

Slamet Gundono Kontak person: 08179478214


 
---------------------------------
No need to miss a message. Get email on-the-go 
with Yahoo! Mail for Mobile. Get started.

Kirim email ke