Terimakasih banyak utk Bung JJ Kusni di Paris untuk penjelasannya. 
Ibarat orang haus minta segelas air, eeh diberi makan utk sehari penuh. Merci.
Sangat menunggu Sambungan ttg populisme. Bahkan di websitenya
Amien Rais sekira 5 thn yl tertulis bhw situs tsb "populis", tetapi lalu di 
hapus.
Ada beberapa kata yg saya kira di Indonesia berubah maknanya. Spt 
nuance menjadi nuansa, yg dipakai menggantikan kata suasana.
Salam, bdg

----- Original Message ----- 
From: Kusni jean 
To: hksis ; WAHANA NEWS ; nasional-list 
Sent: Wednesday, January 24, 2007 6:58 AM
Subject: [nasional-list] jurnal shangrila: jawaban kepada,bdg kusumo [1]



Jurnal Shangrila:


JAWABAN KEPADA BUNG BDG KUSUMO [1]



Posting Bung [lihat: Lampiran], bagiku, mengangkat paling tidak dua masalah, 
yaitu: 1. arti kritik, sikap terhadap kritik dan bagaimana mengkritik; 2.  arti 
populisme. 3.franglais.


1. Tentang Kritik:


Di Indonesia, agaknya, kritik dipandang sebagai suatu cercaan, bahkan lebih 
jauh dari itu,  tidak jarang disetarakan dengan "meludahi muka seseorang di 
depan umum", "hujatan", "menjatuhkan seseorang", sehingga kalau ingatanku 
benar,  pernah ada ketentuan atau undang-undang yang melarang mengkritik  
Presiden dan keluarganya. UU ini kemudian, pada masa pemerintahan SBY, kalau 
bacaanku benar, sudah dicabut atau dibatalkan.  Jika boleh mengambil 
perbandingan, misalnya Perancis,  Presiden, PM, para  menteri, tokoh-tokoh 
masyarakat, selain dipanggil dengan nama  [Tuan, Monsieur Mitterrand, Tuan 
Chirac, dan lain-lain...], mereka pun dikritik, dikarikaturkan, bahkan 
diolok-olok misalnya dalam acara tivi yang berjudul Guignol. Mitterrand 
almarhum, menurut koran-koran Perancis, sangat menyukai acara Guignol  yang 
memaparkan politik, perangai para pejabat, termasuk Tuan Presiden dan 
keluarganya. Guignol, tampil sebagai warganegara yang berpikiran bebas. Tentu 
saja, gurauan dan kritik ini,  tidak pernah menyentuh soal pribadi yang 
terkait. Bahkan majalah Paris Match yang memuat foto anak perempuan Mitterrand 
dengan "istri kedua"[di sini disebut "maîtresse", pacar, gundik, gendak, karena 
Negara tidak mengakui poligami], majalah ini diguguat oleh Persatuan Wartawan 
Perancis, karena menyentuh kehidupan pribadi seseorang.  Sejalan dengan 
pandangan dan sikap ini, maka pers Perancis menertawakan ketika pers dan 
politisi Amerika Serikat [AS] , ribut dengan lagak "puritanisme" AS melalui 
kasus Bill Clinton dan Monica.  Padahal Perancis sendiri dikenal sebagai negeri 
mayoritas Katolik. Apakah ini salah satu dampak dari hak kewarganegaraan 
[citoyens/nnes],  buah dari Revolusi Perancis serta pemisahan agama dan negara, 
dan bagaimana Perancis memaknai kata Republik sebagai suatu rentetan nilai? 
Perancis, dalam perkembangannya terakhir, berdasarkan pengumpulan pendapat umum 
 yang dilakukan oleh Harian Katolik La Croix, menunjukkan bahwa 70% lebih 
penduduk Katolik tidak ke gereja. Karena itu ada istilah "Katolik yang tidak 
terlalu Katolik". [Lihat juga: Le Monde Religion, Desember 2006]. 


Pejabat-pejabat teras negara negeri ini, memandang kritik sebagai salah satu 
bentuk pengawasan aktif masyarakat, sehingga pendapat umum yang dibentuk dengan 
berbagai cara, terutama oleh pers,  sebagai  "the fourth power" [kekuatan 
keempat] sangat diperhitungkan. Kritik dan tulisan-tulisan dari  Mingguan Le 
Canard Enchainé, biasanya menjatuhkan dari kedudukannya tokoh yang dikritik.  
Karena artikel-artikel bergaya kocak [di sini nampak arti canda sebagai cara 
penyampaian ide] , seperti acara tivi Guignol,  yang diterbitkan oleh mingguan 
ini, selalu didasarkan pada data-data dan bukti  sangat kuat berdasarkan 
sumber-sumber terpercayanya. Di negeri ini, aku melihat ada kebebasan pers yang 
agaknya sudah menjadi tabu disentuh oleh kekuasaan politik. Bahkan 
majalah-majalah porno, bioskop-bioskop yang memutar filem biru ["blue film"] 
pun tidak diutak-utik, [sampai tidak sedikit yang mati sendiri, ketiadaan 
pengunjung], berdasarkan kebebasan berpendapat atau mengungkapkan diri. 
Penerbitan neo-nazi pun dibiarkan terbit walau pun dari berbagai unjuk rasa 
selama puluhan tahun aku di sini, berdasarkan pengalaman mereka diduduki Nazi 
Hitler, aku saksikan, rakyat Perancis tidak akan membiarkan neo-nazi berkuasa. 
Contoh paling menonjol ketika pada Mei 2002, Le Pen, tokoh partai yang 
berkencendrungan rasis dan neo-nazi, jadi tandingan Jacques Chirac, jutaan 
penduduk di seluruh negeri turun ke jalan menenanta Le Pen. Chirac terpilih 
dengan  angka 85% lebih. Unjuk rasa adalah salah satu bentuk rakyat mengkritik.


Dalam debat-debat tivi, dengan pejabat teras negara, para mahasiswa, 
orang-orang kampung, di café-café pun sering diikutsertakan dan diajak debat 
dengan para menteri atau kandidat presiden.  Pada kesempatan ini mereka beradu 
argumen dan data.  


Kritik di sini tidak dipandang sebagai "meludahi muka seseorang", tidak pernah 
sebagai "menjatuhkan seseorang" yang dikritik. Kritik dianggap sebagai hak 
dasar, hak dari pengungkapan diri, bagian dari hak sivik yang diajarkan sejak 
anak masuk play group. Kritik besar-besaran yang diikuti oleh mayoritas rakyat, 
pernah kusaksikan pada masa Revolusi Kebudayaan Proletar [RBKP] di Tiongkok 
dengan menggunakan surat tempel huruf besar [da zi bao]. Da Zi Bao di tempelkan 
di tembok-tembok kota, di dinding-dinding gedung atau kantor. Di negeri mana 
pun yang pernah kudatangi, tak pernah kudapatkan kritik dikembangkan dan 
dibiarkan berkembang seperti pada masa  RBKP, termasuk di Amerika Serikat yang 
mengaku diri sebagai jago demokrasi dan kebebasan.  Membandingkan hal  yang 
kulihat di Perancis dengan RRT pada masa RBKP, kukira model Perancis sekarang 
lebih tertapis dan "canggih", baik dari segi cara atau pun tekhnologi. Hanya 
saja debat akademi di kalangan akademisi Tiongkok sekarang, terutama antara 
kalangan Kiri Baru vs kaum liberal, cukup menarik diperhatikan [lihat:Majalah 
La Vie des Idées, Mensuel International sur le Débat d'idées,  Paris, November 
2006, No. 17]. 


Jika dilihat dari epistemologi, barangkali  kritik memang merupakan salah satu 
bagian dari siklus persepsi-konsepsi dan praktek. Dari segi ini, konsepsi 
mencapai kematangan dan kelengkepana relatifnya melalui praktek, termasuk 
kritik. Jika pandangan ini bisa diterima, maka tidak ada dasar nalar untuk 
menolak kritik apalagi membungkamkannya, sampai-sampai menggunakan 
undang-undang. Sama tidak punya dasar nalarnya memberangus kebebasan akademi, 
melarang aliran ini dan itu atas nama negara. Dalam hal ini aku teringat akan 
kata-kata inspektur Derick, tokoh utama filem serial Jerman yang banyak diputar 
di tivi Perancis: "hukum sering tidak tanggap dengan kenyataan dan kemanusiaan" 
karena itu, Derick sering membebaskan yang tersangka. Tidak  membawanya ke 
pengadilan. Filem serial Derick dan Stephan, pembantunya merupakan serangkaian 
filem policier, dengan pendekatan manusiawi, seperti halnya tulisan-tulisan 
Simenon, penulis Belgia.


Hanya saja dalam mengkritik, barangkali kita memang perlu memperhatikan cara 
mengkritik. Memperhitungkan "muka" orang yang dikritik. Sebab seperti kata Mao 
Zedong, maksud baik jika dilakukan dengan cara yang tidak tepat, tidak akan 
berdampak baik.  Karena itu adalah suatu hal yang tidak bijak menterapkan 
"tujuan membenarkan cara". Mao mengetengahkan cara yang disebut curhat, dan 
metode "angin sepoi-sepoi basa" dalam cara mengajukan kritik, bukan dengan gaya 
"topan menderu-deru". "Yang berbicara tak berdosa, yang mendengar patut 
waspada", adalah cara lain yang dianjurkan oleh Mao ketika mendengarkan kritik. 
Sementara terhadap pengkritik, Mao menganjurkan agar "yang tidak melakukan 
penelitian, tidak berhak berbicara". Kata-kata yang kupahami bahwa kita 
seniscayanya mengenal subyek yang kita bicarakan, mempunyai data-data dan dari 
sini mengembangkan alasan dan jalan keluar. "Yang berbicara tidak berdosa, yang 
mendengar patut waspada", kupahami juga sebagai anjuran agar yang mendengar 
menyediakan tempat bagi kebenaran pihak lain sekali pun layak ditapis dengan 
kewaspadaan nalar dan data.  Sebab kritik dan debat bukan demi kritik dan 
debat, tapi salah satu usaha mendapatkan kebenaran relatif dan jalan keluar.  
Bukan untuk menghujat dan menang-menangan serta merasa diri sebagai monopoli 
kebenaran atau obyektivitas. Kritik dan debat, kulihat sebagai saling 
bertautan.  Maka sungguh hal positif ketika SBY mencabut undang-undang yang 
melarang kritik terhadap presiden dan keluarganya. Satu langkah baik untuk 
tindakan berikutnya mencabut semua undang-undang lain yang mengekang bahkan 
menginjak-nginjak hak-hak dasar warganegara dan anak manusia.***


2. Populisme:


Soal ini merupakan soal kedua yang diajukan oleh BDG Kusumo. Untuk ini aku 
mendasarkan diri pada komentar esais Perancis Alain Ray dalam kolom "La Vie des 
Mots" dalam Majalah Magazine Littéraire [Paris, No. 460, Janvier 2007, p.98], 
berjudul : "Un Mot Qui Insulte le Peuple" [ Sebuah Kata Yang Menghina Rakyat].


Paris, Januari 2007.
---------------------------
JJ. Kusni


[Bersambung...]


LAMPIRAN


----- Original Message ----- 

From: BDG KUSUMO 
To: [EMAIL PROTECTED] ; [EMAIL PROTECTED] ; wahana news ; kotajakarta 
Sent: Tuesday, January 23, 2007 10:54 AM
Subject: Re: [nasional-list] jurnal shangrila: berdebat bermodalkan 
ketidaktahuan



Bung Kusni yb.,

Alangkah merdunya kata franglais "le fair-play"!

Saya sangat setuju dengan Bung punya uraian dibawah ini, yang harus dipakai 
tidak saja diranah seni budaya. Saya yakin banyak yang mendambakan adanya debat 
yang beradab, hakiki dan tinggi, dikalangan bangsa kita.Sementara kenyataannya 
berdebat biasa saja, tentu yang dibumbui dengan kritik, langsung ada yang sewot.

Mohon sedikit penjelasan apakah di Prancis populisme juga diartikan sebagai 
isme yang membohongi rakyat dengan segala macam cara dan janji. Pengertian ini 
juga dipakai di Praha, Rep Ceko. Sedangkan di Indonesia, seseorang atau sesuatu 
yang populis adalah yang pro dan mengabdi pada rakyat.

Salam, 

Bismo DG

  ----- Original Message ----- 
  From: sangumang kusni 
  To: [EMAIL PROTECTED] ; wahana news ; kotajakarta ; [EMAIL PROTECTED] 
  Sent: Tuesday, January 23, 2007 6:36 AM
  Subject: [nasional-list] jurnal shangrila: berdebat bermodalkan ketidaktahuan



  Jurnal Shangrila:


  BERDEBAT BERMODALKAN KETIDAKTAHUAN

  [cut..]
an 
.
 


 

Kirim email ke