Rekan-rekan Media dan Jurnalis,

Sejak reformasi dikumandangkan 8 tahun yang lalu, seharusnya waktu yang 
tersedia sudah cukup bagi bangsa ini, melalui wakil-wakil rakyat di 
partai-partai politik untuk membidani lahirnya tokoh-tokoh atau kader-kader 
yang memainkan peran yang signifikan di pentas nasional maupun internasional 
yang memiliki kemampuan dan kompetensi lebih dari sekedar tokoh yang 
kharismatik atau populer saja. Kenyataannya, rakyat tidak mempercayai lagi 
pemerintah dan perangkat nasionalnya. Cara-cara yang digunakan dan 
program-program yang dijalankan jauh dari yang mereka janjikan, dan itu 
seakan-akan menjadi menu wajib yang tidak bisa dipilih menurut keinginan 
rakyat. Potret bangsa menjadi coreng-moreng, baik dimata kita sendiri maupun 
dikancah internasional, karena permasalahan multidimensi yang kian tiada 
berujung dan malah semakin carut-marut. 

Mengamati kondisi negara kita sekaligus kualitas manusianya tersebut, saya 
tertarik untuk menilik pelajaran Revolusi Hati Nurani (RHN) di Sirnagalih 
www.sirnagalih.org yang disampaikan oleh Guru Haris Suhyar (GHS). Karena 
dikatakan bahwa manusia sesungguhnya adalah miniatur alam semesta. Manusia 
adalah mikrokosmos, sedangkan alam semesta (universe) adalah makrokosmos. 

Unsur yang terdapat di alam ini ada 4, yaitu air, api, udara dan tanah, juga 
terdapat dalam tubuh manusia. Kandungan air dalam tubuh manusia adalah 75%, 
sekitar 70-80 cc/kg BB (unsur air), kita bernafas (unsur udara), panas 
tubuh/suhu (unsur api/panas), dan tubuh fisik yang akan terurai saat kita 
meninggal dan dikubur (unsur tanah). Unsur alam tersebut juga terdapat dalam 
indera manusia, yaitu telinga (unsur panas), mata (unsur air), hidung (unsur 
udara) dan lidah, gigi, mulut (unsur tanah).

Sehingga dengan demikian, manusia dan alam sesungguhnya memang tidak 
terpisahkan. Apa yang terjadi dengan manusia sebenarnya akan mempengaruhi alam, 
demikian pula sebaliknya. Jadi, satu sama lain saling berinteraksi untuk 
menyeimbangkan agar menjadi selaras dan harmonis. 

Gejolak hati rakyat (manusia) telah mempengaruhi bumi Indonesia  (alam) 
sehingga semakin hari semakin memanas dan kian menggeliatkan kegelisahan. 
Tsunami di Aceh, gempa di Yogya dan Poso, banjir yang mulai melanda Jakarta dan 
Depok, lumpur Lapindo yang tak terkendali, dan masih banyak lagi. Apakah Tuhan 
sedang menghukum kita? Tidak, bukan Tuhan yang menghukum kita. Sadarkah bahwa 
kita sendirilah yang menyebabkan semua itu?! Secara universal, hukum alam 
adalah sebab-akibat. Kita telah terlalu banyak terlena hingga kita tidak sadar. 
Maka, alampun akhirnya turut berpolitik, manakala keseimbangan ekosistem 
(termasuk manusia sebagai bagiannya) mulai terganggu karena ulah kita. 

Kejadian demi kejadian tak kunjung usai, seiring kondisi politik bangsa ini. 
Kritikan demi kritikan dituai oleh Presiden SBY yang dianggap tidak kompeten 
dalam menyelesaikan daftar PR yang terlalu panjang. Rakyat mulai berpaling dari 
partai-partai yang dianggap tidak lagi memiliki kapabilitas yang memadai untuk 
mengakomodasikan aspirasi mereka. Rakyat juga mulai menjerit ketika pemerintah 
tidak cepat tanggap menangani semua musibah yang dialami oleh mereka.

Adakah sosok yang sanggup mengatasi semua permasalahan dan penyakit bangsa ini? 
Adakah sosok yang sanggup membimbing manusia kembali kepada kemuliaan jiwanya? 
Yang mampu mengembalikan keluhuran budi pekerti dan kecintaan terhadap bangsa 
dan negeri ini? Juga mengembalikan jati diri bangsa ini dan mengangkat martabat 
negara kita? Figur pemimpin yang bagaimana yang mampu mengadapi pergolakan 
batin sang makrokosmos dan mikrokosmos dibumi pertiwi kita? Adakah figur itu? 
Atau kita masih harus berangan-angan panjang? Secara singkat namun padat, Guru 
Haris Suhyar menguraikannya di website Sirnagalih 
http://new.sirnagalih.org/index.php?option=com_content&task=view&id=209&Itemid=176

Kiranya diperlukan suatu gerakan yang bertujuan untuk menghadapi seluruh 
kesulitan itu dan mencapai kehidupan yang lebih baik. Antaranya, Sirnagalih 
telah mencanangkan Revolusi Hati Nurani [Conscience Revolution] yang telah 
mendapatkan dukungan dari Departemen Sosial RI, sebagaimana diberitakan oleh 
kantor berita nasional ANTARA, klik http://www.antara.co.id/seenws/?id=50406 . 

Siapkah kita merevolusi hati nurani? 

Thank you and best regards,
Anna Saraswati
Deputy Manager
Raffles International Patients Relations and 
Corporate Communications Affairs



[e] [EMAIL PROTECTED]
[w] http://www.rafflesmedical.com


  ----- Original Message ----- 
  From: agussyafii 
  To: [email protected] 
  Sent: Thursday, January 25, 2007 10:27 AM
  Subject: [mediacare] Membincangkan Pepesan Kosong


  Membincangkan Pepesan Kosong

  Perbincangan politik selalu saja menjadi topik yang menarik untuk 
  dibincangkan, bukan hanya dimeja kantor bahkan di masjidpun orang asyik 
  untuk didiskusikan. Salah seorang mengatakan, "Kekuasaan jangan 
  dibiarkan jatuh ketangan orang yang zalim." Yang lainnya 
  menjawab, "Sebelum berkuasa orang selalu bilang akan membela rakyat, eh 
  begitu berkuasa sama aja menindas rakyat juga."

  Tak jauh dari saya duduk sehabis sholat ada pak haji mengatakan dengan 
  suara lirih, "Mereka itu membincangkan pepesan kosong, dalam keheningan 
  sebenarnya mereka bisa menemukan yang sejati."

  Wassalam,
  agussyafii
  http://agussyafii.blogspot.com



   

Kirim email ke