analisa anda soal media olahraga cukup dahsyat. kalo baca, sepertinya anda ngerti sekali soal dapurnya tabloid BOLA.
kalo tayangan langsung dibilang mendesak media olahraga, saya kok nggak terlalu setuju ya. sebagai penikmat pertandingan olahraga, saya banyak mendapatkan hal2 lain di media cetak (mau koran, tabloid, majalah, you name it lah....). tayangan langsung memang dahsyat, tapi saya nggak bisa mendapatkan indepth story dari tayangan langsung. kalo mau cari indepth story, ya baca lah. saya cukup yakin ini juga yg dirasakan sama sebagian besar penikmat olahraga. kalo mau tau berapa gajinya david beckham, saya nggak bakal dapet itu di tayangan langsung pertandingan sepakbola. begitu juga berita soal berantemnya jose mourinho sama pemilik chelsea roman abramovich. saya sih nggak tau soal utang 500jt pada getty images. yg saya tau, bola mengeluarkan bolavaganza sbg by product, alias produk turunan yg masih berada di bawah satu manajemen pt. tunas bola. dgn cara inilah mereka mengakali copyrights. dan ini sudah berjalan cukup lama, sejak bolavaganza terbit tahun 2001. saya cukup tergelitik dgn pernyataan anda soal pendapatan media olahraga dari iklan dan gambling. maksudnya gambling itu apa ya? apakah si pengelola berjudi untuk mendapatkan tambahan dana segar? atau maksudnya gambling di sini adalah spekulasi? kalo ada pengelola media olahraga yg suka judi pake duit kantor, ya jgn melakukan generalisasi dong.... mungkin emang ada pengelola media olahraga yg suka main judi sampe duitnya ludes dan gaji karyawan nggak terbayar. --- In [email protected], hamu sukatan <[EMAIL PROTECTED]> wrote: > > Denger-denger media olahraga ternama GO Saat ini tengah kembang kempis karena kehabisan dana. media yang pernah berjaya hingga tiras 200 ribu ini kini dicetak hanya 5-10 ribu eks. Ini pun sekadar untuk menyatakan kehadiran pada calon-calon investor yang masih dicari. > > GO yang pernah sangat berjaya pada awal-awal kelahirannya disebut-sebut kolaps karena mismanagement. Pada masa lalu, media ini melakukan jor-joran luarbiasa untuk memperlihatkan kelebihan mereka sebagai media olahraga alternatif dari BOLA yang pada 1990-an merupakan penguasa tunggal pasar media olahraga. > > Bersamaan berlalunya waktu, tiras GO semakin menurun. saat ini bahkan untuk mebayar percetakan, pihak GO harus melego mobil operasional. Sementara karyawan sebagian hengkang. > > Tidak ayal, tayangan televisi terutama siaran langsung sepakbola mau pun balap seperti F1 dan MotoGP menjadi penyebab utama terdesaknya media khusus olahraga. > > Bahkan BOLA sebagai raja media cetak khusus olahraga pun bukan tidak terkena imbasnya. Saat ini praktis BOLA tinggal berusaha survive mempertahankan tiras dan masuknya iklan. > > Sementara media-media yang lahir dari induk BOLA ini sebagian besar kemudian mati, termasuk BOLA Sports. Media khusus sepakbola pun seperti BOLAVaganza tampaknya tidak mampu bertahan lama. Hanya keajaiaban saja yang membuat pihak BOLA mau pun KKG masih mempertahankan media sekarat ini. > > BOLAVaganza belakangan semakin sulit bersaing dengan Extra Vaganza di televisi. Walau pun mereka sudah berusaha mengadopsi ide-ide entertainment seperti wanita-wanita cantik berpakaian minim. Toh resep yang paling primitif untuk mendongkrak tiras ini pun tisak efektif. Tingkat retur BOLAVaganza kabarnya mencapai 60-70 persen dengan pendapatan iklan yang sangat minim. > > Mismanajemen yang terjadi di BOLAVaganza antara lain saat menggunakan "tanpa ijin" foto-foto dari Getty Images karena ketidaktahuan pengelola soal copy right. Akibatnya pengelola kemudian berutang 500 juta. > > Para pengelola media tidak berusaha untuk kreatif menemukan hal-hal baru, namun melulu memperkaya diri dengan menjadi komentator sepakbola di televisi atau media lannya. > > Fenomena GO dan BOLAVaganza adalah cermin dari kesalahan penanganan yang kronis dan berlangsung lama. ketika disadari oleh investor, keadaan sudah semakin parah dan tidak terselamatkan. GO mungkin sudah mustahil, tetapi BOLA tentunya tidak ingin dipermalukan dengan kasus BOLAVaganza. > > Fira
