Senin, 29 Januari 2007 Kawasan Rumpin Rusak
Lubang Galian Pasir di Mana-mana
Bogor, Kompas - Pertambangan galian C di Kecamatan Rumpin, Kabupaten Bogor,
hingga Kecamatan Legok, Tangerang, Banten, berbuah kerusakan lingkungan parah.
Kawasan perbukitan serta ribuan hektar lahan terkepras dan terbengkalai.
Hingga Minggu (28/1) kemarin, air di kawasan Rumpin makin sulit didapat.
Akibatnya, pengembangan kawasan pun nyaris mustahil dilakukan. "Penambangan
pasir dan batu di Legok dan daerah sekitarnya sudah puluhan tahun dilakukan.
Semua materialnya untuk memasok kebutuhan pembangunan di Jakarta," kata
Sekretaris Camat Legok Ahmad Tabii, Kamis. Penambangan pasir dan batu ini
menjadi tulang punggung perekonomian Legok dan di wilayah Rumpin, Gunung
Sindur, serta Parung Panjang. Belasan hingga puluhan perusahaan besar dan kecil
berdiri di kawasan ini dan menyerap ribuan tenaga kerja. Setiap hari tampak
ratusan truk bermuatan 8 hingga 40 ton sirtu (pasir dan batu) berlalu lalang.
"Namun, penambangan terbukti merusak lingkungan, salah
satunya air tanah terasa makin berkurang dan kami mulai sulit mendapatkannya.
Oleh karena itu, khusus untuk Legok, sekarang penambangan sirtu dihentikan dan
dilarang," kata Ahmad Tabii. Edi Wibowo dari Komisi B DPRD Kabupaten Bogor
mengatakan, kontribusi dari pertambangan golongan C (pasir, batu, dan tanah) di
Kabupaten Bogor sangat tidak imbang dengan kerugian lingkungan dan sosial yang
ditimbulkan akibat pertambangan tersebut. "Per tahunnya pendapatan asli
daerah dari sektor pertambangan golongan C sekitar Rp 25 miliar per tahun, Rp
21 miliar di antaranya berasal Semen Cibinong dan Holchim. Sisanya berasal dari
100 perusahaan yang lebih kecil," kata Edi. Menurut Edi, kecilnya PAD dari
pertambangan galian C juga akibat kebocoran dan lemahnya sistem pengawasan
pihak dinas pertambangan dan dinas pendapatan daerah. Diperkirakan, PAD yang
masuk hanya 30-40 persen saja, sisanya diduga menjadi ajang korupsi.
Kepala Sub-unit Tata Ruang dan Lingkungan Hidup
Badan Perencanaan Pembangunan Daerah Kabupaten Bogor Didi Supriadi mengatakan,
banyaknya pertambangan, baik yang resmi maupun liar, terbukti menghambat
rencana pengembangan kawasan menjadi daerah perumahan. "Wilayah pertambangan
akan selalu sepi dari permukiman dan pertumbuhan kotanya menjadi lamban. Siapa
yang mau sepanjang hari bersaing dengan kebisingan, debu, dan
kendaraan-kendaraan berat pertambangan," kata Didi Supriadi.
Kandasnya rencana pengembangan kawasan perumahan juga disebabkan tidak
terealisasinya reklamasi lahan eks galian yang seharusnya menjadi kewajiban
setiap perusahaan. (rts/nel)
---------------------------------
Don't be flakey. Get Yahoo! Mail for Mobile and
always stay connected to friends.