Wanita Di milis ini ada banyak wanita. Condy adalah orang kedua di USA. Hillary Clinton sedang berjuang untuk menjadi presiden USA.Maggy Tatcher pernah jadi PM Inggris. Elisabeth masih memegang takhta keratuannya. Angela Maerkel menempati posisi tertinggi di Jerman, sebagai counselor. Mother Theresia pernah mendapat Nobel Prise. Lopez digandrungi karena sexappealnya. Lady Di dikagumi karena cahritynya dan masih banyak bahkan ratusan juta nama wanita yg tak tercantumkan di sini.
Wanita Di tengah kesibukan saya di depan computer ini, bagaikan seorang ahli teraphy anjing saya Grayi mengajak saya keluar untuk menghirup udara segar dan menikmati matahari di awal musim semi. Kami berdua meninggalkan ruang kerja. Kami melewati wanita yg sedang melap porselin di pajangan ruang tamu di lantai bawah agar kelihatan lebih rapi dan cantik. Ketika kami keluar ke halaman dari pintu belakang, saya melihat seorang wanita, tetangga yg sedang bermain Bulu Tangkis bersama putranya. Si ibu ini biasanya hanya muncul di rumah ini kalau Week End sebab sepanjang masa sekolah, beliau ini mendampingi putra semata wayangnya di rumah mereka yg lain dekat sekolahan si anak di down town. Kini si Ibu dan si anak sedang bermain Bulu Tangkis sebab sekarang adalah masa libur menjelang tahun baru di China. Lebih jauh kami melangkah, beberapa wanita berseragam sedang menyapu di taman demi keindahan dan kebersihan bagi penghuni Compound. Kamipun meneruskan perjalanan kami. Sambil meloncat-loncat kegirangan, si Grayi menuntun saya mengitari taman. Sekali-sekali kami dilewati mobil dengan pengendara wanita menuju gate. Di luar gate ada seorang wanita yg selalu nangkring di sana. Di sana dia menumpuk apa saja yg didapatnya. Dia memisahkan karton dari plastik dan menempatkan botol-botol pada tumpukan lain. Tumpukan itu mengingatkan saya pada benda-benda yg sudah menghiasi garasi kami. Ketika saya mendekat, kali ini wanita itu sedang terbaring. Di atas beberapa lembar karton. Ia membaringkan tubuhnya, tertelentang, menayambut hangatnya belaian matahari. Ia tertidur lelap oleh seribu mimpi. Wajahnya nampak tenang memancarkan damai. Saya terpaksa mengundurkan niat untuk memintanya, mendayung gerobaknya yang biasanya digunakannya mengangkut "sampah" beliannya dari penghuni compound di balik tembok di belangkangnya. Wanita. Masing-masing diciptakan oleh tangan yang sama. Masing-masing dicintai oleh Penciptanya. Setiap wanita itu unik. Setiap wanita itu berarti. Tetapi setiap wanita itu berbeda. Saya tdk lebih berharga dari si Ibu yg sedang terbaring di trotoar di balik tembok dan juga tidak lebih hebat dari si wanita yg melap poselin diruang tamu. Saya hanya punya kesempatan yg berbeda. Siapakah yang membedakannya dan untuk apakah semua perbedaan itu? Saya sedikit enggan meluncurkan sepatu roda di trotoar yg menjadi tempat pembaringan si Ibu itu. Mungkinkah gesekan roda itu akan memperindah mimpi si ibu yg sedang menyaksikan konsert gesekan-gesekan senar Violin atau sebaliknya membawa si ibu pada mimpi buruk yg dihiasi oleh gemuruh pesawat tempur yg mengancam ketengannya. Saya memutuskan untuk meninggalkan tempat itu. Kini Grayi (anjing kecilku) ada dalam gendonganku. Sepatu rodaku meluncur memasuki compound dibalik gate. Kami berpapasan dengan wanita muda yang mendorong bayinya di kreta. Wanita bahahagia, yang melahirkan dan menyusui buah cinta antara dia dan suaminya. Saya tersenyum mengenang kebahagiaan wanita itu. Lamunanku tersentak oleh seorang wanita pengantar surat yang berpapasan dengan kami sambil melempar sebyum berkata: "Ada paket buat anda!" Saya menluncur mendekati sepeda wanita tersebut. Setelah mengucapkan trimakasih saya membaca nama pengirim. Nama yang telah kuduga, nama ibu mertuaku, yang hampir setiap minggu kalau bukan setiap hari mengirimkan apa saja. Kadang itu hanya secarik berita dari majalah, kadang foto-foto hasil jepretannya, kadang makanan kesukaan anaknya. Wanita roslina
