Seni Tradisional, Riwayatmu Kini

Sungguh tragis. Itulah kalimat yang terlontar manakala kita menengok
nasib kesenian tradisional kita. Sebut saja kesenian tradisional Ludruk
dari Jawa Timur atau Ketoprak dari Jawa Tengah. Nasib mereka sama saja:
mati segan, hidup ngos-ngosan.

Bagaimana dengan nasib seniman dan seniwatinya? Lebih parah lagi. Bahkan
dalam pertunjukkan keliling, ada seniman yang terpaksa rela dibayar
Rp2.000 per hari. Kalau naib lagi bagus, penonton lebih dari 50 orang,
mereka bisa dapat Rp20.000. Sayangnya, kondisi seperti itu tidak setiap
hari mereka alami.

"Sekarang hiburan sudah banyak. Mau nonton film tinggal beli VCD
nonton di rumah. Televisi juga acaranya banyak. Orang jadi malas untuk
datang ke gedung pertunjukkan," ujar Timbul Suhardi, salah seorang
seniman panggung yang mencoba bertahan.

Timbul boleh dikatakan satu dari sedikit seniman yang mampu menghadapi
perubahan dengan meracik tontonan yang masih bisa membetot perhatian
penonton. Melalui Ketoprak Humor, yang ditayangkan di RCTI waktu itu,
dia dan teman-teman eks srimulat dan ludruk bisa kembali terangkat ke
permukaan.

Tapi, nasib yang memilukan lebih banyak menimpa rekan-rekan sesama
seniman panggung. Sebut saja Sri Hermina. Bintang panggung pada 1960-an
ini sekarang hidup dalam kondisi yang mengenaskan. Di rumahnya yang
berupa ruangan sepetak dia harus bertahan untuk tetap bisa hidup.

Karena itu, wanita yang sudah sepuh tapi masih tampak sehat ini sangat
gembira ketika sejumlah tokoh belakangan ini terlibat dalam pementasan
kesenian tradisional.

"Ini warisan yang harus dijaga," ujar Basofi Sudirman, mantan
gubernur Jawa Timur yang tampil dalam pementasan Ketoprak berjudul
Berdirinya Majapahit di Taman Ismail Marzuki 1 Februari 2007. Kesadaran
yang sama dirasakan mantan Menteri Pariwisata Marzuki Usman, yang tampil
sebagai Raja Kertanegara di lakon itu.

Cerita tentang nasib kesenian tradisional yang terancam punah dan
keterlibatan para tokoh – antara lain Mantan Menteri Perhubungan
Agung Gumelar, Pimpinan RRI Parni Hadi, dan sejumlah tokoh perbankan dan
Migas -- inilah yang diangkat Kick Andy kal ini.

Bahkan lebih jauh, Andy F. Noya, ikut dalam pementasan sebagai Patih
Segarawinotan, salah satu patih dari Jayakatwang, yang membunuh
Kertanegara.

berharap kesenian tradisional bisa hidup lagi dengan kehadiran sejumlah
tokoh yang dilibatkan dalam pementasan

Tayang setiap Kamis pukul 22.30 WIB dan Minggu pukul 15.05 WIB





Kirim email ke