Sudah Sampai Taraf Liar

Kebiasaan atau "kultur" penjiplakan ini ditengarai terjadi jauh lebih
parah dalam dunia film televisi atau sinetron. Pemerhati dunia siaran
televisi Arswendo Atmowiloto mengatakan, jiplak-menjiplak dalam
produksi sinetron bahkan sudah sampai pada taraf liar.

Berdasarkan pengamatannya, saat ini paling tidak ada 20 judul sinetron
berindikasi melakukan penjiplakan berat terhadap serial televisi luar
negeri. Bahkan ada dua judul sinetron yang ditayangkan dua stasiun TV
berbeda yang sama-sama menjiplak satu judul film asing yang sama.
Sebagian besar sinetron yang ditayangkan pada prime time itu menjiplak
serial TV asal Korea.

Menurut Arswendo, disebut penjiplakan berat karena kemiripan dengan
film aslinya mencapai lebih dari 90 persen. "Sama sekali tidak ada
interpretasi ulang atau penyesuaian dengan kehidupan kita. Bahkan
apabila di skenario aslinya disebut ada cangkir berwarna kuning, maka
di sini pun cangkirnya kuning. Paling-paling yang diubah cuma
nama-namanya," paparnya.

Saking liarnya, penjiplakan itu sampai-sampai latar belakang cerita
yang berasal dari budaya masyarakat negeri asal film itu pun tidak
diubah. Sehingga hasilnya, menurut Arswendo, menjadi konyol, karena
problematika yang disajikan sinetron itu kemudian menjadi asing dengan
latar belakang kultur orang Indonesia.

"Problematika masyarakat di sana dan di sini kan akarnya beda. Masak
ada sinetron yang menceritakan seorang nenek tega membuang cucunya
hanya karena berjenis kelamin perempuan. Masalah-masalah seperti itu
kan tidak umum terjadi di sini," ungkap pengamat TV yang juga penulis
novel dan skenario ini.

Arswendo menyebut maraknya penjiplakan itu merupakan indikasi dunia
pertelevisian kita sedang berada dalam periode rakus atau greedy
period. Dia menyamakan periode ini dengan yang dialami dunia TV di
Amerika Serikat pada tahun 1967-1974. "Para pengusaha TV di Indonesia
saat ini adalah para pedagang. Dagangannya pun dagangan jangka pendek.
Sharing, rating, dan iklan menjadi dewa," kata Arswendo.

Sekali lagi masalahnya bukan pada lemahnya kreativitas atau rendahnya
mutu para penulis cerita dan skenario asli Indonesia. Arswendo
mengatakan, beberapa film televisi pemenang Piala Vidia adalah
film-film dengan skenario asli yang bagus dan layak ditonton. "Tetapi
film-film itu baru diputar setelah mendapat penghargaan atau masuk
nominasi. Itu pun diputar pada pukul 10 malam, di luar prime time,"
ungkapnya.

Untuk melawan itu semua, Arswendo berpendapat, kuncinya ada para
pemberdayaan kelompok-kelompok dalam masyarakat yang bisa menjadi
kelompok penekan atau pressure groups terhadap stasiun-stasiun TV.
"KPI (Komisi Penyiaran Indonesia) sendirian tidak mungkin menghadapi
para pemilik modal ini. Kelompok-kelompok dalam masyarakat harus
dihidupkan untuk menyadarkan mereka," tandasnya. (DHF)

dari: http://www.kompas.com/kompas-cetak/0701/14/kehidupan/3238664.htm

-- 
Ezda
=> S2D4 the World

Kirim email ke