Kalau memang demikian pemahaman Ustadz Ja'far, syukur alhamdulilah.. satu tokoh mulai terbuka pandangannya untuk bersikap pluralis (tidak gampang mengkafirkan orang lain yang berbeda pendapat, barangkali nanti berkembang kepada yang berbeda agama juga mestinya). Semoga semakin lama semakin banyak yang terbuka mata hatinya agar supaya iklim sosial semakin sejuk dan berlomba saling berbuat baik.
Wassalam. On 1/30/07, Batul <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
2 kubu garis keras yang selama ini ini bersama sama memerangi kafirun mulai saling curiga mencurigai. Akhirnya garis keras harus berhadapan dengan Densus 88. ---------------------------------------------------------- Karena Terlalu Mudah Mengafirkan Mantan Panglima Laskar Jihad Ahlusunah Waljamaah Ja'far Umar Thalib mengatakan, masalah Poso yang berkepanjangan disebabkan adanya pemahaman yang kurang tepat di kalangan sebagian muslim di sana. Salah satunya, jelas Ja'far, adalah pemahaman taksiri, yakni mudah memvonis kafir terhadap orang lain yang berbeda pendapat. "Karena gampang memvonis kafir, mereka mudah mengatakan halal darahnya. Akhirnya, orang yang berbeda pendapat itu dianggap musuh. Itu sebagian pemahaman yang dikembangkan beberapa kelompok Islam," kata Ja'far didampingi pengacara M. Syaaf usai memberikan ceramah agama di Sepanjang, Sidoarjo, tadi malam. Pria yang selalu mengenakan gamis itu mengaku tidak sependapat dengan pemahaman tersebut. Karena itu, dia mendukung langkah Wapres Jusuf Kalla yang menggandeng tokoh-tokoh Islam untuk memberikan dakwah di Poso guna menetralisasi pemahaman ekstrem tersebut. "Bentrok antara aparat dan muslim Poso baru-baru ini juga ekses dari pemahaman ekstrem tersebut. Maka, kami menentang pemahaman itu, yang salah satunya dikembangkan Abu Bakar Ba'asyir," jelasnya. Menurut Ja'far, karena tidak sependapat dengan pemahaman itu, dia menduga yang melatarbelakangi adalah pernyataan Ketua Tanfidziah Majelis Mujahidin Indonesia (MMI) Irfan S. Awwas bahwa rencana pengiriman tokoh Islam seperti dirinya ke Poso justru kontraproduktif. Alasan itu dikemukakan Irfan karena Ja'far sudah ditolak masyarakat Poso dan Tentena setelah sebuah kasus pada 2001. "Saya tidak tahu persis, masalah apa yang dimaksud. Yang jelas, pada 2001 itu kami berhasil memukul mundur warga nashara (kristiani, Red) saat pecah kerusuhan. Kami datang ke sana (Poso) karena dimintai bantuan saudara-saudara kami (muslim)," katanya. "Apa itu masalahnya? Atau, karena saya tidak sepakat dengan pemahaman mereka sehingga seolah-olah saya ditolak warga Poso. Lebih jelasnya, silakan tanya yang bersangkutan saja," tambah Ja'far. (sup) http://www.jawapos.com/index.php?act=detail&id=8100
