http://www.gatra.com/artikel.php?id=101799


DPO Poso
Penangkapan Basri dan Ardin Murni Operasi Polisi


Palu, 1 Pebruari 2007 18:30
Wakadiv Humas Mabes Polri, Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, menyatakan 
penangkapan Basri alias Bagong dan Ardin Djanatu alias Rojak di Kelurahan 
Kayamanya kota Poso, Kamis pagi (1/2), murni hasil operasi polisi.

"Jadi penangkapan Basri dan Ardin murni kerja keras anggota (polisi) yang 
sedang melakukan operasi penyisiran, bukan informasi masyarakat," katanya di 
Palu, Kamis (1/2).

Menurut Anton, tim gabungan Detasemen Khusus 88/Antiteror dan Brimob yang 
melakukan penyisiran di Kelurahan Kayamanya melihat Basri, Ardin dan seorang 
warga bernama Harianto sedang duduk mengobrol di depan sekolah TK Inpres, 
tepatnya di lorong mesjid Kayamanya.

Mereka lari berpencar saat melihat kedatangan anggota polisi sehingga 
pengejaran pun dilakukan. Ardin memberikan perlawanan dan terlibat kontak 
tembak dengan polisi, Ardin yang terlibat lima kasus kekerasan di Poso dan Palu 
akhirnya tertembak di kaki, kedua tangan dan perut.

Polisi menyita satu pucuk senjata api organik jenis revolverdan 20 butir 
amunisi dari tangan Ardin.

Sementara Basri dan Harianto yang bersembunyi di salah satu rumah warga dibekuk 
tanpa perlawanan. "Polisi hampir kecolongan, sebab keduanya pura-pura tidur 
saat polisi menyergap mereka. Sekalipun tidak masuk dalam daftar pencarian 
orang (DPO), Harianto ikut diamankan di Mapolres Poso," ujar bachrul Alam.

Dalam penyisiran yang berlangsung sekitar dua jam di Kayamanya itu, polisi juga 
mengamankan dua senpi laras panjang rakitan, dua busur panah dan belasan anak 
panah, serta beberapa dokumen di antaranya buku mengenai peristiwa World Trade 
Center 11 September 2001.

Anton juga mengatakan Yudit Parsan yang masuk dalam DPO polisi menyerahkan diri 
di Mapolres Poso, Kamis siang (1/2), setelah sehari sebelumnya dilakukan 
pendekatan dengan anggota keluarganya.

"Ketiga tersangka saat ini telah dibawa ke Mapolda Sulteng untuk menjalani 
pemeriksaan lanjutan," ujarnya.

Menurut dia, Basri merupakan pimpinan kelompok bersenjata di Poso yang berbasis 
di Kelurahan Gebang Rejo, kota Poso. Basri yang terlibat 15 kasus kekerasan 
memimpin kelompok bersenjata melakukan perlawanan terhadap polisi sehingga 
terjadi kontak senjata dalam operasi 22 Januari lalu.

"Dalam kontak senjata itu, Basri yang berhasil meloloskan diri tertembak 
dibagian perut," ujarnya. [EL, Ant] 

Kirim email ke