Selamat belajar di Manila, mas Satrio, kirim-kirim berita dan foto-foto dari 
sana ya. Semoga rubrik Fenomena Trans TV makin diminati orang.

Di Belanda sedang ada demam Sixties, cerita-cerita tentang Marilyn Monroe marak 
lagi dimedia massa. Lucunya, rekan kita IKA di USA juga ketularan Sixties, ha 
ha. Apa Trans TV ngga mau meramaikan trend ini dengan menyajikan juga thema 
Sixties? Pak Hoesein sudah kasih ide "Soekarno is my hero" sebagai salah satu 
topik Sixties itu.

Salam hangat, Danny Lim, Nederland
  ----- Original Message ----- 
  From: Satrio Arismunandar 
  To: [email protected] ; news Trans TV ; Begundal Salemba ; Forum 
Kompas ; PJTV PJTV ; Cikeas Cikeas ; Kincir Angin ; pantau ; jurnalisme ; 
warta-lingk ; AJI INDONESIA ; technomedia 
  Sent: Saturday, February 03, 2007 10:40 PM
  Subject: [KincirAngin] Trans TV Kirim 11 Karyawan ke Program EMBA - AIM 
Filipina


  TRANS TV KIRIM 11 KARYAWANNYA KE PROGRAM EMBA DI AIM, FILIPINA

   

  Jika tidak ada aral melintang, Insya Allah, pada hari Minggu pagi (4 Februari 
2007), 11 karyawan Trans TV akan berangkat ke Manila, Filipina, untuk 
menyelesaikan "kuliah terakhir" program EMBA (Executive MBA), yang telah mereka 
ikuti sejak September 2005. Mereka akan berada di Manila sampai Sabtu (24 
Februari 2007).

   

  Program EMBA ini adalah kerjasama antara Grup Para (yang membawahi Trans TV, 
Bank Mega, dan Bandung Supermal) dengan lembaga pendidikan AIM (Asian Institute 
of Management) yang berpusat di Manila, Filipina. 

   

  AIM adalah lembaga pendidikan manajemen bisnis yang cukup terkemuka di Asia, 
dengan ciri khusus pada "manajemen bisnis dengan nilai-nilai Asia". Ciri inilah 
yang membedakan AIM dengan lembaga pendidikan manajemen umumnya. Selain di 
Indonesia dengan Grup Para, AIM telah melakukan kerjasama serupa dengan grup 
perusahaan lain di India dan Malaysia.

   

  Program EMBA ini, kurikulumnya pada pokoknya sama dengan program MBA regular, 
namun kuliahnya sangat dipadatkan. Maklum, pesertanya adalah karyawan yang 
sudah sangat sibuk dengan beban pekerjaan kantor. Jadi, kuliahnya hanya 
seminggu dalam setiap bulan. Dosennya adalah "dosen terbang" yang setiap bulan 
datang langsung ke Jakarta dari Filipina. Untuk program EMBA bagi Grup Para, 
kuliahnya adalah di lantai 12 Gedung Bank Mega, Jl. Kapten P. Tendean, Jakarta 
Selatan.

   

  Sebelas karyawan Trans TV ini adalah bagian dari 34 karyawan Grup Para yang 
mengikuti Program EMBA, yang mencakup juga 21 karyawan Bank Mega, dan dua orang 
dari Bandung Supermal (BSM). Mereka adalah: Achmad Irwan Ferizqo (Programming), 
Mira Amiranti Soenoto (Programming), Hannibal Karunia Pertama (Finance), Latif 
Harnoko Hadiputro (Human Capital), Emil Syarif (Production), Herny Mulyani 
(Production), Rowina Hafni Noor (Production), Widuri Diah Astuti (Production), 
Muhamad Agus Riyadi (News), Shanta Curanggana (News), dan Satrio Arismunandar 
(News).

   

  Setelah selesai kuliah di Manila, mereka tidak akan serta merta mendapat 
degree MBA. Karena berdasarkan aturan dari AIM, peserta program ini harus 
mempraktekkan ilmu yang diperoleh dalam memimpin sebuah proyek yang strategis 
bagi kepentingan perusahaan. Jika proyek itu dianggap sukses oleh tim panel 3 
orang (satu dari pimpinan Para Grup plus dua dosen AIM), barulah si peserta 
berhak menyandang MBA. Ini yang membedakan program EMBA dengan program MBA 
regular, yang biasanya harus membuat tesis. Sedangkan EMBA fokusnya adalah pada 
praktik bisnis yang real, bukan sekadar pemahaman teori.

   

  Bagi Grup Para sendiri, pengikutsertaan karyawannya dalam program EMBA ini 
juga jadi semacam "uji coba," apakah para peserta program ini nantinya 
betul-betul bisa memberi kontribusi signifikan dan strategis pada grup 
perusahaan ini. Jika jawabannya "ya," bisa saja program EMBA ini dilanjutkan 
dengan angkatan kedua. 

   

  Apalagi Grup Para masih punya banyak rencana besar. Selain aktif di bisnis 
Media, Lifestyle & Entertainment (di bawah payung Trans Corpora), Grup Para 
juga punya bisnis di bidang Financial Services (di bawah Mega Global Finance) 
dan bidang Energy, Mining & Infrastructure (CT Global Resources). 

   

  Dalam bisnis Food & Beverages, belum lama, Grup Para juga sudah mengakuisisi 
Coffee Bean, yang lalu diganti namanya jadi Trans Coffee. Trans Coffee akan 
menempati space yang tadinya dipakai oleh waralaba Starbucks di lobby gedung 
Trans TV, Jl. Kapten P. Tendean, Jakarta Selatan.

   

  Kalau bicara muluk, idealnya para lulusan program EMBA ini nantinya harus 
jadi manajer yang mumpuni, yang siap dierjunkan di mana saja, di semua 
perusahaan Grup Para. Jadi, lulusan EMBA yang berasal dari Bandung Supermal, 
misalnya, tidak harus terus berkutat di Bandung Supermal. Jika tenaganya 
dibutuhkan (karena ekspansi perusahaan di bawah Grup Para), dia harus mau dan 
siap ditugaskan di perusahaan-perusahaan lain. Ke asuransi Mega Life atau Bank 
Syariah Mega, misalnya. Itu idealnya.

   

  Bagi saya pribadi, yang karena "perjalanan nasib" akhirnya menjadi salah satu 
peserta program EMBA (saya menggantikan posisi rekan Riza Primadi, yang hijrah 
ke Astro TV, sehingga batal ikut program EMBA), tak ada harapan muluk-muluk. 

   

  Syukur-syukur, setelah belajar berbagai ilmu dari sini, saya bisa memberi 
kontribusi strategis pada perusahaan. Atau, setidaknya memberi warna dan 
pengaruh yang lebih baik, pada program dan bidang yang menjadi tanggung jawab 
saya sekarang. 

   

  Selain itu, karena setiap Sabtu kebetulan saya juga mengajar sebagai dosen di 
Program Pasca Sarjana Ilmu Komunikasi Universitas Prof. Dr. Moestopo 
(Beragama), saya berharap ilmu yang saya peroleh juga bisa ditularkan ke 
mahasiswa-mahasiswa saya. Insya Allah! ***


   
  Satrio Arismunandar 
  Producer - News Division, Trans TV, Floor 3
  Jl. Kapten P. Tendean Kav. 12 - 14 A, Jakarta 12790 
  Phone: 7917-7000, 7918-4544 ext. 4026,  Fax: 79184627

  http://satrioarismunandar6.blogspot.com  

Kirim email ke