bung irwansyah - sang sekjen, sepertinya misi anda ini masih dalam tataran angan2 dan khayalan semata2 lihatlah presentasi wacana anda yang tumpang tindih dengan analisa yang ngawur tanpa dasar hingga pada kesimpulan pembangkitan kekuatan rakyat dengan membuat aliansi bersama
siapakah rakyat, siapakah pemerintah? partisipasi rakyat? konsep yang bagaimana ditawarkan agar partisipasi rakyat berjalan tanpa gangguan virus KKN? la yang jadi pejabat/wakil rakyat sekarang ya rakyat juga dulunya, jangan2 kalo aliansi yang anda gagas bisa berhasil, andapun terjangkiti virus KKN, tul nggak? kalo saya runut secara detail, kok ya cuman omong kosong saja yah bila belum ada konsep perjuangan yang jelas, sebaiknya berhenti memprovoke "rakyat" untuk panas beachboy ----- Original Message ---- From: prp pusat <[EMAIL PROTECTED]> To: milis agraria <[EMAIL PROTECTED]>; milis anti imf <[EMAIL PROTECTED]>; milis apa kabar <[EMAIL PROTECTED]>; milis FPK <[email protected]>; milis indo marxist <[email protected]>; milis koran nasional <[EMAIL PROTECTED]>; milis media indonesia <[EMAIL PROTECTED]>; milis mediacare <[email protected]>; milis rakyat pekerja <[EMAIL PROTECTED]>; milis wartawan <[EMAIL PROTECTED]> Sent: Tuesday, February 6, 2007 1:33:40 PM Subject: [mediacare] Statement ttg bencana PERNYATAAN SIKAP PERHIMPUNAN RAKYAT PEKERJA (PRP) Negeri Penuh Bencana !!! Satu demi satu bencana melanda negeri ini. Sebut saja jenis bencananya tanah longsor, gempa bumi, tsunami, banjir air, banjir lumpur, taufan, kelaparan massal, wabah penyakit, kecelakaan pesawat, kapal tenggelam, kereta api anjlok semua ada di sini. Sementara para pejabatnya lebih suka mengurusi citra-diri, bak orang mengidap nasisisme, rakyat di negeri ini terus dipaksa memikul beban yang semakin hari semakin berat. Karena rakyat tidak hanya berhadapan dengan bencana, melainkan juga dengan naiknya harga-harga dan turunnya tingkat pendapatan riil. Presiden SBY dan para kritikusnya sibuk saling berbalas mengenai kinerja aparat pemerintahan. Presiden mengklaim bahwa ia telah sibuk bekerja, sementara para kritikusnya mengklaim ia hanya sibuk berdandan. Tapi keduanya melupakan satu aspek yang sangat penting, yang tidak akan pernah terpikir oleh mereka semua: partisipasi rakyat. Rakyat di negeri ini selalu dipandang sebagai objek, sebagai angka statistik, sebagai pelaksana peraturan, sebagai konsumen. Rakyat tidak dianggap sebagai manusia yang mampu berpikir, mampu mengambil inisiatif, mampu membuat keputusan. Dengan begitu, rakyat hanya menjadi penonton terhadap perilaku aparat eksekutif dan legislatif, yang sekarang ini lebih banyak memainkan pertunjukan politik yang menggelikan. Kurangnya partisipasi rakyat dalam pengambilan keputusan inilah yang sesungguhnya membuat rakyat tidak peduli dengan keputusan apapun yang diambil oleh pemerintah malah cenderung berusaha melanggar peraturan-peraturan . Pemerintah negeri ini gagal (atau memang tidak peduli) membuat rakyat Indonesia merasa memiliki negeri ini. Bagaimana bisa merasa memiliki? Kenaikan BBM ditetapkan sewenang-wenang, semua protes dianggap angin lalu. Para pengusaha memberi upah murah dan melakukan berbagai pelanggaran UU, sementara pemerintah tutup mata. Penggusuran atas nama pembangunan (baca: demi kepentingan pengusaha-pengusaha besar) berlangsung deras tanpa mempedulikan jerit tangis ibu-ibu dan anak-anak yang kehilangan tempat tinggal dan tempat usaha. Negeri ini adalah milik para pengusaha besar, para pejabat, elit politik dan petinggi militer. Oleh karena itu rakyat kemudian membalas dengan pembangkangan spontan sengaja membuang sampah di mana-mana, sengaja melanggar peraturan lalu-lintas, mencuri naik angkutan umum, ikut korupsi dan memberi uang pelicin di mana sempat, dll. Namun justru cara yang diambil rakyat merugikan dirinya sendiri. Rakyatlah yang terkena dampak paling hebat ketika banjir datang, rakyat juga yang menderita ketika sarana transportasi mengalami kecelakaan. Oleh karena itu juga pemerintah ini tidak pernah merasa perlu menegakkan hukum yang dibuatnya sendiri. Karena dengan pembangkangan- pembangkangan spontan semacam ini rakyat bisa merasa telah melawan kesewenang-wenangan , padahal hasilnya senjata makan tuan. Dengan merasa telah melakukan perlawanan, rakyat tidak lagi merasa perlu bergabung dengan kekuatan atau organisasi yang memang bekerja melawan kesewenang-wenangan pemerintah. Pemerintah telah dengan cerdik menunggangi pembangkangan spontan ini untuk mencegah terjadinya perlawanan yang lebih teorganisir dan sistematik, sekaligus membuat dampak perlawanan ini tidak menimpa mereka melainkan rakyat itu sendiri. Oleh karena itu, pernyataan sikap kami kali ini tidaklah berisi tuntutan pada pemerintah. Apa lagi yang mau dituntut? Sebaliknya, kami justru mau berseru pada rakyat pekerja semua, di manapun berada di negeri ini, agar: Membuang kebiasaan melakukan pembangkangan pribadi, pelanggaran peraturan, dan segala macam kebiasaan yang dapat dijadikan senjata oleh pemerintah untuk menimpakan kesalahan pada rakyat; Mulai mengorganisir diri ke dalam komite-komite lingkungan-warga, mendayagunakan forum RT, RW sampai kelurahan atau desa untuk mengorganisir sarana kesehatan, pendidikan dan kesejahteraan sendiri, tanpa tergantung birokrasi pemerintah; Bekerja sama dengan serikat-serikat buruh, tani, mahasiswa, nelayan maupun kaum miskin kota untuk mendesak pemerintah mengakui inisiatif rakyat ini dengan menyalurkan Anggaran Belanja Pemerintah melalui komite yang dibentuk rakyat bukan melalui birokrasi yang korup. Jakarta , 6 Febuari 2007 Komite Pusat PRP Sekretaris Jenderal Irwansyah Looking for earth-friendly autos? Browse Top Cars by "Green Rating" at Yahoo! Autos' Green Center. ____________________________________________________________________________________ It's here! Your new message! Get new email alerts with the free Yahoo! Toolbar. http://tools.search.yahoo.com/toolbar/features/mail/
