KOMPAS, Selasa, 06 Februari 2007                     Geopolitik dan 
Hegemoni AS     Leonard Hutabarat   Dalam pidato kenegaraan (24/1), Presiden 
George W Bush menegaskan kembali upayanya mewujudkan keamanan di Irak dengan 
strategi baru.   Hal itu dimaksudkan agar Irak demokratis dan menjadi sekutu 
dalam melawan teror.   Sebagai imperium   Kebijakan geopolitik AS menjadi 
dominan sejak Roosevelt bercita-cita menjadikan AS sebagai suatu imperium. 
Sejarah mencatat bagaimana terjadinya perang Amerika-Spanyol, perang di 
Filipina atau insiden Panama yang merupakan peristiwa yang menjustifikasi 
ideologi geopolitik AS (Zimmermann, 2002).   Ideologi ini hilang pada masa 
perang dingin, digantikan persaingan ideologi yang lebih high-minded seperti 
demokrasi dan kebebasan yang menjadi dasar intervensi di banyak negara dunia 
ketiga. Orientasi geopolitik AS juga terlihat dalam Doktrin Truman, Eisenhower, 
maupun Carter. Doktrin ini menjelaskan keterlibatan AS di Afrika, Korea,
 Vietnam, dan Timur Tengah.   Apa yang kini terjadi di Irak dapat dilihat dalam 
prisma geopolitik. Bush mendasarkan kebijakannya pada geopolitik klasik, yaitu 
menjamin kepentingan AS pada area sumber daya yang paling penting. Sesuatu yang 
diyakini sebagai sumber kekuasaan dan kemakmuran. Tidak hanya kelompok 
neokonservatif AS, demokrat seperti Zbigniew Brzezinski pun berbicara dalam 
kerangka pikir ini. Mereka menyatakan AS berjuang mempertahankan power-nya 
vis-á-vis negara-negara rival lain, seperti Rusia, China, dan Uni Eropa.   
Konsep itu juga terlihat dari kebijakan Pentagon melalui Doktrin Wolfowitz 
(1994-1999). Dokumen ini menunjukkan intervensi proaktif militer AS untuk 
mencegah munculnya kompetitor AS dan menjamin AS menggunakan aset dan cara yang 
ada guna mencegah hal itu terjadi.   Dokumen National Security Strategy 
(September 2002) juga menyatakan hal yang sama. Dokumen-dokumen ini menjelaskan 
tujuan perang di Irak dan pertimbangan geopolitik AS atas kawasan
 Eurasia untuk menjamin dominasi dan kekuasaan AS di kawasan ini vis-á-vis 
potensi negara kompetitor yang lain.   Dalam pemikiran geopolitik klasik, Sir 
Halford Mackinder menyebut Eurasia sebagai bagian penting pusat dunia. Siapa 
pun yang menguasai wilayah ini akan menguasai dunia. Dalam pemikiran geopolitik 
klasik, politik internasional esensinya adalah perjuangan menguasai pusat 
dunia.   Minyak   Kini yang terjadi adalah elite AS meyakini, pusat kompetisi 
geopolitik yang baru ada di south-central Eurasia, meliputi kawasan Teluk 
Persia dan Laut Kaspia. Perang terhadap Irak dimaksudkan untuk memberikan AS 
posisi dominan di kawasan Teluk Persia dan menjadi landasan untuk menjamin 
kekuasaannya di wilayah ini dalam menghadapi China, Rusia, Uni Eropa, Suriah, 
dan Iran.   Di Teluk Persia dan Laut Kaspia terdapat hampir 70 persen cadangan 
minyak dunia. Minyak tidak hanya sumber bahan bakar, tetapi juga sumber power. 
Para pemikir strategi AS memandang, siapa pun yang menguasai
 minyak Teluk Persia akan menguasai ekonomi dunia, memiliki posisi tawar yang 
lebih atas semua negara kompetitor lainnya.   Kebijakan AS mengenai minyak bumi 
ini jelas dinyatakan Bush dalam pidatonya. Bush mendorong untuk mengubah 
standar ekonomi bahan bakar minyak dan mengambil langkah guna menggairahkan 
produksi dan konsumsi bahan bakar minyak alternatif. Ini mengingatkan tulisan 
ekonom AS, Larry Lindsey, dalam Wall Street Journal (15/9/2002), yang 
menyatakan AS menyerang Irak karena minyak.   Sepuluh tahun lagi, untuk 
pertumbuhan ekonominya, China, Uni Eropa, dan Jepang akan amat bergantung pada 
minyak kawasan Teluk Persia dan Laut Kaspia. Di kawasan Laut Kaspia, Rusia 
sedang meluaskan pengaruhnya, China melakukan hal sama, termasuk AS (Klare, 
2001).   Bagaimana implikasi strategi geopolitik AS ini? Irak adalah awal 
hegemoni AS di kawasan Eurasia. Kebijakan geopolitik AS akan memprovokasi 
resistensi dari rezim yang menentang AS.   Konflik Armenia-Azerbaijan dan
 Abkhazia-Georgia akan memengaruhi kebijakan keamanan AS. Pada saat yang sama, 
AS juga bergantung pada jalur pipa minyak trans-Caucasus yang baru. Perang di 
Chechnya dan Afganistan akan berlanjut dan konflik ini akan melibatkan 
intervensi AS. Perang Dingin yang baru, mulai terjadi di south-central Eurasia. 
  Pidato Bush (24/1) menunjukkan, pemikiran neokonservatif, ekspansi, dan 
hegemoni AS akan mewarnai berbagai kawasan di dunia.   Leonard Hutabarat 
Pemerhati Masalah Internasional; Alumnus Institut d’Etudes Politiques (IEP) de 
Paris 

 
---------------------------------
Expecting? Get great news right away with email Auto-Check.
Try the Yahoo! Mail Beta.

Kirim email ke