http://www.harianbatampos.com/index.php?option=com_content&task=view&id=12628&Itemid=83
34 Bom Rakitan Ditemukan di Poso
Selasa, 06 Pebruari 2007
POSO (BP) - Pencarian bahan peledak dan amunisi terus dilakukan polisi di
Poso. Lokasi-lokasi yang dicurigai pun disisir. Hasilnya ditemukan 34 bom
rakitan, sejumlah senjata api, dan ratusan amunisi.
"Barang-barang tersebut ditemukan di sebuah sekolah di Desa Gebang Rejo,
Poso. Semuanya sudah diamankan di Polres Poso," kata Wakadivhumas Mabes Polri
Brigjen Pol Anton Bachrul Alam, di Mabes Polri, Jalan Trunojoyo, di Jakarta,
Senin (5/2).
Disebutkan Anton, selain 34 bom rakitan, ditemukan juga 5 bom asap, 1
senjata api jenis US caraben, 5 senjata api panjang rakitan, 414 butir amunisi
kaliber 5,56 dan 93 butir amunisi kaliber 7,62.
Selain di Desa Gebang Rejo, Polisi juga menerima bungkusan berisi 1
pistol jenis FNC organik, 3 magazin, 1 sangkur, 69 butir amunisi jenis kaliber
5,56 yang diantarkan seorang wanita. "Itu semua diserahkan seorang wanita, dia
bilang menemukannya di sebuah rumah kosong di jalan Lorong Pembantu," kata
Anton.
Kapolri Buka Poso di DPR
Ideologi memang sulit dikikis. Kendati sudah tiada tapi pengaruh Dr
Azhari tak pernah surut. Polisi menyakini jika pemikiran salah seorang petinggi
Jamaah Islamiyah (JI) yang tewas di tembak polisi November 2005 itu menitis di
beberapa pentolan pelaku teror di Poso yang kemudian menyebarkan ke anak didik
mereka.
Ada dua orang yang diyakini polisi sempat mendapat pelatihan langsung
Azhari di Blitar, Jatim sebelum akhirnya mereka pindah ke Poso. "Dia adalah
Icang yang kini telah tewas dan Up yang kini buron," kata Kapolda Sulteng
Brigjen Pol Badrodin Haiti disela-sela Raker dengan Komisi III di Gedung DPR
kemarin. Aktor teror lainnya, Noordin M. Top, yang hingga kini belum
tertangkap, belum terjejak di Poso.
Kapolri Jenderal Pol Sutanto yang hadir dalam raker tersebut lantas
membeberkan beberapa pihak lain di Poso yang punya kaitan dengan JI itu.
Misalnya Hasanudin yang menjabat sebagai khoid wakalah JI di Poso. Tersangka
pelaku pemenggalan tiga kepala siswa SMU Kristen Poso yang kini diadili di PN
Jakarta Pusat itu sempat menyenyam pendidikan Akmil JI di Kamp Hudaibiyah,
Mindanao, Filipina selama 1,5 tahun.
Dia pernah menyembunyikan Jaja dan Chandra (pelaku bom Kuningan) dan
Dulmatin serta Umar Patek. (jpnn)
(pelaku Bom Bali I). Lalu Haris yang terkait dengan kelompok JI di Bom
Bali I. Juga ada Herlambang dan Abu Tholut (ketua mantiki 3 JI) alias Mustofa
yang sempat menjadi instruktur pelatihan militer dengan kode uhud di Tanah
Runtuh, Poso.
Ada juga Sahal yang memiliki hubungan erat dengan Subur Abu Mujahid dari
Semarang yang terlibat Bom Bali 2. Sahal, menurut polisi, juga mengaku jika
terpidana Bom Bali I Muklas yang saat itu menjalani pidana di LP Kerobokan,
Bali, sering memberi tausiyah melalui HP pada jemaah di Poso.
"Mereka rata-rata berasal dari Jawa Tengah. Mulai Semarang, Boyolali,
Sukoharjo. Bahayanya di Poso ada anak-anak muda yang telah teracuni paham itu
dan mereka disebut anak bebek," lanjut Haiti. Makanya dia mengusulkan ada
pendataan ulang warga Sulteng dan soal teknisnya diserahkan ke Pemprov setempat.
Beberapa DPO yang masih dicari menurut Haiti saat ini juga sudah lari ke
daerah asal mereka di Jawa Tengah itu. Namun mantan Kapolda Banten itu enggan
merinci lebih jauh lagi. Termasuk saat dipancing dengan sejumlah tempat di
kota-kota tersebut yang memang sudah lama di incar polisi. "Saya tak mau
menyebutkan lebih jauh lagi," kelitnya.
Untuk menyakinkan jika kelompok yang dihadapi polisi itu bukan pihak
sembarangan dalam raker tersebut juga digelar beberapa senjata organik,
proyektil, bahan peledak, dan bom rakitan. "Yang paling mematikan senapan serbu
MK-3 yang itu. Jika ditembak dengan senjata itu maka mobil baracuda (lapis baja
milik Brimob, red) bisa jebol," sambung Haiti.
Tak hanya itu, beberapa slide foto dan rekaman video para pelaku juga
diikutkan. Termasuk foto Basri bertelanjang dada-buron utama kasus Poso yang
baru saja dipindahkan ke Jakarta- dengan badan penuh tato. Beberapa tokoh agama
dari Poso seperti Abdul Rahman juga dihadirkan polisi untuk memperkuat
keterangan polisi.
Tapi tetap saja berbagai keterangan itu tidak sekaligus ditelan
mentah-mentah oleh anggota Komisi III. Masih ada yang mempertanyakan langkah
Polri di Poso seperti Pataniari Siahaan dari Partai Demokrasi Indonesia
Perjuangan. "Jangan-jangan Poso hanya digunakan sebagai politik anggaran?,"
tanyanya.
Kapolri menjawab tidak mungkin hal itu dilakukan Polri. Dia mengatakan
jika serangkaian operasi di Poso dilakukan tanpa ada penambahan sepeserpun dana
dari pemerintah melainkan dari bujet anggaran tahun Polri.
Mantan Kapolda Sumatera Utara ini juga menjelaskan sejumlah langkah yang
dilakukan pada satu kelompok lain di Poso. "Ada 90 orang tersangka dan 30 orang
telah dihukum termasuk Tibo Cs dalam kasus Kilo 9," jelasnya. Lalu 17 tersangka
kasus pembunuhan 2 warga muslim di desa Pongge juga ditangkap dan diterbangkan
ke Jakarta Minggu lalu.
Sedangkan untuk kasus Buyung Katedo dan 16 nama yang disebut Tibo-yang
dituntut penuntasannya oleh kalangan muslim-Kapolri menegaskan jika hingga
sekarang belum ada bukti untuk menyeret pelaku dari kejadian di atas. "Bilamana
cukup bukti pasti akan kita proses," janjinya. (naz/
printButton.png
Description: PNG image
emailButton.png
Description: PNG image
