http://www.republika.co.id/kolom_detail.asp?id=281144&kat_id=19

Jumat, 02 Februari 2007

Poso 

Oleh : Zaim Uchrowi 


"Apa yang sebenarnya terjadi di Poso? Mengapa masih terjadi kerusuhan?" Seorang 
kawan menelepon untuk menanyakan itu. Ia pemilik sekaligus eksekutif perusahaan 
media. Ia gemar berkelana ke pelosok-pelosok daerah. Untuk menyelam. Atau 
sekadar menikmati suasana yang jauh berbeda dengan Jakarta. Ia tergoda pergi ke 
Poso yang kabarnya indah.

"Saya pernah sampai ke Pendopo," katanya menyebut nama kota lecil di kawasan 
tengah Sulawesi. "Tapi saya tak berani melanjutkannya ke Poso. Sayang...."

Negeri ini bertabur kawasan indah dengan kekayaan budaya yang sangat beragam. 
Sungguh menakjubkan bila berkesempatan menjelajahi tempat-tempat itu. Tapi 
pemerintah pun tak gemar mempromosikannya. Apalagi damai, yang dulu pernah ada 
dan kemudian rusak, belum kembali seperti semula. Seperti di Poso itu.

Serbuan polisi ke kawasan permukiman penduduk di kota Poso telah menewaskan 11 
orang. Seorang di antaranya polisi. Entah terkena peluru siapa. Selebihnya 
adalah masyarakat. Polisi meyakini bahwa banyak buron kasus teror bersembunyi 
di situ. Mereka adalah orang-orang yang masuk dalam 'daftar pencarian orang'. 
Mereka sudah lama diminta menyerah. 

Namun tak ada tanggapan. Maka dilakukanlah penyerbuan berdarah itu. Tragedi itu 
mencengangkan banyak pihak. Di berbagai tempat, termasuk di Ambon yang menjadi 
titik picu kerusuhan Poso, keadaan sudah benar-benar aman. Masyarakat telah 
merasakan betapa rugi bertikai antarsesama. Mereka pun membangun kehidupan baru 
bermasyarakat secara damai. Keadaan yang sama semestinya juga terwujud di Poso. 
Namun ternyata tidak. Apa yang menjadi penyebabnya?

Seorang pekerja rekonsiliasi masyarakat pascakonflik Ambon dan Poso 
mengemukakan pandangannya. Kasus Poso, menurutnya, jauh lebih rumit dibanding 
Ambon. Sangat banyak pihak luar yang bermain di kawasan ini. Akibatnya, 
penyelesaian secara adil sulit diwujudkan. Tibo, terpidana mati kasus kerusuhan 
Poso mengungkapkan bahwa ia bukanlah orang yang paling harus bertanggung jawab. 
Ada 16 nama lain yang lebih bertanggung jawab atas kerusuhan itu. Ia menyebut 
satu per satu nama tersebut. Tak satupun upaya pemerintah yang terlihat 
merespons tudingan itu. Tak satupun nama itu yang dijerat hukum. Seolah semua 
bersepakat agar persoalan ditutup sampai diri Tibo. Tudingan terhadap mereka 
pun terkuburkan bersama dengan eksekusi Tibo. 

Perasaan tak adil itulah yang dirasakan banyak kelompok masyarakat di Poso. 
Mereka sangat yakin bahwa Densus 88, pasukan kepolisian khusus antiteror, 
dikendalikan orang-orang dan pihak-pihak yang memang bermaksud menyudutkan 
pihaknya. Pada saat yang sama, seperti di banyak tempat lain di negeri ini, 
tekanan ekonomi makin terasa. Lapangan kerja susah. Kemiskinan di sekitar kian 
tampak. Hal demikian membuat frustrasi mereka yang telah bersusah payah sekolah 
namun tak kunjung meraih penghidupan lebih baik sesudahnya. Keadaan itu seperti 
padang rumput kering yang menunggu sepenggal puntung rokok untuk membuatnya 
berkobar.

Di padang kering macam itulah para petualang bermain-main. Ada petualang yang 
mengatasnamakan agama, yang dikaitkan dengan nama 'Jamaah Islamiyah' yang konon 
dulu bermarkas di Malaysia, yang terus mengipasi keresahan masyarakat. Mereka 
serupa dengan yang terkait dengan rangkaian bom beberapa tahun lalu, yang telah 
merobek-robek kedamaian masyarakat sekaligus nama baik umat beragama. Di sisi 
lain, ada pula petualang yang piawai mengendalikan permainan invisible hand 
yang mampu menggerakkan alat kekuasaan hingga bertindak berlebihan. 

Serangan ke perkampungan itu bukan sekadar lemparan puntung rokok, melainkan 
sulutan obor ke rumput kering Poso. Bisa jadi kedua jenis petualang itu memang 
bersepakat memainkan tarian petualangannya bersama di Poso. Masyarakatlah yang 
harus menjadi korbannya. Peluru telah menerjang, dan darah pun telah tumpah di 
kalender baru Hijriah sekarang. Mudah-mudahan tak akan ada noda baru di 
hari-hari berikutnya. Baik di Poso maupun di sekujur Nusantara ini. Kampanye 
damai secara serentak serta program pemberdayaan masyarakat besar-besaran yang 
dapat membangkitkan perekonomian di seluruh Poso, khususnya kawasan Gebangrejo, 
akan menjadi semacam hujan yang menyirami abu kerusuhan menjadi penyubur 
kedamaian masyarakat. Jika itu terwujud, semua akan dapat berkelana ke Poso 
buat menikmati keindahan alam dan budayanya seperti di masa-masa silam

Kirim email ke