"Tradisionalisme NU" yang dekat dengan "Abangan" apalagi Kejawen justru sangat memudahkan diterimanya pemikiran progresif, bahkan liberal, dan internasionalis, mungkin kosmopolitan, yang mempercepat rasionalisme dan meninggalkan telikungan dogma-dogma. Dalam hal intelektualisme dan mungkin, kalau dapat dibilang adanya "teolologi pembebasan" Islami, kaum muda NU memang cukup lari jauh kedepan meninggalkan pemuda Muhammadiyah, yang selama Orba memenuhi birokrasi, dan lewat ICMI menjadi teknokrat. Kaum muda NU dapat menjadi pemuda harapan bangsa! Y Rakhmat SUARA PEMBARUAN DAILY --------------------------------- Dinamika Intelektual Kaum Muda NU Oleh Bawono Kumoro khir Januari lalu, Nahdlatul Ulama (NU) merayakan hari lahirnya yang ke-81 tahun. Terhitung sejak didirikan pada tanggal 31 Januari 1926 oleh KH Hasyim Asy'ari. Di usianya yang semakin mendekati satu abad, derap langkah NU sebagai ormas keagamaan terbesar di Indonesia akan semakin mendapat sorotan luas dari masyarakat. Salah satunya perihal dinamika intelektual kaum muda NU dalam beberapa tahun terakhir ini. Apa yang terjadi pada kaum muda NU sejak beberapa tahun terakhir memang sungguh fenomenal. Telah terjadi "ledakan" intelektual yang teramat dahsyat di sana. Berbeda dengan Muhammadiyah yang sejak awal memang menginginkan dirinya menjadi modernis, NU sebagai gerakan sosial keagamaan tradisional tentu tidak lebih terbuka terhadap pemikiran- pemikiran baru. Namun, kenyataan menunjukkan bahwa hal itu tidak sepenuhnya benar. Setidaknya, dalam sepuluh tahun terakhir kaum muda NU terlihat menunjukkan corak pemikiran yang jauh lebih kritis, progresif, dan bahkan liberal. Mereka semakin menarik perhatian masyarakat luas tatkala mengartikulasikan ide-idenya melalui berbagai tulisan di sejumlah media massa, jurnal, dan buku-buku yang ditebitkan. Banyak kalangan muda NU yang tampil vokal menyuarakan wacana-wacana kritis progresif sebagai sebuah ikhtiar dalam mencari problem solving dari persoalan- persoalan yang dihadapi masyarakat. Ini adalah suatu hal yang sangat mengesankan mengingat mereka memiliki latarbelakang NU, yang notabene merupakan kelompok Islam tradisionalis. Apa yang terjadi pada kaum muda NU, sebagaimana di ungkapkan di atas, tentu disebabkan oleh sejumlah faktor. Pertama, ini merupakan faktor dominan, pengaruh diskursus civil society yang dibawa oleh Gus Dur sejak memangku jabatan Ketua Umum PBNU pascamuktamar Situbondo 1984. Diskursus itu sendiri dilakukan sebagai bagian dari gerakan kembali ke khittah 1926. Kembali ke khittah 1926 merupakan sebuah upaya untuk mengembalikan NU kepada jati dirinya sebagai sebuah gerakan sosial dan kultural, bukan gerakan politik Pilihan untuk mengusung diskursus civil society secara tidak langsung telah memposisikan NU sebagai kekuatan oposisi terhadap tindakan-tindakan represif negara. Diskursus-diskursus civil society yang dibawa oleh Gus Dur ternyata tertanam kuat dalam diri kaum muda NU. Hal tersebut dapat dilihat ketika di tahun 1998 Gus Dur mulai berpaling ke dunia politik, namun intelektual-intelektual muda NU tersebut tetap konsisten untuk bergerak pada wilayah civil society. Bahkan, mereka dengan bangga mengidentifikasikan diri sebagai sebuah kelompok yang tidak berorientasi politik atau dengan kata lain tetap pada jalur kultural. Pada saat yang sama, rupanya di dalam lingkungan internal NU telah terjadi sebuah proses pengayaan pemikiran, terutama yang berkaitan dengan tema-tema civil society. Seiring berjalannya waktu, kaum muda NU ini pun akhirnya memiliki keyakinan mendalam dalam diri mereka bahwa pengembangan civil society, baik dari sisi wacana maupun praksis, merupakan bagian integral dari kewajiban NU terhadap negara. Singkatnya, produktivitas dan keberanian yang ditunjukkan Gus Dur telah memiliki andil besar dalam memberi inspirasi bagi kalangan muda NU untuk lebih berani dan terbuka mengungkapkan gagasan. Kedua, booming kaum muda NU yang memasuki dunia perguruan tinggi pada kurun waktu 1970-an dan 1980-an, khususnya IAIN. Sebelum itu anggapan umum yang berkembang di kalangan NU ialah jika ingin belajar agama, maka datanglah ke pesantren! Anggapan itu lama kelamaan memudar seiring dengan berkembang pesatnya IAIN, terutama IAIN Jakarta (kini UIN Jakarta). IAIN yang tengah marak dengan atmosfer pemikiran pembaruan tersebut juga turut andil dalam memberikan pengaruh kepada kaum muda NU yang tengah menempuh studi di sana. Ketiga, adanya arus kaum muda NU yang belajar ke Timur Tengah, khususnya Mesir. Ini juga merupakan faktor penting lainnya karena melalui cara inilah mereka dapat melakukan interaksi intelektual secara langsung dengan para intelektual muslim dunia yang mengusung pemikiran-pemikiran progresif dan liberal, seperti Hassan Hanafi dan Nasr Abu Zayd. Berbagai Bidang Dalam perkembangannya, kaum muda NU ini ternyata tidak berada di dalam satu tubuh. Kaum muda NU menyebar dan berada di mana-mana, tidak saja dalam arti ruang politik, tetapi juga wilayah ideologi, lingkup gerakan sosial, maupun daerah tempat pergumulan pemikiran. Banyak kaum muda NU yang kemudian membentuk LSM dalam berbagai bidang. Ada yang bergerak dalam tataran pemikiran dan wacana serta ada pula yang bergerak pada tataran praksis, seperti advokasi terhadap masyarakat tertindas. Maraknya kaum muda NU aktif di dalam LSM tidak terlepas dari adanya sebuah warisan perasaan di dalam diri mereka tentang termarginalkannya kalangan NU dari jaringan birokrasi sepanjang era orde baru. Maka, untuk melakukan mobilitas vertikal mereka harus memilih jalur alternatif di luar birokrasi dan pilihan pun kemudian jatuh pada jalur LSM. Pertanyaan yang muncul kemudian ialah di mana kita menempatkan para intelektual muda NU ini dalam peta Islam Indonesia kontemporer? Tradisionalis, post-tradisionalis, modernis, ataukah neo-modernis? Jika kita tanyakan hal ini pada mereka, bisa jadi tentu jawabannya akan beragam. Tetapi, hemat saya, mereka masih sangat kental diwarnai oleh nuansa identifikasi diri sebagai kalangan tradisionalis. Betapapun mereka telah melakukan sebuah pembaruan pemikiran sedemikian liberalnya, tetapi identifikasi tersebut akan sangat jelas terlihat terutama ketika terjadi konflik dengan negara ataupun konflik horisontal dengan kelompok modernis. Pada saat seperti itu, maka kuat kecenderungan mereka akan kembali pulang ke 'kandang' (baca: NU). Di samping itu, satu hal yang tak boleh dilupakan ialah kaum muda NU ini, melalui berbagai lembaga yang dihuninya, juga tetap mengusung hal-hal yang secara historis telah lama diperjuangkan oleh kaum tradisionalis. Kaum muda NU ini tetap merasa berkepentingan untuk membela pelaksanaan ritual-ritual ibadah tradisional yang dilakukan oleh kelompok-kelompok Islam lokal, yang selama ini dipandang sebagai sebuah bid'ah oleh kalangan modernis. Hanya saja kini bedanya berbagai usaha pembelaan tersebut seringkali dihiasi oleh wacana-wacana HAM modern. Pada akhirnya, saya meyakini bahwa kehadiran para intelektual muda NU ini akan sangat besar artinya bagi proses pembaruan tradisi dan kultur NU ke depan. Kehadiran mereka juga penting artinya dalam rangka membendung arus radikalisasi Islam di Indonesia, karena ideologi dan teologi yang mereka perjuangankan lebih dekat dengan apa yang diyakini oleh mayoritas umat Islam Indonesia. Penulis adalah peneliti dan Analis pada Laboratorium Politik Islam UIN Syarif Hidayatullah, Jakarta --------------------------------- Last modified: 7/2/07
--------------------------------- Never Miss an Email Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!
