Saya turut berduka cita atas wafatnya bapak Sobron Aidit.  Semoga
keluarga yang ditinggalkannya bisa rela menerima kenyataan dengan
begitu banyaknya pernyataan ikut berduka bersama keluarga yang
ditinggalkannya.

Sobron Aidit bukanlah pahlawan, dan juga bukan pengkhianat, tetapi dia
harus ikut menanggung petualangan politik kakaknya yang akhirnya
dituduh pengkhianat.  Malangnya, bangsa ini merupakan bangsa yang
diracuni ajaran2 agama biadab dimasa lalu dimana kesalahan seseorang
harus dihukum keseluruhan keluarga, sahabat, tetangga hingga binatang
peliharaannya harus ikut dijagal.  Disinilah posisi bapak Sobron Aidit
yang ikut menjadi korban samping yang sama sekali tidak diketahuinya
sebelumnya.  Juga disinilah letak perjuangan beliau yang mengagumkan
yang ternyata mampu dan berhasil menyelamatkan sisa2 keluarganya untuk
tidak musnah semuanya.

Tidak dapat dipungkiri bahwa Bapak Sobron Aidit ini memang merupakan
seorang bapak yang mengabdi demi kebahagiaan keluarganya.  Kehidupan
keluarga beliau menjadi begitu sulit bukan se-mata2 akibat kesalahan
dirinya melainkan akibat abangnya yang kebetulan menjadi ketua PKI.
Padahal kalo bangsa ini bisa menyadarinya, kesalahan seseorang tidak
bisa disangkutkan kepada anak, saudara, kakak, adik, atau bahkan ayah
ibunya.  Kesalahan seseorang merupakan tanggung jawab pelakunya yang
tidak bisa disangkutkan kepada yang sama sekali tidak berkepentingan.
 Contohlah, bapaknya korupsi, bukanlah berarti anak isterinya harus
ikut dipenjara !!!!  Namun ajaran semua agama yang tersangkut pada
budaya bangsa tetap mengikatkan tradisi masa lalunya dimana seorang
raja yang kalah selalu harus dibunuh sekeluarga hingga akar2nya
termasuk binatang peliharaannya.  Juga hal ini melibatkan nasib nabi
Muhammad dimana beliau dijagal dan seluruh anak cucunya di-kejar2
sampai habis musnah ke-akar2nya dijagal habis.

Menyedihkan, kejam, biadab, seorang bapak yang dituduh PKI bukan cuma
bapaknya saja yang dijagal juga anak isterinya.  Yang masih selamat
melarikan diri hingga detik ini diberi kode di KTP-nya hingga tak bisa
bekerja dan melanjutkan sekolah hingga anak cucunya.  Begitulah,
Syariah Islam yang merupakan satu2nya pusat bencana bangsa ini masih
terus dilestarikan tanpa tanda2 akan surut dimasa depannya, tapi
tanda2 surut dan terpuruknya bangsa ini tampak akan makin mendalam.

Dalam kondisi beginilah bapak Sobron Aidit berjuang untuk bukan cuma
menyelamatkan dirinya saja, melainkan menyelamatkan masa depan anak
cucunya untuk memiliki harga diri yang sama dan sejajar dengan anak2
bangsa maju lainnya.

Dari demikian banyaknya tulisan2 bapak Sobron Aidit, tidak satupun
yang mengedepankan kekerasan, tak satupun yang menonjolkan kebencian,
tak satupun yang mempermasalahkan politik ataupun petualang2nya, tak
satupun yang mengkritik kepercayaan2 yang telah menciptakan malapetaka
bukan hanya kepada keluarga beliau tapi juga kepada bangsa ini.
Beliau hanyalah seorang manusia yang berperasaan yang hanya gemar
menulis tentang hal2 yang indah yang bisa mendorong kebahagiaan semua
orang melalui keindahan alamnya.

Tugas bapak Sobron Aidit sudah berhasil, dan selesai secara memuaskan
dan hasil perjuangan bapak sobron ini merupakan warisan luar biasa
bagi anak cucunya, yaitu: "Kebebasan dalam memilih maupun hak azasi
yang berhasil dipersembahkan kepada generasi penerus beliau".  Semua
kekayaan yang diwariskan sang bapak ini tergantung kepada masing2 ahli
warisnya saja untuk meneruskan dan mengembangkannya tanpa harus
mengalami hambatan2 maupun ancaman2 seperti yang pernah beliau alami.

Kepada ahli warisnya, boleh berbangga hati memiliki seorang bapak
seperti bapak Sobron Aidit ini.  Nama besar sang kakak Dipa Nusantara
Aidit kalopun berhasil perjuangan politiknya, belum tentu keluarga
sang adik yaitu Sobron Aidit ikut serta menikmatinya, ternyata
perjuangan politiknya gagal, malah harus ikut menanggung beban
tanggung jawab yang begitu memilukan yang bukan miliknya.  KITA PATUT
MENANGIS TELAH KEHILANGAN BELIAU KARENA NABI MUHAMMAD SENDIRI GAGAL
MENYELAMATKAN SELURUH KETURUNANNYA, SELURUH ANAK CUCUNYA, MESKIPUN
MEREKA SEMUA SEBELUMNYA JUGA BERHASIL SEMENTARA DISELAMATKAN DINEGARA
TETANGGANYA.  Tak banyak berbeda dengan Sobron Aidit hampir sama,
mengungsi dari satu negara Asia kenegara Asia lainnya, hingga ke
Eropah dimana kesemuanya secara keseluruhan nya merupakan catatan
panjang keluarga dalam pelarian menyelamatkan diri.  Kalo keturunan
Sobron Aidit masih ada yang bisa menangisi beliau, maka nasib nabi
Muhammad lebih lagi menyedihkan karena tak ada satupun keluarga
keturunan beliau yang masih bisa menangisi beliau bahkan menangisi
dirinya sendiri pun tak mungkin bisa karena memang keturunan Nabi
benar2 punah hingga ke-akar2nya.  Dan yang berhasil diselamatkan
hanyalah catatan2 para keturunan pembunuh dan penjagal keluarga nabi
Muhammad yang berisi bagaimana cara2 yang berhasil dalam membantai
keturunan nabi dan keluarganya hingga ke-akar2nya.  Catatan inilah
yang sekarang berhasil dilestarikan oleh para pengikut dari keturunan
pembunuh nabi ini yang mensucikan catatan2 ini dalam sebuah kitab yang
dinamakannya, AL-QURAN.

Ny. Muslim binti Muskitawati.












Kirim email ke