Good article ! Parpol ini tak beda nya dengan buaya2 yg mengangakan mulutnya lebar2 dan melahap apa saja yg muncul didepan nya demi utk memuaskan isi perutnya, yg menjadi umpan korban tentu saja rakyat, rakyat sudah seperti commodity politics, bencana alam dianggap sebagai pasar malam buat memperagakan kehebatan partai, berlomba mencari muka, menebar kebaikan yg pamrih, sungguh2 sosok mentalitas yg sangat menyedihkan !. Di America setiap hari saya melihat segerombolan orang2 yg bertampang aneh berkerumun di sidewalk memegang spanduk tanda perdamaian, tangan2 mereka melambai kearah pengemudi dengan lambang perdamaian ( mengacungkan jari telunjuk dan jari tengah) bila kita tak menjawab sapaan mereka, wajah mereka pun tak ramah...saya yg biasanya melewati mereka hanya melambai dari dalam mobil saya, tapi ketika lampu merah menghadang, saya pun terpaksa berhenti dan salah satu dari mereka menghampiri saya, dengan tersenyum ramah tangan nya menjulur diluar jendela mobil mengajak bersalaman, sayapun menyambutnya " GODBLESS YOU CHILD, LETS PRAY THAT OUR CHILDRENS IN IRAQ WILL BE HOME SOON, NO MORE WAR, NO MORE KILLLINGS, DEMOCRATS SAVES COUNTRY, SAVING OUR LIVES, SAVING OUR HEALTH, SAVING........." whatever lah...saya cuman menggerutu, y' all full of crap ! Lalu keesokan harinya saya melihat kerumunan yg sama, hanya saja kali ini mereka memandu spanduk berbeda, ah..now its Republicans....ha ha h ah ah ahahahahahhaaaaaa, what a joke ! you see, kedua partai ini juga menggunakan manusia2 pemalas utk memasarkan produksi politik mereka, democrats dan republicans menggunakan rakyat nya ( yg tampang nya memang homeless dan drug addict) ini utk menjajakan partai mereka, disgusting, isnt it ?. salam' O
Sumar Sastrowardoyo <[EMAIL PROTECTED]> wrote: Banjir dan Politik - Selasa, 13 Februari 2007 Rubrik Berita Utama Bisnis & Keuangan Humaniora International Metropolitan Nusantara Olahraga Opini Politik & Hukum Sosok Sumatera Bagian Selatan Sumatera Bagian Utara Berita Yang lalu Anak Asuransi Audio Visual Bahari Bentara Bingkai Dana Kemanusiaan Didaktika Ekonomi Internasional Ekonomi Rakyat Fokus Furnitur Ilmu Pengetahuan Interior Jendela Kesehatan Laporan Khusus Aceh Baru Laporan Khusus Hidup Bersama Bencana Lingkungan Lintas Timur Barat Makanan dan Minuman Muda Musik Otomotif Otonomi Pendidikan Pendidikan Dalam Negeri Pendidikan Informal Pendidikan Luar Negeri Perbankan Pergelaran Perhubungan Pixel Properti Pustakaloka Rumah Sorotan Swara Tanah Air Teknologi Informasi Telekomunikasi Teropong Wisata Info Otonomi Tentang Kompas Kontak Redaksi Berita Utama Selasa, 13 Februari 2007 Analisis POLITIK Banjir dan Politik Azyumardi Azra Banjir-seperti banyak bencana lainnya-belakangan ini tidak lagi sekadar fenomena alam yang biasa. Berbagai penelitian dan kajian akhir-akhir ini menunjukkan, berbagai bencana tersebut semakin merupakan hasil dari perbuatan manusia, yang tidak bersahabat dan tak sensitif terhadap alam. Oleh karena itu, pada dasarnya banjir dan bencana lain dapat diantisipasi dan diupayakan agar tidak memakan korban harta benda dan nyawa yang begitu banyak; ditekan sampai ke tingkat paling minimal. Kombinasi antara gejala alam yang dalam belum sepenuhnya dapat diungkapkan ilmu pengetahuan dengan pandangan dunia, gaya hidup, dan tingkah laku manusia telah mengakibatkan berbagai bencana lama yang kian dahsyat dan mencemaskan masa depan manusia dan alam itu sendiri. Lihatlah perubahan iklim dan cuaca yang ekstrem di berbagai penjuru dunia. Banyak kawasan di Belahan Utara Dunia (Northern Hemisphere) sampai akhir Desember dan awal Januari lalu mengalami musim dingin yang hangat; salju yang turun sedikit sekali atau bahkan tidak ada sama sekali sehingga banyak ski resort yang harus tutup. Ini mengakibatkan banyak orang yang bekerja di sektor ini menjadi penganggur. Namun, tiba-tiba pada akhir Januari dan awal Februari, gelombang yang sangat dingin melanda kawasan Belahan Utara Dunia tersebut. Kehidupan menjadi lumpuh. Hal yang sama juga terjadi di Tanah Air. Pada Desember, curah hujan yang sangat tinggi mengakibatkan banjir dan longsor di berbagai tempat. Pada pekan-pekan pertengahan Januari, di Jakarta, suhu udara menjadi sangat panas, di luar kebiasaan. Selanjutnya datanglah musibah banjir besar, yang menenggelamkan sekitar 60 persen wilayah Ibu Kota dengan korban nyawa lebih dari 80 orang. Kerugian harta benda nyaris tak terhitung. Memandang "gejala- gejala" alam yang aneh itu cukup beralasan jika muncul apa yang disebut sebagai climate hysteria, kekhawatiran dan ketakutan karena berbagai perubahan iklim. Histeria perubahan iklim tersebut menguat karena prediksi berbagai lembaga lingkungan alam menyatakan, misalnya, menjelang 2100, karena pemanasan global yang mengakibatkan mencairnya es di kawasan Kutub Utara dan Selatan, permukaan air akan naik beberapa meter. Jika ini terjadi, tidak hanya membuat beberapa negara Eropa tenggelam, tetapi juga ribuan pulau di Indonesia akan hanya tinggal sejarah. Dalam konteks Indonesia, pertanyaannya, siapa yang harus bertanggung jawab atas bencana banjir dan berbagai bencana alam lain yang terus melanda? Jawaban tipikal kalangan kita adalah tidak ada siapa-siapa yang perlu disalahkan karena semua itu merupakan musibah dan ujian dari Tuhan Yang Maha Esa atau bahkan sudah merupakan takdir. Jika mau jujur, kita semualah yang bertanggung jawab atas berbagai bencana alam. Pemerintah-baik pusat maupun daerah-agaknya merupakan pihak yang perlu dituntut tanggung jawabnya karena gagal membuat perencanaan secara komprehensif dan koheren dan menjalankan program secara konsisten guna mengantisipasi berbagai bencana alam. Selain karena persoalan anggaran, juga karena program tertentu mendapat resistansi dari masyarakat, seperti dalam kasus pembuatan waduk dan kanal banjir di Jakarta Timur. Selain resistansi itu, juga banyak hal lain yang tidak kondusif. Karena berbagai faktor tertentu, banyak kalangan masyarakat kita menempuh gaya hidup yang sama sekali tidak bersahabat dengan alam, yang pada gilirannya mencelakakan diri mereka sendiri. Lihatlah, pinggir sungai, situ, dan waduk menjadi permukiman ilegal. Atau bahkan legal-karena ada izin dari pihak berwenang-sebab diuruk menjadi real estat, mal, dan banyak lagi. Atau bahkan tak kurang parahnya, sungai, situ, dan selokan menjadi tempat pembuangan sampah. Jika pemerintah menertibkan dan merelokasi masyarakat yang bermukim di sekitar daerah aliran sungai, reservoir, dan serapan air tersebut, yang ada hanyalah resistansi. Lebih celaka lagi, baik pemerintah maupun masyarakat kita umumnya cenderung tak pernah mau belajar dari pengalaman pahitnya menghadapi bencana. Begitu bencana berlalu, kita kembali kepada kehidupan seperti biasanya; kita adalah masyarakat yang careless, ceroboh, karena tak mau belajar dan sekaligus tak punya kepedulian yang berkesinambungan. Namun, di tengah realitas seperti itu, di tengah bencana banjir, selalu ada pihak yang melihatnya sebagai peluang politik. Lihatlah para pejabat, elite politik, dan aspiran politik yang berlomba-lomba "menyantuni" para korban banjir di Jakarta. Berbagai bendera parpol bertaburan di sekitar daerah bencana, di posko-posko, dan bahkan di kardus-kardus makanan instan. Gejala ini menunjukkan, kalangan elite politik dan parpol kian sadar, membantu para korban banjir-dan bencana alam lainnya-dapat menjadi peluang untuk penggalangan "modal politik" (political capital), baik dalam konteks Pilkada DKI Jakarta maupun Pemilu 2009. Melalui bantuan yang mereka berikan, para korban bencana dan masyarakat lainnya nanti memberikan suara kepada parpol dan calon mereka. Karena itulah, banjir di Jakarta bukan lagi sekadar bencana, tetapi juga berkembang menjadi masalah politik, baik pada tingkat lokal DKI Jakarta maupun nasional. Ketika banjir menjadi isu dan masalah politik, tatkala itu pulalah terjadi gesekan dan tensi politik di antara para elite politik, baik yang tersembunyi dalam arus maupun yang terungkap ke ranah publik. Banjir dan bencana lainnya seharusnya lebih mendorong terciptanya solidaritas sosial, yang pada gilirannya dapat memperkuat social capital bangsa, bukan lebih untuk menggalang political capital. Masyarakat kita memang lebih memerlukan solidaritas sosial dan sensitivitas daripada penggalangan politik. Dan ini lebih menenteramkan masyarakat yang terus gundah. Azyumardi Azra Direktur Sekolah Pascasarjana Universitas Islam Negeri Syarif Hidayatullah, Jakarta LAYANAN BERITA SMS 9858 Layanan Langganan Berhenti Tarif Fren Flexi berita nasional reg nas unreg nas 750 550 berita politik reg pol unreg pol 750 550 breaking news 3 reg bn 3 unreg bn 3 750 550 breaking news 5 reg bn 5 unreg bn 5 750 550 breaking news 10 reg bn 10 unreg bn 10 750 550 headline kompas reg hlkompas unreg hlkompas 750 550 INFO LENGKAP WWW.KOMPASMOBILE.COM Search : Berita Lainnya : · Harga Beras Merangkak Naik · Pemerintah Belum Temukan Solusi Terbaik · Banjir dan Politik · Grammy, Dixie Chicks, dan Politik · 17 Orang Meninggal · Pengungsi Dijatah Beras Gratis Dua Bulan · Gaji Tak Dibayar, Pegawai Bappeda Mogok Design By KCM Copyright © 2002 Harian KOMPAS [Non-text portions of this message have been removed] ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Diharapkan Member Milis saling berinteraksi dengan baik dan harmonis. Dalam suasana kekeluargaan, santai, tidak harus formal, tidak saling menghujat dan tidak diskriminative. ~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~~ Yahoo! Groups Links --------------------------------- Everyone is raving about the all-new Yahoo! Mail beta.
