Dear all,

Tanpa melupakan kasus ini dan tanpa bermaksud mengalihkan masalah, saya ingin 
berbagi pengalaman saya (ibu dengan 3 putra/i). Saya memiliki
'PAKEM' (bahasa jawa yg artinya patokan, pegangan dan wajib di ikuti),
yaitu ; ANAK PANAS HARI KETIGA TIDAK TURUN, WAJIB DAN HARUS DI INFUS,
APAPUN PENYEBABNYA YANG BELUM DIKETAHUI".
Karena menurut saya, dengan infus itulah panas badan di netralisir,
khususnya untuk balita yang belum bisa bilang sakit/mengeluh.

Menurut pendapat saya ini salah diagnosa dokter.
Panas yang tinggi dianggap ringan, sehingga panas tersbut menyebabkan
kejang dan kejang ini dapat merusakkan sebagian otak karena kekurangan
oksigen.
Disini titik permasalahan mulai timbul, apalagi kondisi bayi yang makin
melemah.

Pengeluaran lendir umum dilakukan untuk bayi yang sesak karena biasanya
memang banyak lendir, namun selang yang masuk dapat juga menyebabkan
iritasi, sehingga kemudian luka dan infeksi, juga bisa menyebabkan
panas.

Putir ke 3 saya mengalami hal ini hingga dalam 6 bulan 2 kali di rawat
di rumah sakit. Belajar dari situ saya menyiapkan nebulizer di rumah.
Karena menurut pengalaman saya lendir yang banyak dapat juga menyebabkan
panas yang ada tidak turun.
Nebulizer itu sama dengan yang diberikan di rumah sakit satu ampul
Ventolin dan Flexotide dibagi 2 untuk digunakan setiap kali. Kalau
lendirnya sedikit 1 x sehari, kalau banyak 2 x sehari. Mengetahui lendir
banyak atau tidak dengan meraba dadanya ketika ia bernapas/tidur,
apabila banyak maka terlihat napas agak berat dan dari dada
teraba/terdengar gruuuukkk.....gruuukkk.
Ini cukup efektif, untuk mencegah bertumpuknya lendir, walaupun kalau
ada panas tetap saya bawa ke dokter anak, namun dengan kombinasi ini
anak cepat kembali sehat.

Hal TERPENTING disini adalah PERAN FEELING IBU! Sebagai ibu harus
mengikuti feeling dalam hal-hal ikatan batin yang kuat. Saya pernah
ber-argue keras dengan suami karena suami menghendaki bayi di bawa
pulang dulu, nanti kalau sudah jelas DB (Deman Berdarah) baru dibawa
kembali ke rumah sakit, karena menrut dokter masa inkubasi DB adalah 5
hari.
Saya berkeras minta bayi dirawat, walaupun bukan DB karena bayi panas,
muntah tidak bisa makan dan minum. Hal seperti ini HANYA SEORANG IBU
YANG TAHU!!

Semoga bermanfaat.
Walaupun bukan dokter, tapi saya belajar dari pengalaman.
Dan saya yakin dokterpun belajar dari pengalaman dalam mengobati.

Salam

Rini


-----Original Message-----
From: [email protected] [mailto:[EMAIL PROTECTED] On
Behalf Of sengat_cantang
Sent: Tuesday, February 13, 2007 9:42 PM
To: [email protected]
Subject: [mediacare] apakah ini malpraktik rumah sakit atau dokter?

kawans.. saya hanya menyampaikan cerita nyata yang disusun warga dari
bandung.. sepertinya kawan ini minta bantuan dengan sangat.. jika ada
yang ingin merespon silakan dihubungi langsung.. dia juga berharap LBH
kesehatan ikut membantu.
________________

Bahwa pada hari Minggu tanggal 8 Agustus 2004,  Kami membawa putri
Kami, Syifa Nur Hanifah, berusia 1 Tahun 7 bulan (pasien) Ke Unit
Gawat Darurat ( UGD ) RS. Boromeus karena menderita sakit panas yang
disertai dengan pembengkakan di leher. Sesampainya di UGD Pasien
ditangani oleh Dokter Jaga. Setelah dilakukan pemeriksaan (diberi obat
dan diperiksa darah), Dokter Jaga UGD tersebut menyatakan Pasien
menderita sakit Gondongan dan diperbolehkan pulang.
        Ke esokan harinya tanggal 9 Agustus 2004, Pasien masih dalam
kondisi
yang sama sehingga Kami membawanya untuk di periksa oleh Dokter,
dimana hasil pemeriksaan (diagnosa) menunjukan sama dengan hasil
pemeriksaan dokter jaga pada UGD RS. Boromeus yaitu Pasien menderita
sakit gondongan. Kemudian Dokter memberi obat namun apabila dalam
tempo 3 (tiga) hari tidak ada perubahan Kami harus membawa Pasien
kembali untuk diperiksa.
        Pada tanggal 13 Agustus 2004 kondisi Putri Kami tidak mengalami
perubahan disamping itu disertai dengan adanya sedikit sesak napas.
Akhirnya Putri Kami dibawa kembali ke Dokter. Setelah dilakukan
pemeriksaan, Dokter memberikan resep dan menganjurkan agar Pasien
dirawat di Rumah Sakit dan mengatakan kepada kami bahwa dengan kondisi
Pasien yang demikian perlu perawatan di Rumah Sakit untuk waktu
sekitar 3 sampai dengan 5 hari. Atas hal tersebut Dokter memberikan
rujukan perawatan di RS. Boromeus.
        Berdasarkan rujukan Dokter tersebut, pada malam itu juga setelah
dari
tempat praktek Dokter tersebut, Kami membawa Pasien Ke RS. Boromeus
dan setelah ditangani Dokter Jaga, Pasien ditempatkan di kamar
perawatan ruang No. 4233 namun oleh karena Pasien tidak dapat tidur
dan terus menangis kemudian dipindahkan ke ruang No. 4227.
        Keesokan harinya tanggal 14 Agustus 2004, sekitar jam 07.30 Wib,
perawat melakukan tindakan penghisapan dan/atau penyedotan
dahak/lender melalui hidung dan mulut (suction) meskipun pasien masih
dalam kondisi suhu badannya tinggi dan sempat mengatakan tidak mau dan
ingin pulang, namun tindakan tersebut tetap saja dilakukan oleh
perawat. Kemudian setelah tindakan tersebut, terjadi perubahan pada
tubuh pasien yaitu dadanya mengalami kebiruan, napasnya sempat
terhenti dan akhirnya tidak sadarkan diri sehingga akhirnya Pasien
dibawa ke ruangan NICU/PICU. Saat di ruang NICU/PICU dalam mulut
Pasien mengeluarkan darah. Atas kondisi tersebut Dr. Sanjaya yang
menangani menyatakan Pasien terkena infeksi Paru - paru.
        Selama 30 hari diruangan NICU/PICU, diperhatikan keadaan Pasien
bukan
membaik malah sebaliknya badannya kaku, matanya membelalak keatas,
kaki dan tangan bengkok dan bengkak, dahaknya keluar terus menerus
tiada henti-hentinya dan tidak sadarkan diri (koma ??). Menurut Dokter
yang menangani (Dr. Reggy) dikatakan Pasien mengalami radang otak
(pecah Pembuluh darah) yang disebabkan oleh virus. Selama dalam
perawatan itu telah dilakukan beberapa kali tes darah dan virus namun
hasilnya selalu negative.
        Mengingat kondisi Pasien selama dirawat di RS. Borromeus tidak
ada
perubahan serta mengingat kemampuan Kami untuk biaya-biaya yang
dibutuhkan semakin berkurang dan akhirnya tidak mampu lagi, akhirnya
dengan kondisi Pasien yang demikian dengan sangat terpaksa Kami
membawa pulang Pasien. pada tanggal 20 September  2004, dalam keadaan
kejang memakai sonde dan mayo serta oxygen.
-       Sonde : Alat makan / selang dari hidung sampai lambung.
-       Mayo  : Alat untuk menahan agar tidak menggigit lidah sendiri
supaya
tidak  kejang.

Adapun kenapa kami baru sekarang di sebarluaskan lewat media , karena
menurut dua pengacara yang kami tunjuk ga ada pentingnya
disebarluaskan. Tapi mengingat proses yang begitu lama, setiap saya
tanyakan pada pengacara saya, dia selalu bilang masih dalam proses
tetapi tidak realisasinya sampai sekarang. Kami sudah terlalu
bersabar, dan mengingat kondisi keuangan keluarga kami yang
morat-marit, akhirnya suami sayamemutuskan mencari peluang di negara
orang ( arab saudi ) dengan menjadi TKI. Agar bisa membayar sisa
utang2 yang jumlahnya hampir 50 jutaan  bekas biaya rumah sakit syifa
yg sudah kami cicil selama3 tahun ini ya sisanya tinggal segitu. Belum
 lagi biaya obat dan perawatan syifa di rumah yang membutuhkan biaya
yang tidak sedikit setiap bulannya kami harus pinjam sana sini. Oleh
karena itu kami ingin mengangkat kasus ini agar pihak rumah sakit
Boromeus ingat kembali bahwa masih ada yang harus mereka selesaikan
dengan kami ( anak kami ) , akibat kasus ini kami dirugikan materil
dan in materil . kami sangat berharap dan berdo'a sama Tuhan YME agar
anak kami dapat kembali sembuh seperti sedia kala dapat bermain,
berjalan, ketawa , dan saya kangen mendengar suaranya memanggil
mama.... ...

Keluarga
Ria Maritha
Komp. Bumi Panyileukan Blok C-13 No.30
Cibiru - Bandung
Phone : 022 -7804583 / 081.2238.4095


Kirim email ke