Maaf, Mba Indah, 
Saya nimbrung ya, saya rasa bila kita menempatkan diri sebagai minoritas, kita 
akan mendapat perlakuan seperti itu.
Saya pernah eksibisi di New York. Ada wanita kulit hitam yang melihat produk 
saya dengan kasar, istilahnya hampir merobeknya. Saya sampaikan padanya untuk 
lebih hati2....Wow... dia langsung berteriak dan memaki dilokasi bahwa saya 
mendiskriminasi dlsb.!! Saya yakin saya bisa dipukul kalau ada lebih banyak 
orang 2 kulit hitam disana. Saya sempat trauma...
Saya tidak merasa mendapat perlakuan sebagai minoritas, dari warna kulit saya 
sebagai Asia ( teman2 dari pelbagai dunia ),sampai yang jerit2 Feminist etc. 
Kalau saya perhatikan 'minder' sebagai minoritas yang membuat kita memojokkan 
diri sendiri. 
Kalau kita sendiri melupakan warna kulit kita dan ikut membantu sebagai 
masyarakat biasa, dalam waktu tidak lama akan terasa kesamaan tsb.
Salam,
Ika
[EMAIL PROTECTED]

  ----- Original Message ----- 
  From: indah survyana 
  To: [email protected] 
  Sent: Tuesday, February 13, 2007 11:54 AM
  Subject: Re: [mediacare] Dasar CINA lo ! = Dasar NIGER lo !



  halo mang ucup, pakabar ?
  saya kira semua yang minoritas pasti terpinggirkan dan selalu menjadi kambing 
hitam. Tidak hanya cina saja. 
  2 minggu lagi saya baca artikel di majalah tempo yang isinya bahwa orang 
kulit putih di Afrika juga dipinggirkan. Mereka sering dilecehkan dan dijadikan 
kambing hitam. Hak-hak mereka juga sering diabaikan. Alasannya satu mereka 
kulit putih! Akhirnya mereka mengecat kulit mereka dengan cat warna hitam agar 
terlihat sama dengan orang Afrika lainnya. 

  Hah... kapan ya semua orang akan di pandang sama, tanpa dibedakan suku agama, 
warna kulit dan Ras !?!?!

  MANGUCUP <[EMAIL PROTECTED]> wrote:
    Dasar Cina Lo! Bagi banyak orang Tionghoa ucapan tersebut dinilai sebagai
    suatu penghinaan, walaupun tidak bisa dipungkiri, bahwa RRC itu adalah
    singkatannya dari Repubulik Rakyat China, tetapi cobalah tanyakan bagaimana
    perasaannya saudara kita yang berkulit hitam apabila mereka disebut "Niger",
    walaupun di Afrika juga sebenarnya ada negara yang bernama Niger. Mereka
    lebih senang dipanggil dengan sebutan "black men" atau orang hitam, walaupun
    sebenarnya arti harafiahnya dari kata Niger itu adalah "hitam" dalam bahasa
    Latin, atau Negro dalam bahasa Spanyol. Jadi hitam atau Black dalam bahasa
    Inggris; bagi yang berkulit hitam tidak bisa dinilai sama dengan hitam dalam
    bahasa Latin = Niger, yang satu merupakan ungkapan hormat sedangkan yang
    lain penghinaan. 

    Begitu juga dengan tulisan China dan Cina. Mungkin hal yang serupa dirasakan
    oleh kebanyakan orang Tionghoa, walaupun bedanya hanya dari huruf "H" nya,
    bahkan kalau di ucapkan kedengarannya juga sami mawon alias sama azah " C I
    N A"! 

    Apalagi ketika istilah kata Cina ini dipakai untuk memaki dan diembel-embeli
    perkataan seperti "Cina Loleng", "Cina Mindring" dan sebutan-sebutan
    degeneratif lainnya, oleh sebab itulah istilah kata Tionghoa lebih disukai
    ketimbang kata Cina. Dan anehnya pula ada sebutan "Cina Medan", tetapi tidak
    pernah ada sebutan "Arab Medan". 

    Dan yang lebih lucunya lagi; banyak sekali orang merasa jengah untuk
    menggunakan kata "Cina" secara resmi terhadap etnis Tionghoa di Indonesia.
    Cobalah perhatikan dengan seksama yang dimaksud dengan "Warga Keturunan" itu
    selalu orang Tionghoa, walaupun demikian tidak pernah ditulis entah di media
    cetak maupun media elektronik "Warga Keturunan Cina", begitu juga yang
    dimaksud dengan perkataan "non pribumi" selalu mengacu kepada orang
    Tionghoa, tidak pernah mengacu kepada keturunan etnis lainnya entah Arab,
    India ataupun orang-orang Eropa.

    Apakah Anda tahu bahwa Gus Dur (Abdurrahman Wahid) itu keturunan Tionghoa,
    secara terbuka ia pernah menyatakan bahwa ia masih keturunan dari Tan Kim
    Han (Sumber Wikipedia). Disamping itu apakah Anda tahu nama asli Tionghoanya
    dari Rudy Hartono ? 

    Mengapa apabila ada seorang olahragawan yang berhasil membawa nama bangsa
    menjadi harum tidak pernah tuh dicantumkan bahwa ia itu "non pribumi"
    apalagi nama Tionghoa nya, tetapi kebalikannya begitu ada Cina Maling,
    langsung dicantumkan komplit bahwa ia itu "non pri" lengkap dengan
    embel-embel nama Tionghoanya.

    Begitu juga satu hal yang mustahil, apabila segelintir orang-orang Tionghoa
    dimana pun juga mereka berada ingin merubah perkataan China jadi Tiongkok,
    renungkanlah apakah mungkin kita bisa memaksakan seluruh bangsa di dunia
    ini; mulai besok merubah nama RRC menjadi Republik Rakyat Tiongkok. 

    Mungkin hanya segelintir orang Jepang saja yang membenci orang China akan
    merasa senang apabila istilah Tiongkok dipakai, sebab konon kata ini pertama
    kali digunakan oleh bangsa Jepang, terutama oleh kaum militerismenya yang
    berambisi ingin mencaplok Tiongkok; sebab lafal ini sama dengan lafal kata
    Jepang yang berkonotasi "modyar" sehingga lafal kata "Tiongkok" sebenarnya
    merupakan suatu hinaan yang berarti "Mampuslah lho!" untuk mengumpat dan
    menghina rakyat Tiongkok. 

    Istilah kata Cina sebagai hinaan ditekankan ketika Seminar Angkatan Darat di
    Bandung pada 1968 memutuskan dan menganjurkan kepada pemerintah agar kata
    Cina dipakai sebagai istilah baku untuk mengacu kepada negeri Cina dan orang
    Tionghoa. Alasannya, menurut usul yang ditelurkan oleh seminar tersebut,
    adalah untuk menjamin bahwa pribumi tidak merasa rendah diri. 

    Memang ada kesan bahwa penggunaan istlilah Cina seperti yang diusulkan dalam
    seminar tersebut dan kemudian dianut oleh pemerintah Orde Baru sebenarnya
    dimaksudkan sebagai alat untuk menghukum golongan etnis Tionghoa. Keputusan
    ini merupakan kelanjutan dari larangan terhadap orang-orang Tionghoa untuk
    mempertunjukkan perayaan agama dan tradisinya di depan umum (Inpres No. 14
    tahun 1967). Tetapi ketika reformasi bergulir, sejak th 2000 larangan ini
    dicabut oleh Gus Dur.

    Pada saat tersebut perkataan Tionghoa itu benar-benar haram, sehingga antara
    lain harian Indonesia Raya maupun harian Merdeka dibredel, karena berani
    menggunakan istilah Tionghoa, bukannya Cina seperti yang telah dibakukan di
    Bandung. Rupanya mereka lupa bahwa karangan lagu "Indonesia Raya" dari WR
    Supratman pertama kali di publikasikan di Harian Sin Po dan rekamannya
    dilakukan di toko musik Tio Pe Kong di Pasar Baru, Jakarta. 

    Kata Cina itu sendiri berasal dari nama Ahala Qin (baca Ch'in), dinasti
    pertama yang mempersatukan seluruh daratan Tiongkok, di bawah pemerintahan
    kaisarnya Qin Shihuang ( 225 s.M sampai 210 s.M), disamping itu kaiser Qin
    tersebut yang memerintahkan penyeragaman Huruf Kanji sehingga komunikasi
    tertulis dapat berjalan lancar. Tetapi dilain pihak ia adalah seorang Kaiser
    yang kejam dan biadab yang telah memerintahkan pembakaran semua buku-buku
    ajaran Kong Hu Cu dan memerintahkan hukuman dikubur hidup-hidup terhadap 500
    sarjana Konfusianis. Akibat dari tindakan brutal Kaisar Qin itu, sebagian
    dari karya-karya Kong Hu Cu yang disakralkan sebagai kitab suci untuk aliran
    itu, sampai sekarang belum diketemukan lagi.

    Hal inilah yang menyebakan banyak orang Tionghoa lebih senang menamakan
    dirinya dengan kata "Tangren", yang kurang lebih berarti keturunan Ahala
    Tang (618 - 907), salah satu dinasti yang meninggalkan zaman keemasan,
    terutama dalam kesenian dan kesusastraan, dalam sejarah Cina. Di kalangan
    etnis China di Indonesia, terutama yang berasal dari Propinsi Fujian
    (Hokkian), sebutan itu menjadi "Tenglang". 

    Lafal "Tiongkok" dan "Tionghoa" ini berasal dari dialek Hokkian yang berasal
    dari kata Zhonghua yang digunakan sebagai sinonim dari Zhongguo (Tiongkok
    atau Kerajaan Tengah) dan Presiden pertama Cina, Dr. Sun Yat-sen kemudian
    menggunakan itu untuk nama negara baru di Tiongkok ; Zhonghua Minguo
    (Republik Cina). Mao Zedong meneruskan penggunaannya ketika membentuk
    Republik Rakyat China (RRC) : Zhonghua Renmin Gongheguo. 

    Kata "Mandarin" diserap dari bahasa Portugis = "mandarim" yang berasal dari
    bahasa Sansekerta "mantrin" yang berarti pejabat tinggi bahkan kata menteri
    dalam bahasa Indonesia pun sebenarnya diserap dari kata yang sama.

    Kata Mandarin ini kemudian dipopulerkan oleh bangsa Barat yang sebenarnya
    berarti: "pejabat tinggi dalam pemerintahan Manzu di bawah kekuasaan dinasti
    Qing" (1644 - 1911) dan yang dimaksud dengan bahasa Mandarin adalah bahasa
    yang dipakai oleh para pejabat tinggi atau golongan intelek pada saat
    tersebut. Maklum di Tiongkok banyak sekali bahasa daerah.

    Sehingga dengan mana sebenarnya tidak pernah ada di dunia ini bangsa
    Mandarin ataupun negara Mandarin, jadi ungkapan kata bahasa Mandarin itu
    sebenarnya tidak tepat !

    Di Tiongkok mereka menyebut bahasa Mandarin itu adalah bahasa "Putonghoa" =
    bahasa umum. Di Taiwan disebut bahasa "Guoyu", sedangkan orang-orang
    Tionghoa diluar Tiongkok sering menyebut dengan nama Huayu atau Hanyu atau
    bahasa yang dipergunakan secara luas oleh suku bangsa Han yang mencapai 94%
    lebih dari jumlah penduduk Tiongkok. 

    Wang U Chup
    By Race I am Chinese and By Grace I am Christian
    Email: [EMAIL PROTECTED]
    Homepage: www.mangucup.net




    Web:
    http://groups.yahoo.com/group/mediacare/

    Klik: 

    http://mediacare.blogspot.com

    atau

    www.mediacare.biz

    Untuk berlangganan MEDIACARE, kirim email kosong ke:
    [EMAIL PROTECTED]

    Yahoo! Groups Links








------------------------------------------------------------------------------
  Never Miss an Email
  Stay connected with Yahoo! Mail on your mobile. Get started!

   

Kirim email ke