(Tulisan ini juga disajikan dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak.)
Suharto (dan keluarganya) adalah
sampah bangsa
Akan digugatnya yayasan-yayasan Suharto oleh Kejaksaan Agung RI, dan
disidangkannya di pengadilan di Inggris kasus penyimpanan uang haram Tommy
Suharto tidak lama lagi, akan merupakan kesempatan yang baik sekali bagi
banyak orang di Indonesia untuk mengetahui lebih jauh betapa bobroknya moral
dan besarnya kejahatan-kejahatan yang telah dilakukan oleh keluarga
Cendana.
Dilihat dari berbagai sudut, peristiwa pembongkaran kebobrokan keluarga
Cendana ini mempunyai arti yang berjangkau jauh bagi sejarah bangsa
Indonesia. Sebab, Suharto (beserta keluarganya) ini pernah memegang peran
yang maha-penting dan maha-utama selama 32 tahun rejim militer Orde Baru.
Suharto pernah dalam jangka yang lama sekali disanjung-sanjung sebagai
penyelamat bangsa, bapak pembangunan, pangayom rakyat banyak,
pemimpin tertinggi Abri, dan pembina Golkar.
Tetapi, setelah ia dipaksa mundur dari jabatannya oleh gerakan besar-besaran
mahasiswa dan rakyat dalam tahun 1998, sedikit demi sedikit mulai
terbongkarlah bahwa segala kegemilangan » dan « gebyar » yang pernah
menyelimutinya (beserta keluarganya) adalah sebenarnya selimut yang penuh
dengan kotoran, dosa, dan kejahatan. Boleh dikatakan, bahwa kebobrokan
keluarga Cendana di bidang moral, politik, dan kebudayaan, adalah
perwujudan yang terpusat (concentrated expression) dari segala kebusukan,
dosa, kesalahan, dan kejahatan yang dilakukan oleh Orde Baru.
Kerusakan-kerusakan besar oleh Suharto dan Orde Baru
Pembongkaran kebobrokan atau kebusukan Suharto beserta keluarganya adalah
langkah penting bagi usaha bersama seluruh bangsa untuk mengadakan
pembaruan, atau perombakan segala sistem pemerintahan dan penyembuhan
penyakit moral bangsa yang sudah ditanamkan rejim militer Orde Baru selama
puluhan tahun. Sebab, kita semua sudah menyaksikan sendiri bahwa kebejatan
moral bangsa (antara lain : kebudayaan korupsi yang merajalela, pola hidup
serba mewah di kalangan elite, ketidakpedulian terhadap penderitaan rakyat
banyak) yang sudah berlangsung sejak lama di Indonesia adalah akibat dari
praktek-praktek Orde Baru. Seperti sama-sama kita saksikan sendiri,
kebejatan moral ini masih terus berlangsung sampai hari ini.
Dalam sejarah bangsa Indonesia penting sekali untuk dicatat bahwa Suharto
beserta Orde Barunya sudah mendatangkan kerusakan-kerusakan besar sekali
terhadap negara dan bangsa, baik yang berupa KKN maupun pelanggaran HAM.
Generasi-generasi bangsa yang akan datang perlu mengetahui dengan jelas
bahwa sejarah bangsa punya noda-noda hitam yang besar sekali, yang
diwujudkan oleh kehadiran Suharto (dan keluarganya) yang disokong oleh
sebagian pimpinan militer dan tokoh-tokoh Golkar (beserta
simpatisan-simpatisan terdekatnya), yang bersekutu dengan nekolim, terutama
imperialisme AS.
Karena itulah, kiranya, merupakan tugas atau kewajiban para intelektual,
para sejarawan, para sastrawan, para wartawan, para tokoh dari berbagai
golongan yang anti Orde Baru untuk terus-menerus mengangkat masalah
kebobrokan dan kejahatan Suharto beserta keluarganya di bidang politik,
pemerintahan, militer, yang antara lain meliputi masalah KKN dan pelanggaran
berat di bidang HAM. Sejarah bangsa kita akan membuktikan bahwa memblejeti
kejahatan atau mengutuk kebobrokan Suharto dan Orde Baru adalah perbuatan
yang benar, sah, adil dan mulia.
Sumbangan George Aditjondro
Sebaliknya, sejarah akan juga menunjukkan bahwa memuji-muji Suharto (beserta
keluarganya), atau mendiamkan kesalahan dan kejahatannya, atau melindungi
kebobrokan politik dan kebusukan moralnya, adalah sikap yang salah sama
sekali dan tidak menguntungkan kepentingan bangsa dan negara, termasuk
kepentingan generasi kita yang akan datang.
Dari segi inilah kita lihat betapa besar sumbangan tulisan George Junus
Aditjondro, yang sudah dibuat dalam tahun 1998, dan disiarkan kembali oleh
Tempo Interaktif 14 Mei 2004.
Dengan membaca tulisan ini, kita akan mendapat gambaran sedikit
banyaknya betapa luas dan bermacam-macamnya yayasan-yayasan yang
didirikan oleh Suharto beserta keluarganya. Seluruhnya, apa yang dinamakan
yayasan-yasasan itu berjumlah 40, yang meliputi bermacam-macam bidang,
termasuk bidang yang aneh-aneh (harap baca lengkapnya Yayasan-yayasan
Suharto .dalam website http://perso.club-internet.fr/kontak.)
Sejak Suharto sudah jatuh dalam tahun 1998, makin lama makin sedikit
terdengar tentang yayasan-yayasan keluarga Suharto (sengaja di sini
digunakan tanda kutip pada kata yayasan, karena pada hakekatnya,
yayasan-yayasan yang didirikan oleh keluarga Suharto itu, bertujuan untuk
hal-hal yang tidak saleh atau tidak berbudi luhur). Sejumlah
yayasan-yayasan itu sudah hilang tak tentu rimbanya (termasuk aset-aset atau
kekayaannya), sedangkan sebagian masih beroperasi dengan cara-cara yang
patut diragukan kebersihannya, dan sebagian lagi tinggal namanya saja.
Tetapi, bagaimana pun juga, dapat diperkirakan bahwa jumlah uang yang masih
dikuasai oleh keluarga Suharto (beserta orang-orang terdekatnya) masih cukup
besar, walaupun sebagian dana sudah disingkirkan atau disimpan di
tempat-tempat yang tidak gampang diketahui.
Laporan majalah mingguan TIME.
Untuk mendapat gambaran lain - yang juga amat menarik ! - tentang kekayaan
keluarga Suharto yang diperoleh dengan cara-cara tidak halal, dapat dibaca
laporan majalah minguan
TIME Asia tanggal 24 Mei 1999. Laporan panjang sekali ini, yang merupakan
investigative reporting (laporan yang bersifat investigasi penyelidikan)
diberi judul Suharto Incorporated. Karya ini adalah hasil penelitian yang
lama sekali (empat bulan) yang dilakukan di 11 negeri di dunia, dengan
dibantu oleh 5 ahli independen, untuk melacak kekayaan keluarga Suharto.
Laporan jurnalistik yang besar ini telah mendapat award (penghargaan)
sebagai best reporting dalam tahun 2000.oleh Society of Publishers in
Asia. Terjemahannya dalam bahasa Indonesia adalah, antara lain, yang
disiarkan oleh situs Edi Cahyono (yang disajikan juga dalam website
http://perso.club-internet.fr/kontak.). Penyajian kembali terjemahan laporan
majalah TIME ini adalah perlu sekali, ketika pengadilan Indonesia akan mulai
menyidangkan gugatan-gugatan terhadap yayasan-yayasan Suharto tidak lama
lagi
Sebab, dengan membaca laporan majalah TIME tanggal 24 Mei 1999 ini,
merupakan salah satu di antara banyak tulisan yang dengan gamblang menyoroti
masalah usaha-usaha Suharto beserta keluarganya untuk melarikan atau
menyembunyikan kekayaannya yang dikumpulkannya melalui cara-cara yang
tidak luhur selama puluhan tahun.
Dalam laporan itu disebutkan bahwa Suharto telah memindahkan uang sebanyak 9
miliar dollar AS dari bank Switzerland ke bank Austria. Juga bahwa di
Indonesia, enam anak Soeharto memiliki saham dalam jumlah signifikan
sekurang-kurangnya di 564 perusahaan, dan kekayaan luar negeri mereka
mencakup ratusan perusahaan-perusahaan lainnya.
Keluarga Soeharto juga memiliki sejumlah besar hiasan-hiasan berharga.
Selain itu, sebuah ranch untuk berburu seharga $ 4 juta di Selandia Baru and
memiliki setengah dari kapal pesiar (yatch) seharga $ 4 juta yang
ditambatkan di luar Darwin, Australia. Hutomo Mandala Putra (nama kecilnya
Tommy) putra terkecil, mempunyai 75 persen saham di sebuah lapangan golf 18
lubang dengan 22 apartemen mewahnya di Ascot, Inggris. Bambang Trihatmojo,
putra kedua Soeharto, memiliki sebuah penthouse seharga $ 8 juta di
Singapura dan sebuah rumah besar seharga $ 12 juta di sebuah lingkungan
esklusif di Los Angeles, letaknya dua rumah dari rumah bintang rock Rod
Steward dan hanya beda satu jalan dari rumah saudaranya Sigit Harjoyudanto
yang bernilai $ 9 juta.
Setelah melakukan ratusan wawancara dengan teman-teman Soeharto, baik yang
dahulu mau pun sekarang, pegawai pemerintah, kalangan bisnis, ahli-ahli
hukum, akuntan-akuntan, bankir-bankir dan keluarga mereka, serta meneliti
berlusin-lusin dokumen (termasuk catatan-catatan Bank tentang pinjaman luar
negeri terbesar), para koresponden TIME menemukan indikasi bahwa
sekurang-kurangnya $ 73 milyar melewati tangan-tangan keluarga Soeharto
antara tahun 1996 hingga tahun lalu (1998) Sebagian besar berasal dari
pertambangan, perkayuan, komoditi-komoditi dan industri-industri
perminyakan. Investasi-investasi buruk dan krisis keuangan di Indonesia
telah menurunkan jumlah kekayaan tersebut. Tetapi bukti mengindikasikan
bahwa Soeharto dan enam anaknya tetap memiliki kekayaan $ 15 milyar tunai,
saham.saham, modal-modal perusahaan, real estate, perhiasan dan benda-benda
seni (Harap baca bahan selengkapnya dalam artikel majalah TIME 24 Mei
1999).
Suharto beserta keluarganya adalah sampah bangsa
Meskipun laporan majalah TIME ini sudah dibuat 8 tahun yang lalu, dan juga
meskipun mungkin sekali berbagai data atau fakta yang tercantum di dalamnya
sekarang sudah mengalami perubahan, tetapi toh laporan besar ini tetap
menarik untuk disimak kembali. Ini penting untuk mendapat gambaran yang
jelas bahwa Suharto (beserta keluarganya) memang benar-benar orang-orang
yang tidak patut dihormati, tidak pantas disegani, apalagi disajung-sanjung,
seperti yang terjadi selama puluhan tahun Orde Baru. Dari tulisan George
Aditjondro dan laporan besar majalah TIME itu saja banyak orang sudah dapat
menyimpulkan bahwa Suharto beserta keluarganya adalah sampah bangsa, yang
tidak saja menimbulkan bau busuk, melainkan juga menyebarkan penyakit,
sehingga bangsa dan negara menjadi rusak seperti sekarang ini.
Setelah ia dipaksa untuk meletakkan jabatan sebagai presiden RI, dan tidak
lagi maha-kuasa seperti selama 32 tahun Orde Baru, makin banyak orang yang
melihat berbagai dosa dan kesalahan-kesalahannya atau kejahatannya. Tidak
saja bahwa ia sudah mengkhianati Bung Karno dan revolusi Indonesia dan
bersekutu dengan imperialisme AS, melainkan juga bahwa ia ternyata sudah
menjadi maling yang terbesar dalam sejarah bangsa.
Karena itu, meskipun sekarang masih saja ada sisa-sisa benggolan-benggolan
Orde Baru yang tetap memuja-muja Suharto, tetapi makin banyak juga yang
menjauhinya atau malu berhubungan secara terang-terangan dengannya atau
anak-anaknya. Suharto dan keluarganya sudah makin terkucil dari masyarakat
luas, dan hanya hidup (dengan mewah sekali !) dalam lingkungan-lingkungan
yang tertutup dan terbatas.
Perkembangan sudah menunjukkan bahwa nasib Suharto beserta keluarganya
akhirnya akan mirip dengan nasib penguasa-penguasa korup di dunia, seperti
presiden Filipina Ferdinand Marcos, kaisar dari Ethiopia Haila Selassi,
presiden dari Conggo Mobutu Sese Seko, dan diktator dari Haiti yang bernama
Duvallier.
Sejarah bangsa Indonesia akan menjadi saksinya !!!
Paris, 14 Februari 2007
--
No virus found in this outgoing message.
Checked by AVG Free Edition.
Version: 7.5.441 / Virus Database: 268.17.37/682 - Release Date: 12/02/2007
13:23